Iptek


Majalah ilmiah terkemuka, Nature, pada edisi tanggal 19 Juni 2008 melaporkan telah diselesaikannya proyek pembacaan genom (genome sequencing project) dari ikan lanset (B. Inggris: lancelet / amphioxus, Latin: Branchiostoma sp.). Proyek pembacaan genom ini adalah suatu kegiatan lintas-negara yang merupakan suatu kerjasama antara tim-tim peneliti dari Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Swiss, dan Spanyol. Apa keunikan ikan lanset ini sehingga proyek pembacaan genom-nya diprioritaskan?

Apa itu ikan lanset?

Ikan lanset, walaupun pada namanya digunakan kata “ikan”, bukanlah ikan seperti yang dipelihara maupun dikonsumsi. Ikan yang biasa kita kenal merupakan suatu kelompok mahluk hidup yang termasuk dalam kelompok mahluk hidup bertulang-belakang (vertebrata). Tetapi ikan lanset bukan termasuk dalam kelompok vertebrata maupun invertebrata (mahluk tanpa tulang belakang) sehingga sering disebut sebagai “mahluk perbatasan” atau kyoukai doubutsu dalam bahasa Jepang. Ikan lanset memiliki kelompok tersendiri, yang disebut sebagai Cephalochordata. Kelompok ikan yang termasuk ke dalam Cephalochordata ini termasuk dalam kelompok hewan yang disebut Chordata, yaitu kelompok hewan yang memiliki notochorda, yaitu suatu struktur berbentuk pipa yang terdapat di daerah punggung pada saat pembentukan embrio awal. Yang termasuk di dalam chordata adalah ikan lanset (cephalochordata), nanas laut (urochordata), dan hewan bertulang-belakang (vertebrata). Ikan lanset dan nanas laut dikenal sebagai “Chordata yang bukan vertebrata”.

Ikan lanset ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1774 oleh P. S. Pallas, seorang ilmuwan dari Jerman. Namun dalam laporannya Pallas mengklasifikasikannya sebagai sejenis siput (Yasui & Kubokawa, 2005). Oleh sebab itulah nama Jepang dari mahluk ini adalah “namekuji-uo”, yang berarti ikan siput. Pada tahun 1834 O. G. Costa mengelompokan salah satu kerabat dari ikan lanset ini sebagai suatu jenis ikan baru dengan nama genus Branchiostoma ? yang menjadi salah satu penyebab mengapa nama mahluk ini disebut sebagai “ikan” dalam bahasa Indonesia. Baru pada tahun 1836, Yarrell mengelompokkannya sebagai mahluk yang dekat dengan ikan-ikan agnatha (“tanpa-rahang”), yang tidak memiliki rahang, tanpa mata, tanpa sirip perut dan dada. Sebagai catatan, ikan-ikan agnatha adalah kelompok ikan yang dianggap sebagai mahluk bertulang-belakang yang “paling kuno”. Klasifikasi Yarrell ini pada jamannya bisa dianggap paling maju, karena hanya dengan petunjuk morfologis (bentuk luar tubuh) yang relatif minim, mampu menempatkan ikan lanset pada posisi basal dari kelompok mahluk bertulang-belakang. Nama ilmiah yang diperkenalkan oleh Yarrell, Amphioxus lanceolatus, yang berarti “tombak kecil (lanceolatus) bermata di dua ujung (amphioxus)”, yang dipakai dalam bahasa inggris sebagai nama umum (amphoxus / lancelet). Pada tahun 1867 A. Kowalevsky di menempatkan ikan lanset dalam posisi sekarang, yaitu sebagai Cephalochordata, dan mengajukan pendapat bahwa ikan lanset adalah kerabat terdekat mahluk bertulang belakang. Klasifikasi modern ikan lanset, terutama yang menggunakan marker molekuler seperti DNA mitokondria dan nukleus (inti sel), juga menempatkannya dalam kelompok Chordata.

Gbr. 1. Ikan lanset yang diawetkan. Foto diambil dari homepage Universitas Susquehanna.

Ikan lanset diperkirakan sudah berada di bumi ini sejak lebih dari 500 juta tahun yang lalu, yaitu pada jaman Cambrian. Fosil ikan lanset banyak ditemukan dan salah satunya yang terkenal adalah fosil Pikaia gracilens yang ditemukan di tempat pengambilan fosil sangat purba Burgess Shale di Kanada. Fosil hewan serupa juga ditemukan di Haikou, China (Shu et al., 1999).

Kelompok ikan lanset diperkirakan terdiri dari 3 genera (Epigonichthys, Branchiostoma, dan Asymmetron; Kon et al., 2007), dan sekitar 50 spesies. Bentuk fisik dan pola hidup kedua genera ini sangat mirip. Namun, hasil penelitian terbaru dengan menggunakan DNA mitokondria sebagai marker molekuler (penjelasan tentang marker molekuler dapat dilihat di bawah) menunjukkan bahwa ikan lanset, walaupun bentuk dan pola hidupnya sangat mirip, terdiri dari berbagai kelompok yang secara genetik sangat berbeda dan terpisah jauh (Kon et al., 2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan lanset tetap mempertahankan bentuk luar tubuhnya yang seperti tusuk gigi walaupun telah menempuh evolusi dalam waktu yang sangat lama, atau minimal sama panjangnya dengan berbagai hewan lain. Padahal, seperti yang kita ketahui, hewan-hewan lainnya seperti ikan bersirip (Actinopteygii), hewan menyusui (Mammalia), dan serangga (Insecta) memvariasikan bentuk tubuh hingga sangat beraneka ragam.

Gbr. 2. Diagram yang menggambar- kan struktur tubuh ikan lanset. Gambar diambil dari homepage Universitas Winnipeg.

Klasifikasi Deuterostomia: suatu perjalanan mencari asal-usul hewan bertulang-belakang

Untuk mengetahui mengapa ikan lanset dianggap sebagai mahluk hidup yang penting dalam penelitian biologi, kita perlu mengetahui posisinya dalam pengelompokan atau klasifikasi hewan yang benar. Klasifikasi yang benar, yang didasari atas hubungan kekerabatan / filogeni, akan memberikan gambaran evolusi yang jelas, yang nantinya dapat digunakan untuk menginferensi berbagai proses evolusi yang terjadi pada ikan lanset dan kerabatnya, termasuk hewan bertulang-belakang dan manusia.

1. Apa itu klasifikasi dan filogeni?

Seperti yang kita ketahui, mahluk hidup dikelompokan dengan mahluk hidup yang memiliki ciri-ciri / keunikan yang sama. Misalnya, kucing dikelompokan bersama kucing, yang disebut sebagai spesies kucing. Lalu, kelompok kucing ini dikelompokan lagi bersama dengan kelompok anjing dan kelompok beruang yang kemudian disebut sebagai ordo caniformia, atau kelompok hewan pemakan daging. Proses pengelompokan ini disebut sebagai “klasifikasi”. Sedangkan, hubungan filogenetik / kekerabatan adalah hubungan antara suatu mahluk hidup dengan orang-tuanya, seperti hubungan silsilah. Jika kita runut silsilah hingga ke masa silam, kita bisa mencapai nenek-moyang suatu mahluk hidup. Jika kita merunut sedemikian jauh ke masa silam, kita mungkin bisa merunut seluruh mahluk hidup / kelompok besar mahluk hidup (seperti berbagai jenis hewan), dan mencapai / menginferensi nenek moyang-nya. Hubungan antara klasifikasi dan filogenetik akan dijelaskan dibawah.

Pengklasifikasian mahluk hidup umumnya menggunakan beberapa parameter yang dijadikan sebagai “penanda / ciri-ciri” kemiripan anggota dalam kelompok tersebut. Penanda tersebut umumnya berupa ciri-ciri yang dapat dilihat dari luar, misalnya bentuk tubuh / morfologi, fisiologi, tingkahlaku, habitat, dll. Misalnya, dalam kelompok kucing kita melihat adanya taring, kuku yang bisa ditarik masuk, suara mengeong, dsb. Dalam biologi kontemporer, seringkali untaian DNA juga dipakai sebagai penanda pengklasifikasian. Dalam setiap mahluk hidup pasti terdapat DNA, yang merupakan zat pembawa keturunan. (Gen adalah bagian dari untaian DNA yang mengandung informasi keturunan, dan kumpulan gen minimal yang dibutuhkan oleh satu mahluk hidup untuk hidup normal disebut genom). Karena setiap mahluk hidup itu berasal dari nenek-moyang yang sama, seringkali banyak dijumpai gen yang sama pada mahluk yang berbeda. Misalnya, gen pax6 ditemukan pada lalat, tikus, dan manusia, dan bahkan mempunyai fungsi yang sama dalam pembentukan mata. Walaupun nenek-moyangnya sama dan gen yang sama digunakan, akan tetapi karena waktu berevolusi-nya sudah sangat lama / terpisah jauh, tetap saja akan terdapat mutasi-mutasi dalam gen tersebut (khususnya pada bagian yang tidak krusial) yang menyebabkan untaian DNA-nya berbeda. Perbandingan gen-gen inilah yang kemudian digunakan sebagai penanda dalam pengklasifikasian mahluk hidup (penanda seperti ini disebut sebagai marker molekuler).

Contoh 1:

Pada contoh 1, kita dapat melihat jika untaian DNA yang dimiliki oleh mahluk A dan D lebih dekat daripada mahluk B dan C, kita bisa mengelompokan (mengklasifikasikan) A dan D dalam satu kelompok, dan B dan C dalam satu kelompok. Walaupun anggota dalam satu kelompok (mis. A dan D) memiliki perbedaan di beberapa asam nukleat (untuk A dan D: mis. pada kolom ke 5, atau untuk B dan C, pada kolom 5, 22, 25), namun sebagian besar dari untaian asam nukleat-nya mirip, sehingga dapat dikelompokan dalam suatu kelompok yang sama. Lalu, dari pengelompokan ini pun, berdasarkan jumlah kemiripan dan perbedaan asam nukleat dalam untaian DNA yang kita bandingkan, kita dapat menginferensi hubungan kekerabatan / filogeni dari mahluk-mahluk yang diperbandingkan.

Contoh 2:

Pada contoh 2, dari jumlah perubahan asam nukleat (komponen / mata rantai untaian DNA) yang terjadi, kita apat menginferensi, jika mahluk B dan C berhubungan kekerabatan lebih dekat dibandingkan dengan A. Maka dapat diperkirakan bahwa hubungan filogenetiknya adalah sebagai berikut:

Dari filogeni (diagram hubungan filogenetik / kekerabatan) ini, bisa disimpulkan beberapa hal:

1. A, B, dan C berasal dari satu nenek-moyang (yang mungkin sudah punah), yaitu X

2. B dan C berasal dari satu nenek-moyang, Y

3. Nenek moyang A lebih dulu “berpisah” dari X dan Y, dan berevolusi menjadi satu kelompok tersendiri

4. Secara klasifikasi, kita dapat mengatakan bahwa B-C berada dalam satu kelompok klasifikasi, dan A merupakan kelompok terpisah.

Jika kita menggunakan lebih banyak sampel dalam analisis filogenetik kita (kali ini, misalnya, contoh-contoh hewan dalam Contoh 1 dan Contoh 2 diatas), akan didapatkan sebuah “pohon” filogenetik seperti berikut:

Dari hasil ini kita dapat menginferensi, pengelompokan mahluk hidup / hubungan kekerabatan yang seperti berikut:

1. Ada dua kelompok besar, yaitu kelompok I yang terdiri dari E, F, dan G (latar belakang merah) dan kelompok II yang terdiri dari A, B, C, dan D (latar belakang biru).

2. Dalam kelompok I, F dan G berkerabat dekat (hubungan “sister relationship”). E adalah kerabat dekat dari kelompok F+G.

3. Kelompok II terbagi lagi menjadi 2 kelompok, yaitu A+D dan B+C.

4. Kelompok I berasal dari satu nenek-moyang “putatif” (X), dan kelompok II berasal dari (Y)

5. X dan Y berasal dari satu nenek moyang awal (O)

Dari contoh-contoh ini dapat dilihat bahwa hubungan kekerabatan / hubungan filogenetik dapat memberikan “dasar” klasifikasi mahluk hidup yang lebih tepat, sesuai dengan kemiripannya baik secara genetik (lewat DNA dan penanda molekuler lainnya) maupun secara morfologis. Pengklasifikasian mahluk hidup yang disesuaikan dengan hubungan filogenetik ini, yang disebut sebagai “klasifikasi natural” (versus klasifikasi artifisial yang umumnya bersifat anthropocentric) dikenal juga dengan bidang ilmu Kladistika atau Sistematika. Hubungan filogenetik menunjukan hubungan kekerabatan, dan hubungan kekerabatan menunjukan pula hubungan evolusi, maka pengklasifikasian yang berdasarkan hubungan filogenetik ini lazim dianggap lebih “benar”, karena mampu menjelaskan evolusi berbagai karakter, sifat, dan ciri-ciri suatu mahluk hidup, serta menunjukkan “kedekatan” suatu mahluk hidup yang satu dengan lainnya sesuai dengan hubungannya di alam.

Sebagai tambahan, hubungan kekerabatan yang diinferensi dari penanda molekuler, ataupun gabungan antara penanda molekuler dan ciri-ciri morfologis dianggap jauh lebih tepat dan lebih “natural / alamiah” dibandingkan dengan yang diinferensi hanya dari sifat-sifat morfologis dan kasat-mata lainnya. Umumnya para ilmuwan menamakan hubungan kekerabatan lewat sifat morfologis sebagai “pola pandang tradisional”. (Diskusi yang lebih detil mengenai filogenetik dan inferensinya, serta perbandingan secara morfologis dan molekuler, akan didiskusikan pada kesempatan lain.)

2. Pengelompokan Hewan

Jika kita ingat pelajaran biologi SMA (khususnya kurikulum 1994), kita belajar bahwa mahluk hidup itu terbagi dalam beberapa kelompok besar, yang disebut sebagai “kerajaan” atau “kingdom” (atau regnum dalam bahasa latin). Misalnya, semua tumbuhan di muka bumi dikelompokan dalam satu kerajaan yang disebut sebagai “Regnum: Plantae”, dan semua hewan, baik yang bersel-satu maupun yang multi-selular, dikelompokan dalam Kerajaan Hewan, atau Regnum: Animalia. Kemudian, Regnum Animalia ini dibagi-bagi lagi menjadi sekitar 30 kelompok besar hewan, yang dibagi berdasarkan “bodyplan / bauplane”. Kelompok besar ini disebut “phylum” (jamak: phyla).

Gbr. 3. Hubungan kekerabatan / filogeni hewan. (A) Diagram pohon kekerabatan berdasarkan morfologi dan embriologi yang merupakan pola pandang “klasik”; (B) Diagram kekerabatan berdasarkan penanda molekuler. Pola ini dianggap sebagai pola pandang “modern”. Gambar diambil dari Adoutte et al., 2000.

Pengelompokan kedalam phyla ini, sesuai dengan jalannya waktu, sudah berubah banyak. Pada biologi klasik, kita mengenal pengelompokan hewan berdasarkan rongga tubuh yang disebut “coelom”. Ketigapuluh-sekian phyla hewan di kelompokan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Acoelomata (“tidak berongga”), Pseudocoelomata (“berongga semu”), dan Coelomata (“berongga). Anggapan para ilmuwan dahulu, evolusi mahluk hidup ini secara garis besar bisa dilihat dari terbentuknya coelom saat perkembangan embrio: yang tak-berongga itu kuno, lalu terjadi sedikit perubahan dan timbul mahluk berongga, dan terakhir barulah timbul hewan berongga-tubuh sejati. Anggapan ini sesuai dengan pandangan para ahli jaman dahulu yang cenderung memasukan filsafat “supernatural / keagamaan” kedalam ilmu pengetahuan alam, yaitu pola pikir “scala naturae” (tangga alam), dimana mahluk hidup itu berevolusi / berubah sesuai dengan tingkat kerumitan strukturnya, dari yang sederhana perlahan-lahan menjadi yang rumit.

Namun, berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan berbagai marker molekuler, dan penelitian ulang sifat-sifat morfologis, saat ini para ilmuwan menerima pengelompokan hewan yang baru. Pengelompokan yang baru ini menganggap kalau sifat pembentukan coelom itu tidak dapat dijadikan dasar yang kuat untuk mengelompokan ketigapuluh sekian phyla hewan. Banyak hewan-hewan yang dianggap primitif malah memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan hewan yang dianggap sangat modern (Adoutte et al., 2000; Halanych, 2004; Philippe et al., 2005; 2007).

Misalnya, pada Gambar 3B, bisa kita lihat bahwa pengelompokan hewan menjadi demikian: Hewan dibagi menjadi dua, non-bilaterian [(3 kelompok dalam kotak kuning; Ubur-ubur sisir (Ctenophora), Ubur-ubur (Cnidaria), dan hewan karang (Porifera)] dan Bilateria (hewan yang simetris sisi kiri dan kanannya). Hewan Bilateria ini terbagi lagi menjadi 2 kelompok berdasarkan pola perkembangan embrionya: Deuterostomia (termasuk di dalamnya: vertebrata), dan Protostomia. Protostomia kemudian terbagi lagi menjadi 2 kelompok besar, Lophotrochozoa dan Ecdysozoa.

Jika diperhatikan dan dibandingkan dengan teliti Gambar 3A dan 3B, dapat ditemukan bahwa banyak hewan-hewan yang sebelumnya dianggap sebagai acoelomata pada 3A akan tetapi masuk ke dalam Lophotrochozoa pada 3B, dan hewan-hewan pseudocoelomata pada 3A, pada diagram 3B ada sebagian yang masuk ke Lophotrochozoa, dan ada sebagian yang masuk ke Ecdysozoa (Aguinaldo et al., 1997; Halanych et al., 1995). Pengelompokan yang baru ini, yang umumnya berdasarkan hasil studi molekuler, ternyata mampu menjelaskan evolusi berbagai sifat-sifat dan karakter yang ditemukan dalam berbagai phyla hewan. 3. Pengelompokan Deuterostomia Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hewan bertubuh simetri bilateral (Bilateria) terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu Deuterostomia dan Protostomia. Pembagian ini didasarkan pada pola pembentukan embrio di awal perkembangan janin. Pertama-tama, mari kita diskusikan dahulu apa yang dimaksud dari penamaan “deuterostomia”. Kata “deuterostomia” ini berasal dari bahasa yunani yang berarti “mulut belakangan”. Istilah ini berasal dari perilaku sel pada saat pembentukan embrio. Pada masa-masa awal pembentukan embrio, ketika si janin masih terdiri dari beberapa-ratus sel dan berbentuk bola, di salah satu sisi embrio akan timbul suatu tonjolan dan belahan. Dari belahan ini, yang membentuk lubang, sebagian sel akan migrasi ke dalam bola dan membentuk lapisan “dalam” tubuh. Akibat dari proses ini akan terbentuk rongga tubuh (coelom), yang disebutkan di awal artikel ini. Pada hewan deuterostom, “lubang” tempat masuk dan migrasi-nya sel-sel ini (yang disebut blastopore) nantinya akan berkembang dan berfungsi menjadi anus (dan rongga nya menjadi rongga dalam tubuh / saluran pencernaan). Mulut akan terbentuk “belakangan”, yaitu ketika pembentukan rongga berlanjut hingga terbentulah lubang kedua di sisi lawan dari lubang blastopore ini. Itulah sebabnya hewan-hewan yang memiliki pola perkembangan embrio awal seperti ini, dinamakan “mulut belakangan”, karena pertama-tama yang terbentuk adalah anus, dan mulut terbentuk kemudian atau “belakangan”. Sebaliknya, pada hewan Protostomia, lubang blastopore justru akan menjadi mulut, dan lubang di sisi berlawanan yang terbentuk belakangan akan menjadi anus (Gambar 4).

Gbr. 4. Perbedaan pola pembentukan embrio awal, antara Deuterostomia dan Protostomia. Gambar diambil dari www.palaeos.com.

Hewan deuterostomia ini terdiri dari beberapa phyla hewan. Beberapa hewan yang secara tradisional “dianggap” sebagai deuterostomia, namun setelah diteliti dengan mempergunakan marker molekular, ternyata jelas bukan merupakan deuterostomia, tapi lebih berkerabat dekat dengan hewan-hewan protostomia (mis. Halanych, 2004). Saat ini, kelompok hewan yang dikelompokan sebagai deuterostomia adalah: Xenoturbellida, Echinodermata, Hemichordata, Urochordata, Cephalochordata, dan Vertebrata (Craniata) (Gambar 5).

Gbr. 5. Foto contoh-contoh mahluk yang termasuk dalam kelompok Deuterostomia. Gambar diambil dari homepage Universitas Kalifornia di Berkeley.

Hubungan antar anggota di dalam Deuterostomia, sesuai dengan bertambahnya data-data dari pelbagai hasil penelitian, juga telah berubah jauh. Salah-satu perubahan yang paling awal dan nyata adalah posisi Hemichordata (Gambar 6B) dan ditempatkannya Xenoturbellida (Gambar 6A) sebagai anggota Deuterostomia. Sebelumnya, Hemichordata dianggap sebagai hewan chordata primitif. Hewan chordata adalah hewan yang pada sebagian atau keseluruhan masa hidupnya memiliki struktur pipa pada bagian punggungnya yang disebut notochorda. Pada hewan bertulang belakang, notochorda hanya terlihat pada masa perkembangan janin, karena selanjutnya struktur ini akan berdiferensiasi, dan digantikan oleh tulang belakang. Pada Hemichordata, dahulu diperkirakan ada struktur notochorda primitif yang disebut sebagai stomochorda (Gee, 1996). Namun penelitian selanjutnya menemukan bahwa stomochorda bukan notochorda, dan bahwa hewan-hewan Hemichordata berkerabat erat dengan hewan-hewan berkulit duri (Echinodermata) seperti landak laut dan bintang laut, membentuk kelompok yang disebut Ambulacraria (Halanych, 2004).

Gbr. 6. (A) Xenoturbella bocki; (B) Salah satu species Hemichordata, “acorn worm”. (A) diambil dari http://www.kanshin.com, dan (B) dari Wikipedia.

Xenoturbellida adalah salah satu phylum mahluk hidup yang baru dibentuk, sesuai dari hasil penelitian kelompok peneliti yang dipimpin oleh Max Telford di Inggris (Bourlat et al., 2003; Bourlat et al., 2006). Sejarah pengelompokan Xenoturbellida (akhirnya) ke dalam Deuterostomia sangat menarik, karena kita bisa melihat juga “akibat” dari kecerobohan dan kontaminasi saat percobaan. Xenoturbellida dikenal dari 2 species, yaitu Xenoturbella bocki dan westbladi, yang bentuk tubuhnya menyerupai cacing yang hidup di laut. Beberapa peneliti kemudian mengajukan hipotesis hubungan kekerabatan dengan Hemichordata dan Echinodermata, sesuai dengan kemiripan struktur jaringan saraf dan struktur epidermal, dan beberapa peneliti mengajukan kedekatannya dengan cacing pipih, sesuai dengan ketidakberadaan coelom. (Bourlat et al., 2003). Pada tahun 1997, dua laporan berdasarkan studi molekuler dan ekologis menemukan bahwa Xenoturbella adalah sejenis hewan bertubuh-lunak atau Mollusca (Noren et al., 1997; Israelsson et al., 1997; Ueshima, HP. Univ. Tokyo).

Namun kemudian diketahui ternyata Xenoturbella adalah hewan pemangsa embrio / telur hewan bertubuh-lunak, dan sampel yang dipergunakan dalam kedua studi sebelumnya, baik molekular maupun sampel embrio, adalah sampel yang terkontaminasi hewan moluska yang dimangsa oleh Xenoturbella. Penelitian lanjutan dengan menggunakan salahsatu marker pendek, SSU DNA (Bourlat et al., 2003), dan dengan beberapa gen multipel yang digabung menjadi suatu marker molekuler berukuran panjang (Bourlat et al., 2006) menempatkan Xenoturbella pada posisi filogenetik yang berdekatan dengan Ambulacraria (Echinodermata + Hemichordata), dan menjadikannya sebagai satu phylum baru yang dinamakan Xenoturbellida, yang menjadi kerabat dekat (sister group) dari Ambulacraria. Namun demikian, pelbagai penelitian yang dilakukan tidak mengubah penempatan tiga dari enam kelompok dalam Deuterostomia: Urochordata (nanas laut), Cephalochordata (ikan lanset), dan Vertebrata (tiga lainnya adalah Xenoturbellida, Echinodermata dan Hemichordata). Hanya saja, hubungan antara ketiganya tidak jelas dan tidak pasti. Penyebab ketidak-pastian hubungan ini disebabkan karena seringkali dalam sejumlah penelitian tersebut, tidak diikutsertakannya banyak sampel hewan penting (ukuran sampel takson terlalu kecil), terlalu kecilnya ukuran marker sehingga tidak mampu “mengorek” masa lalu yang terlalu jauh, atau karena adanya “noise” yang terlalu banyak dalam data-data sikuens / untaian marker DNA yang digunakan (Lartillot dan Phillipe, 2008). Kemungkinan lain adalah terjadinya “ledakan” evolusi di masa lalu (mis. Ledakan Cambrian / Cambrian explosion), dimana pelbagai jenis phylum mahluk hidup muncul dalam waktu yang secara geologis relatif singkat (Conway-Morris, 2000), sehingga marker yang pendek tidak dapat sehingga marker yang pendek tidak bisa menghasilkan pohon filogenetik yang terpecahkan (memilki resolusi yang baik / resolved), yang didukung oleh nilai probabilistik yang cukup untuk dianggap signifikan. Nilai dukungan probabilistik yang mendukung suatu topologi (bentuk percabangan) dalam suatu pohon filogenetik sangat penting untuk melihat apakah pohon silsilah yang dihasilkan itu bisa “dipercaya” atau tidak.

Pelbagai laporan menggunakan marker molekular berukuran pendek, maupun kajian ulang morfologis, menyatakan bahwa kerabat terdekat hewan bertulang-belakang adalah Cephalochordata, atau ikan lanset (mis. Winchell et al., 2000). Namun, sinyal filogenetik yang mendukung keutuhan kelompok ini sangat lemah, sehingga tidak dapat dipastikan, apakah kelompok ini benar-benar valid, atau ada topologi lain yang perlu dipertimbangkan. Sebenarnya, salah satu penyebab mengapa keutuhan kelompok Chordata dengan tiga anggotanya, yaitu Urochordata, Cephalochordata, dan Vertebrata tidak terdukung kuat secara probabilistik, disebabkan oleh keberadaan Urochordata, yang dikenal memiliki struktur morfologis dan fisiologis, gaya hidup, sifat-sifat dan karakter, dan bahkan struktur genom yang sangat unik, dan evolusi molekuler yang tergolong sangat cepat.

Gbr. 7. (A) Pengelompokan hewan deuterostomia “klasik”, yang umumnya berdasarkan ciri-ciri morfologis dan embriologis. Dalam pengelompokan klasik, Xenoturbella tidak termasuk ke dalam Deuterostomia, dan Deuterostomia sensu lato menyertakan pelbagai mahluk yang dikemudian hari dikelompokan kedalam Protostomia; (B) Pengelompokan hewan deuterostomia “modern”, yang umumnya didukung oleh data-data molekular. Perhatikan bahwa baik dalam A maupun B, Cephalochordata (ikan lanset) menjadi kerabat terdekat (sister group) dari Craniata (Vertebrata). Gambar diambil dan diolah dari Halanych, 2004.

(Bersambung ke Bagian Kedua)

Ucapan terima-kasih

Penulis ingin mengucapkan terima-kasih sedalam-dalamnya, pada rekan-rekan (sesuai urutan abjad) Arief Darmawan (U. Tokyo / UNILA), Amzul Rifin (U. Tokyo / IPB), Lukytawati Anggraeni (U. Tokyo / IPB), dan Tatang Sopian (TUAT / Dep. Hut.) atas berbagai saran dan petunjuk untuk meningkatkan kualitas naskah artikel ini.

Referensi (Sesuai urutan Abjad)

1. Adoutte A, Balavoine G, Lartillot N, et al., 2000. The new animal phylogeny: Reliability and implications. Proc. Nat. Acad. Sci. 97 (9), pp. 4453-4456.

2. Bourlat SJ, Nielsen C, Lockyer AE, et al., 2003. Xenoturbella is a deuterostome that eats molluscs. Nature 424, pp. 925-928.

3. Bourlat SJ, Juliusdottir T, Lowe CJ, et al, 2006. Deuterostome phylogeny reveals monophyletic chordates and the new phyloum Xenoturbellida. Nature 444, pp. 85-88.

4. Conway-Morris S, 2000. The Cambrian “explosion”: Slow-fuse or megatonnage? Proc. Nat. Acad. Sci. 97(9), pp. 4426-4429.

5. Gee, H., 2001. Sekitsui Doubutsu no kigen (Original English title: Before the backbone: views on the origin of the vertebrates (1996); translated to Japanese by Fujisawa Hirosuke). Baifuukan Press, Tokyo, Japan. ISBN 4-563-07750-X.

6. Halanych KM, Bacheller JD, Aguinaldo AMA, et al., 1995. Evidence from 18S ribosomal DNA that the lophophorates are protostome animals. Science 267, pp. 1641-1643.

7. Halanych KM, 2004. The new view of animal phylogeny. Annu. Rev. Ecol. Evol. Syst. 35, pp. 229-256.

8. Israelsson O, 1997. … and molluscan embryogenesis. Nature 390, pp. 32.

9. Kon T, Nohara M, Yamanoue Y, et al., 2007. Phylogenetic position of a whale-fall lancelet (Cephalochordata) inferred from whole mitochondrial genome sequences. BMC Evol. Biol. 7:127.

10. Kubokawa K, 2001. Namekuji-uo no Seibutsugaku (Biology of the lancelets ? in Japanese). The Journal of Reproduction and Development 47 (6).

11. Lartillot N, Philippe H, 2008. Improvement of molecular phylogenetic inference and the phylogeny of Bilateria. Phil. Trans. R. Soc. B 363, pp. 1463-1472.

12. Noren M, Jondelius U, 1997. Xenoturbella’s molluscan relatives… . Nature 390, pp. 31-32.

13. Philippe H, Lartillot N, Brinkmann H, 2005. Multigene analyses of Bilaterian animals corroborate the monophyly of Ecdysozoa, Lophotrochozoa, and Protostomia. Mol. Biol. Evol. 22 (5), pp. 1246-1253.

14. Philippe H, Brinkmann H, Martinez P, et al., 2007. Acoel flatwors are not Platyhelminthes: Evidence from Phylogenomics. PLoS ONE 2(8): e717.

15. Putnam NH, Butts T, Ferrier DEK, et al., 2008. The amphioxus genome and the evolution of the chordate karyotype. Nature 453, pp. 1064-1071.

16. Shu DS, Luo HL, Conway-Morris S, et al., 1999. Lower Cambrian vertebrates from South China. Nature 402, pp. 42-46.

17. Ueshima R, unknown. Nazo no doubutsu, Chin-Uzumushi (A mysterious animal, Xenoturbella ? in Japanese). Toukyou Daigaku Rigakubu News, Jikken-seibutsu Monogatari Series (7), http://www.s.u-tokyo.ac.jp/ken/story/07.html

18. Winchell J, Sullivan J, Cameron CB, et al., 2002. Evaluating hypotheses of Deuterostome phylogeny and Chordate evolution with new LSU and SSU ribosomal DNA data. Mol. Biol. Evol. 19 (5), pp. 762-776.

19. Yasui K, Kubokawa K, 2005. Namekuji-uo: Tousaku Doubutsu no Seibutsugaku (Lancelets: Biology of Cephalochordates ? in Japanese). University of Tokyo Press, Tokyo, Japan. ISBN 4-13-066154-X.

20. Foto awetan ikan lanset dari homepage Universitas Susquehanna, USA: http://comenius.susqu.edu/bi/202/Animals/DEUTEROSTOMES/cephalochordata/Cephalochordata.html

21. Diagram struktur tubuh ikan lanset dari homepage Universitas Winnipeg, Canada: http://io.uwinnipeg.ca/~simmons/16cm05/1116/chordate.htm

22. Gambar perbedaan perkembangan embrio pada Deuterostomia dan Protostomia: http://www.palaeos.com/Invertebrates/Deuterostomia/Deuterostomia.htm

23. Foto contoh hewan anggota Deuterostomia: http://www.ucmp.berkeley.edu/phyla/deuterostomia.html

24. Foto Xenoturbella bocki: http://www.kanshin.com/keyword/1039781

25. Foto “acorn worm”: http://en.wikipedia.org/wiki/Hemichordata
Davin H. E. Setiamarga. Department of Biological Sciences, Graduate School of Sciences, The University of Tokyo ; Ocean Research Institute, The University of Tokyo ; e-mail: davin@ori.u-tokyo.ac.jp


Ancaman kekeringan meluas. Demikian judul tulisan di sebuah Surat Kabar nasional, Mei silam. Isinya kurang lebih menjelaskan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi musim kemarau tahun ini yang lebih kering. Tulisan hasil liputan wartawan dan wawancara dengan narasumber itu, cukup membuat saya dan beberapa rekan di lembaga penelitian iklim, terperangah. Tergelitik untuk mengungkap lebih jauh fakta meteorologi seputar musim kemarau tahun ini, saya menulis artikel ini.  

Ancaman Puso

Mulai awal Juni 2008, Indonesia memasuki musim kemarau. Pergantian musim hujan menjadi kemarau biasanya memang terjadi di Bulan Juni, setelah melewati masa pancaroba sekitar April-Mei. Di bulan Juni pula, umumnya para petani mulai memanen padi. Namun, apa yang terjadi ketika para petani seharusnya berpanen raya? Ratusan bahkan ribuan hektar tanaman padi yang hendak dipanen itu terancam puso (gagal panen) karena tidak memperoleh siraman air yang cukup.

Kondisi menyedihkan terjadi di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Sedikitnya 400 hektar tanaman padi di Kabupaten Indramayu mengalami gagal panen (pikiran-rakyat, 16/6). Seluas 182 hektar tanaman padi di Kabupaten Cianjur bernasib sama (pikiran-rakyat, 22/6). Bahkan, ancaman puso yang meluas terjadi di Propinsi Banten. Sekitar 81 persen dari total lahan sawah di Banten mengalami kekeringan, yakni 11.730 hektar (kompas, 23/6). Hal yang sama terjadi di Cirebon, Indramayu, Purwakarta.

Ancaman puso yang menyerang puluhan ribu sawah di Propinsi Banten dan Jawa Barat membuat kita bertanya-tanya, separah apakah kekeringan yang bakal terjadi di musim kemarau tahun ini?

Potensi Kekeringan

Sebenarnya, ada tiga faktor yang memengaruhi pola musim di Indonesia yaitu  monsun, ENSO, Dipole Mode. Monsun adalah perilaku angin musiman yang terbentuk setiap enam bulan sekali di Indonesia. ENSO atau El Nino Souther Oscillation merupakan perilaku suhu permukaan laut di Pasifik selatan, terjadi tiap 3-7 tahun. Dipole Mode adalah perilaku suhu permukaan laut di Samudra Hindia, berulang tiap 4-5 tahun.

Penelitian menunjukkan bahwa ketiganya memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Indonesia bagian timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. Indonesia bagian tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara Indonesia bagian barat banyak diatur oleh Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia.

Untuk melihat potensi kekeringan yang bakal terjadi selama musim kemarau, setidaknya ada lima hal yang dapat dijadikan acuan, yaitu: pola angin (monsun), curah hujan, awan, suhu permukaan laut (SST), Dipole Mode.

1. Pola Angin Monsun

Pola angin yang bertiup di atmosfer khatulistiwa Indonesia menunjukkan apakah sekarang telah tiba musim kemarau atau belum. Sebab, pada musim kemarau, angin yang bertiup di Indonesia bersifat kering. Angin kering ini berasal dari daratan Australia. Karena berasal dari Australia, maka angin yang terjadi di Indonesia adalah angin tenggara atau angin timur (berasal dari tenggara atau dari timur). Lantas bagaimana pola angin tenggara ini di Bulan Juni? Lihat Gambar 1.

Gambar 1 Pola angin monsun rata-rata Bulan Juni 2008
(hasil model DARLAM, Nurzaman A., LAPAN 2008)

Pola angin monsun pada Gambar 1 menunjukkan bahwa selama Bulan Juni, angin dari Pasifik Selatan bertiup melalui Australia. Angin ini menyebabkan sebagian Papua dan Jawa lebih basah dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

2. Pola Curah Hujan

Dari pengamatan Satelit TRMM yang dilakukan oleh NASA, Amerika Serikat, curah hujan yang terjadi di Indonesia selama Bulan Juni tampak pada Gambar 2. Wilayah Indonesia yang memiliki curah hujan relatif tinggi antara lain Kalimantan, Sumatera Utara, Sulawesi bagian Timur dan Utara, Papua bagian tengah. Hujan yang relatif tinggi itu berkisar antara 1 sampai 10 milimeter per hari, diperlihatkan dengan warna hijau dan biru.

Sementara di Pulau Jawa, hampir seluruhnya berwarna kuning yang menandakan bahwa curah hujan antara -8 hingga -1 milimeter per hari. Dengan kata lain, kemarau mulai merambat dari bagian selatan Indonesia yaitu Pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan. Maka tidak mengherankan jika kekeringan sawah terjadi di sebagian besar Pulau Jawa.

Gambar 2 Anomali curah hujan rata-rata selama sebulan terakhir 24 Juni 2008 dipantau dari satelit. (http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Gambar 3 Pola angin dan curah hujan rata-rata Bulan Juni 2008
(Hasil model WRF, Halimurrahman, LAPAN 2008)

Tampak bahwa hasil model curah hujan di atas juga mendukung hasil pengamatan satelit. Pada Gambar 3 terlihat, selama Bulan Juni curah hujan dengan intensitas tinggi (lebih dari 11 milimeter per hari) masih terjadi di utara Papua, Sulawesi, selatan Kalimantan. Sementara di Pulau Jawa, curah hujan memang rendah, yakni berkisar antara 1 sampai 5 milimeter per hari. Bahkan di utara Jawa, curah hujan sudah mendekati nol.

3. Pola Sebaran Awan

Belum lengkap rasanya, jika kita mengamati hujan tanpa memerhatikan awan. Padahal, awan adalah cikal bakal hujan. Dengan melihat pola sebaran awan di atas Indonesia, kita akan mengetahui wilayah mana saja yang rawan kekeringan. Pola sebaran awan dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Liputan awan harian (30 Juni 2008) tampak dari satelit MT-SAT.
(www.lapanrs.com)

Tampak dari liputan awan harian pada Gambar 4, bahwa selama sehari yaitu pada 30 Juni 2008, awan masih banyak terdapat di atas Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Papua. Sedangkan Pulau Jawa bersih dari awan.

Kondisi awan di Indonesia juga dapat diketahui dari data radiasi gelombang panjang (Outgoing Longwave Radiation, OLR) pada Gambar 5. Nilai OLR menunjukkan seberapa besar pancaran sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi. Semakin tinggi OLR maka semakin banyak permukaan bumi mendapat sinaran matahari. Nilai OLR akan mengecil jika di atmosfer terdapat banyak awan. Karena awan dapat menghambat sinar matahari sampai permukaan bumi.

Sehingga, jika anomali OLR positif, maka besarnya OLR di wilayah itu cenderung lebih tinggi dari data OLR rata-rata jangka panjang (30 tahun). Sebaliknya anomali OLR negatif menunjukkan nilai OLR di daerah itu lebih kecil dari data OLR rata-rata jangka panjang (30 tahun). Dari Gambar 5 dapat diketahui, sebagian besar Jawa, selatan Sumatra, utara Kalimantan, selatan Papua, memiliki nilai anomali OLR yang tinggi (10-20). Artinya, di wilayah tersebut banyak terdapat radiasi gelombang panjang matahari. Dengan kata lain, di wilayah tersebut sudah jarang terdapat awan.

Gambar 5 Data anomali radiasi gelombang panjang (OLR) 23 Mei-17 Juni 2008. (http://www.cpc.ncep.noaa.gov)

4. Pola SST

Untuk mengetahui seberapa parah kemarau di Indonesia, tinjauan terhadap suhu permukaan laut (SST) di Samudra Pasifik juga perlu dilakukan. Kenapa Samudera Pasifik? Karena Samudera Pasifik berperan penting membangkitkan kejadian El Nino dan La Nina yang berimbas ke Indonesia.

Seperti diketahui, El Nino adalah penyimpangan iklim ekstrem yang terjadi karena kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik sekitar khatulistiwa. Sebaliknya, La Nina terjadi karena suhu permukaan laut Pasifik mengalami penurunan. Tak bisa dipungkiri, Samudera Pasifik adalah pengontrol iklim bagi negara-negara di sekitarnya, seperti Indonesia. Tampak dari Gambar 6, anomali (penyimpangan) SST di Samudra Pasifik. Anomali SST ini merupakan anomali terhadap data SST di Samudera Pasifik selama tiga puluh tahun.

Nilai anomali SST positif menunjukkan bahwa suhu di sana cenderung lebih tinggi dari suhu rata-rata jangka panjang (30 tahun). Sementara itu, nilai anomali SST negatif menunjukkan bahwa suhu di situ cenderung lebih rendah dari suhu rata-rata jangka panjang (30 tahun).

Gambar 6 Anomali suhu permukaan laut (SST) Samudera Pasifik rata-rata selama sepekan (11-18) Juni 2008. (http://www.cpc.ncep.noaa.gov)

Bacaan

1. ENSO Cycle: Recent Evolution, Current Status and Predictions, Climate Prediction Center  NCEP, 23 Juni 2008.
2. Impact of the Indian Ocean Dipole on the Southern Oscillation, Swadhin K. Behera1 and Toshio Yamagata1,2, 27 Juni 2001.
3. Muncul Gejala Awal Terjadi Dipole Mode, Kompas, 2 Juli 2008.

*) Penulis adalah (Pembantu) Peneliti Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung


Anda kenal bukan, dengan nama-nama “cantik” seperti La Nina dan El Nino? Namun kita tidak sedang membicarakan dua nama artis cantik, tapi dua nama fenomena alam yang sering terjadi di muka bumi ini. Lalu, adakah pengaruhnya terhadap pola kemarau di Indonesia? Mari kita ikuti pembahasannya di bagian kedua ini.

5. Dipole Mode

Seperti diterangkan sebelumnya, Dipole Mode merupakan perilaku suhu permulaaan laut yang terjadi di Samudra Hindia. Besarnya Dipole Mode dinyatakan dengan Dipole Mode Index (DMI). Indeks ini dihitung dengan membandingkan suhu permukaan laut (SST) yang terjadi di Samudra Hindia sebelah timur dan barat. DMI positif bila Samudra Hindia barat suhunya menaik, sementara suhu di bagian timur (dekat Sumatra) justru menurun. Sedangkan DMI negatif menunjukkan keadaan sebaliknya.

Dari Gambar 7 dapat diketahui bahwa DMI positif selama Bulan Juni (nilainya antara 0.4-0.8). Artinya, di bagian timur Samudra Hindia (dekat Sumatra) terjadi pendinginan suhu permukaan laut dan sebaliknya pemanasan terjadi di Samudra Hindia barat. Akibatnya, uap air yang dibawa oleh monsun timur di wilayah Indonesia akan tersedot ke barat Samudra Hindia. Karena itu, sebagian Sumatra dan Jawa Barat akan lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Gambar 7 Indeks Dipole Mode di Lautan India dari pengamatan menggunakan Reynold OLV2 (www.jamstec.go.jp)

Kemarau Basah Karena La Nina

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai El Nino dan La Nina, kita perlu memahami pembagian kawasan Nino di Samudra Pasifik. Pembagian kawasan Nino tampak pada Gambar 8.

Gambar 8 Pembagian kawasan Nino 4, Nino 3.4, Nino 3, Nino 1+2.
(http://www.cpc.ncep.noaa.gov)

Pembagian kawasan Nino ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian jangka panjang para ilmuwan mengenai kondisi El Nino dan SST di Samudra Pasifik. Menurut penelitian tersebut pula, disimpulkan bahwa Nino 3.4 merupakan kawasan yang paling dominan berperan membangkitkan El Nino. Sehingga, nilai anomali SST dan indeks El Nino di kawasan Nino 3.4 sangat penting untuk diketahui.

Nilai anomali SST di kawasan Nino 3.4 terlihat pada Gambar 8. Tampak bahwa nilai anomali SST di kawasan Nino 3.4 pada Bulan Juni masih negatif, sekitar -0.5. Anomali SST negatif ini menunjukkan bahwa SST di kawasan itu tidak mengalami kenaikan. Dengan kata lain, suhu permukaan laut di sana lebih dingin dari suhu normal (data jangka panjang 30 tahun).

Lantas apa kaitannya dengan kekeringan di Indonesia? Jelas, jika suhu laut di kawasan Nino 3.4 mengalami kenaikan maka Indonesia akan mengalami kekeringan yang cukup parah. Sebaliknya, jika suhu laut di kawasan tersebut berada di bawah normal, maka angin yang terjadi di Indonesia masih bersifat basah. Sehingga, kemungkinan hujan masih akan turun di Indonesia pada musim kemarau.

Gambar 9 Anomali SST di Nino 4, Nino 3.4, Nino 3, Nino 1+2.
(http://www.cpc.ncep.noaa.gov)

Agar lebih jelas, mari kita amati data anomali SST yang lebih panjang di kawasan Nino 3.4 seperti pada Gambar 9. Tampak anomali SST sejak tahun 1950 hingga tahun 2008 di gambar tersebut. Jika anomali bernilai positif di atas 1, maka terjadilah El Nino. Sementara itu, anomali yang bernilai kurang dari negatif 1, menunjukkan terjadinya La Nina.

Gambar 10 Indeks El Nino dan La Nina dari tahun 1950-2008  (http://www.cpc.ncep.noaa.gov).

Terlihat bahwa pada tahun 2007 hingga 2008 (Juni), anomali SST mengalami penurunan dari 0 hingga -1.5. Penurunan nilai anomali SST ini menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2007 hingga 2008, terjadi La Nina yang cukup kuat. La Nina ini di Bulan Juni 2008 masih berlangsung meski makin mengecil dan bergerak mendekati kondisi netral (lihat Gambar 10). Disebut pula sebagai La Nina lemah.

Data mengenai La Nina yang melemah ini juga diperkuat oleh data pada Gambar 11 yang menunjukkan indeks El Nino dan indeks La Nina. Indeks El Nino diwakili oleh grafik merah, indeks La Nina diperlihatkan oleh grafik berwarna biru. Pada tahun 2008, nilai indeks La Nina positif 1 menuju nol, sementara indeks El Nino negatif 1 dan menurun.

Gambar 11 Indeks El Nino, La Nina, ESPI dari tahun 1979-2008.
(http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Simpulan

Musim kemarau di Indonesia tahun ini bersifat basah karena terjadinya La Nina di Samudra Pasifik khatulistiwa (Equatorial Pacific Ocean) meskipun di wilayah barat cenderung lebih kering dibandingkan wilayah tengah dan timur.

La Nina adalah istilah yang menunjukkan terjadinya penurunan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature) yang tidak biasa (di bawah normal) di Samudra Pasifik. Sejak Februari 2008, La Nina cenderung melemah mendekati kondisi netral. Selama Juni, nilai indeks La Nina sekitar -1 (nilai normal adalah -0.5 sampai 0). Menurut prediksi model, La Nina menuju normal ini akan terus berlangsung hingga Agustus. Sementara kemarau di Indonesia kemungkinan akan mencapai puncak di Bulan September.

La Nina yang terjadi di Pasifik Timur ini tentu saja mempengaruhi negara-negara di khatulistiwa yang terletak di sebelah barat Pasifik, termasuk Indonesia. Secara umum, La Nina akan mempengaruhi kondisi angin yang terbentuk di atas Pasifik. Angin tersebut bersifat basah karena membawa serta banyak uap air, akibat dari mendinginnya suhu permukaan laut di bawahnya.

Artinya, pembentukan awan di daerah tropis sekitar khatulistiwa masih akan sering terjadi. Dengan demikian, di Indonesia, hujan kemungkinan masih akan terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.

Musim kemarau juga akan dipengaruhi oleh Dipole Mode yang positif. Dipole Mode Positif menunjukkan bahwa di Samudra Hindia bagian timur terjadi pendinginan sementara di bagian barat mengalami pemanasan. Dipole Mode positif ini telah berlangsung sejak Bulan Mei.

Kombinasi antara monsun, La Nina, Dipole Mode, akan membentuk pola musim kemarau tahun ini. Terjadinya Dipole Mode yang positif di Samudra Hindia mengakibatkan Indonesia di bagian barat lebih kering daripada wilayah lainnya. Indonesia bagian timur akan sedikit lebih basah karena pengaruh La Nina. Sedangkan Indonesia bagian tengah akan mengalami musim kering yang normal.

Bacaan

1. ENSO Cycle: Recent Evolution, Current Status and Predictions, Climate Prediction Center  NCEP, 23 Juni 2008.
2. Impact of the Indian Ocean Dipole on the Southern Oscillation, Swadhin K. Behera1 and Toshio Yamagata1,2, 27 Juni 2001.
3. Muncul Gejala Awal Terjadi Dipole Mode, Kompas, 2 Juli 2008.

*) Penulis adalah (Pembantu) Peneliti Bidang Pemodelan Iklim
Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung


Harga belut Jepang yang dijual di restoran meningkat sampai sekitar 10% disebabkan hasil tangkapan dalam negeri sedikit dan belut murah yang dibudidayakan di China dihindari karena masalah keamanan terutama setelah kasus Gyouza pada Januari 2008 lalu. Harga belut bakar meningkat ketika menjelang puncak musim panas yang jatuh pada tanggal 24 Juli 2008, saat kebiasaan masyarakat Jepang makan belut bakar meningkat untuk mencegah keletihan pada musim panas. Restoran Kiyokawa, sebuah restoran belut yang telah berumur ratusan tahun di Kawasan Nihonbashi Tokyo, merupakan salah satu restoran yang akhir-akhir ini telah menaikkan harga belut yang disajikannya. “Harga beli belut Jepang mulai naik sejak bulan Oktober tahun 2007 dan kami tidak ada pilihan untuk menaikan harga jual” kata pemilik Restoran Yoshi Watanabe, yang telah menaikkan harga belut bakar beserta nasi dari 3.200 yen menjadi 3.500 yen pada bulan April 2008.

Jaringan “Convenience Store” AM/PM Japan Co., menaikkan harga belut bakar sebanyak 11%, harganya menjadi 980 yen setelah mengganti belut China menjadi belut Jepang. Akan tetapi di pihak lain jaringan Supermarket Aeon Co., memutuskan untuk memperoleh belut China lebih banyak dalam rangka memperluas (memperkaya:red) hidangan makanan-belut. Aeon menjual belut bakar China 880 yen per 200 gram, dan mengaku bahwa produknya berkualitas baik dan bebas dari bahan kimia.

Menurut Fisheries Agency, tahun lalu Jepang telah menyuplai sekitar 103.000 ton belut. Sekitar 20% berasal dari dalam negeri Jepang dan 60% diimpor dari China.  Akan tetapi impor belut dari China menurun drastis setelah terjadi kasus keracunan-makanan “Gyoza” beku yang diimpor dari China pada bulan Januari 2008. Kemanan terhadap produk makanan yang diimpor dari China kemudian meningkat tajam setelah terjadi skandal pemalsuan label dari sebuah perusahaan yang diduga menjual belut bakar yang dibudidayakan di China sebagai produk buatan Jepang.

Saran kami dari Jepang agar supplier belut di Indonesia mampu menggunakan momentum ini dengan baik untuk pembudidayaan belut di Indonesia dan mengembangkan produknya baik secara kualitas maupun kuantitas untuk memenuhi pasar Jepang.

Sumber : The Japan Times 20 Juli 2008.


Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) telah mendapat perhatian masyarakat dunia termasuk negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur. Negara ASEAN+3 yang terdiri atas Brunei, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapura, Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Korea Selatan, akhirnya sepakat membentuk forum yang berhubungan dengan PVT dengan nama East Asia Plant Variety Protection Forum (EAPVT). Sebenarnya forum ini telah digagas tahun lalu ketika diselenggarakannya Workshop on the Cooperation and Harmonization in Plant Variety Protection in the Asian Region di Tokyo, pada 5 Oktober 2007. Saat itu dilakukan pertukaran pendapat dan pandangan antara perwakilan pemerintah dan organisasi dari negara-negara ASEAN+3 untuk membentuk sistem perlindungan varietas tanaman yang lebih kuat. Pada saat itu telah disepakati pernyataan bersama termasuk kerjasama bidang PVT.

Kemudian pada 2 November 2007 dalam 7th Meeting of the ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry plus 3 (AMAF+3) di Bangkok proposal Jepang tentang pembentukan Forum EAPVT ini diterima yang kemudian melahirkan pertemuan pertama kalinya pada 23 Juli 2008 di Tokyo. Pertemuan perdana Forum EAPVT ini yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah dari negara-negara ASEAN+3 untuk mengukuhkan pembentukan Forum EAPVT.

Ada 3 landasan dasar operasinal forum EAPVT yaitu: (1) kepentingan sistem PVT, (2) kegunaan pengembangan dan harmonisasi sistem PVT, (3) Pembentukan East Asia Plant Variety Protection Forum. Aktivitas yang akan dikerjakan forum dititikberatkan pada: (1) kebijakan kegiatan operasional dan (2) pertukaran informasi PVT antar negara-negara anggota.

Kerangka kerja forum ini meliputi: (1) partisipasi negara anggota forum dan negara organisasi yang diundang, (2) pelaksanaan pertemuan-pertemuan, (3) penyusunan rencana kerja dan pelaksanaan kegiatan, (4) pelaksanaan kegiatan kesekretariatan.

Forum ini menetapkan lima kerangka kerja yaitu: (1) kerjasama dalam capacity building, (2) kegiatan kerjasama untuk pengembangan dan harmonisasi sistem PVT, (3) kegiatan kerjasama yang berhubungan dengan pengujian, (4) kerjasama penelitian dan pengembangan tehnik identifikasi varietas dengan analisis DNA, dan (5) pembuatan website resmi.

Khusus untuk kerjasama dalam capacity building, ada tiga hal yang dijadikan fokus. Pertama, program pelatihan internasional dengan mengundang trainee dari negara-negara peserta. Enam program akan direncanakan oleh negara China, Jepang dan Korea Selatan. Kedua, workshop, seminar dan pelatihan dengan mengundang petugas bidang PVT dari negara-negara peserta. Tujuh program ini akan disiapkan oleh Indonesia, Myanmar, Philipina, Thailand dan Vietnam. Ketiga, pengiriman tenaga ahli ke negara-negara peserta. Untuk itu, China, Jepang dan Korea akan menyediakan tenaga ahli bidang PVT.

Kerjama teknis meliputi (1) harmonisasi garis besar pengujian termasuk pengujian kebaruan, keunikan, keseragaman dan kestabilan, (2) pengembangan dan penggunaan data base yang berhubungan dengan PVT, (3) pengembangan sistem aplikasi secara elektronik. Pada kerjasama dalam pengujian, negara peserta dengan kepentingan yang sama akan memulai penyelidikan dan pengkajian pemanfaatan data pengujian umum.

Forum ini menyadari perlunya website resmi yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan bersama anggota forum. Melalui tukar pikiran dan informasi dalam Forum EAPVT akan mendorong perluasan dan peningkatan hubungan kegiatan kerjasama di negara ASEAN+3 dan mendukung realisasi landasan umum sistem PVT di setiap negara. Akhirnya harmonisasi sistem PVT di negara ASEAN+3 dapat terealisasi.

Dari 13 negara ASEAN+3 yang telah masuk menjadi anggota International Union for Protection New Varieties of Plants (UPOV) yang berkedudukan di Genewa, Swis tercatat baru 5 negara yaitu China (Act of 1978), Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Vietnam (Act of 1991). Pada November 2007 jumlah anggota UPOV seluruhnya tercatat 65 negara.

Pada Juni 2008, Indonesia, Malaysia, Philipina, dan Jepang masih melindungi semua tanamannya. Akan tetapi Korea Selatan telah membuat daftar tanaman yang dilindungi sebanyak 223 varietas, sedangkan China 152 varietas, Thailand 33 varietas, dan Vietnam 27 varietas.

Melalui forum ini, Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan diri menjadi anggota UPOV. Dengan menjadi anggota forum ini, di dalam negeri sendiri diharapkan  para peneliti dan breeder akan terdorong untuk meningkatkan kerjasama dalam pengembangan varietas unggul tanaman Indonesia. Para petani dapat meningkatkan mutu dan kwantitas produksinya dengan menggunakan varietas bibit unggul, di pihak lain breeder dapat memperoleh intensif melalui hak atas kekayaan intelektualnya.

Para breeder akan diberikan hak PVT sesuai dengan ketentuan yang berlaku.  Pemberian sertifikat hak PVT dilakukan apabila suatu varietas telah memenuhi persyaratan baru, unik, seragam dan stabil berdasarkan hasil pemeriksaan substantif.  Pemerintah Indonesia melaksanakan pengembangan penerbitan sertifikasi hak PVT untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat pertanian secara nasional maupun internasional. 

Sumber: Pudjiatmoko


Bagaimana caranya meneliti material berukuran nanometer atau sepermiliar meter? Peneliti Pusat Teknologi Material BPPT Dr Eng Ratno Nuryadi (mantan Ketua ISTECS-Jepang 2006-2008, red) bisa menciptakan mikroskop untuk melihat struktur materi renik tersebut.

“Untuk melihat struktur materi seukuran nano atau 10 pangkat minus sembilan meter, perlu perlengkapan khusus yang tak ada di Indonesia. Alat itu hanya bisa diimpor dengan harga satu unitnya mencapai sekitar Rp2-3 miliar,” kata Ratno yang menjadi pemenang Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) XIV bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa.

Prihatin atas kondisi itu, Ratno yang memenangkan penghargaan PPMI dengan makalah berjudul “Manufactur Atomic Force Microscope (AFM) dan Aplikasinya pada Nanoteknologi” itu kemudian menciptakan mikroskop material renik yang disebut AFM (Atomic Force Microscope).

“Ini adalah mikroskop nano pertama yang diciptakan di Indonesia dengan modal sekitar Rp50 juta saja dan dibuat dengan bahan-bahan sederhana,” kata pria kelahiran Bantul 17 Oktober 1973 itu sambil berpromosi usai menerima penghargaan dari Kepala LIPI Umar A Jenie serta uang tunai Rp25 juta.

Mikroskop nano itu, urainya, bukan mikroskop biasa, karena menggunakan teknologi peraba materi seperti jarum yang akan menyusuri struktur materi dan kemudian menampilkan strukturnya di layar komputer dengan menggunakan software tertentu. Cara kerjanya mirip perlengkapan mikroskop nano yang ada di dunia.

Ditanya soal kehandalan alatnya, ia mengatakan, mikroskopnya itu prinsipnya sudah bekerja secara normal, namun secara teknis perlu dioptimalisasi lagi agar penampilannya lebih baik.

Nanoteknologi, jelasnya, merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat di dunia karena materi yang disusun dengan teknologi nano akan memiliki karakter dan fungsi berbeda dengan materi yang tersusun tanpa teknologi nano.

Sumber: Republika.com, 7-8-2008

“The 2nd IOAA: International Olympiad on Astronomy and Astrophysics” di ITB Bandung.

Pada tgl 19 hingga 28 Agustus Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah event lomba olimpiade ilmu Astronomi dan Astrofisika tingkat siswa sekolah menengah atas tingkat Internasional “The 2nd IOAA: International Olympiad on Astronomy and Astrophysics”. Event lomba pun pantas dipandang sebagai upaya menyambut pencanangan PBB pada Sidang Umum akhir tahun 2007 yl tentang 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional.
Ajang lomba diselenggarakan dengan ITB Bandung selaku tuan rumah atas arahan Depdiknas RI setelah dipercaya ditunjuk menjadi penyelenggara seusai lomba sebelumnya yang dilaksanakan pada bulan Februari 2006 di Bangkok, Thailand. Hingga saat terakhir telah terdaftar 24 negara dari Negara kawasan Asia- Pasifik, Eropa, dan Amerika Latin yang akan berpartisipasi dalam lomba : The 2nd IOAA.
Ajang kompetisi lomba dan penjurian kontes diselenggarakan di gedung konvensi Sasana Budaya Ganesha ITB sementara proses observasi lomba dan analisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas peneropongan bintang Bosscha milik Jurusan Program Studi Astronomi ITB yang berlokasi di Lembang sebelah Utara kota Bandung.

Tahapan pertama observasi lomba dilakukan sejak tgl 21 dan 22 Agustus yl —menggunakan teleskop Vixen 20 cm dilengkapi kamera ST402 CDD & aplikasi piranti lunak : “CCDops” dan “The Sky”— untuk dilanjutkan dengan ajang lomba uji teoritis yang dilangsungkan pada tgl 23 Agustus di kampus ITB.

Sedangkan hari Minggu 24 Agustus para peserta lomba berkesempatan mengikuti acara bersantai dalam acara peninjauan atas seluruh fasilitas peneropongan bintang di Observatorium Bosscha.
Peserta Indonesia dalam kontes IOAA 2008 terdiri atas 2 (dua) tim:
Tim A dipimpin Dr. Suryadi Siregar dan Dr. Hesti Wulandari dan Tim B dipimpin Dr. Mahasena Putra dan Dr. Ikbal Arifyanto yang semuanya berasal dari institusi jurusan Astronomi ITB.
Adapaun anggota Tim A adalah : Lorenz V.G. da Silva (SMA Semesta Semarang), Esther Brigitta (SMAK 1 Penabur Jakarta), Eky Valentian Febrianto (SMAN 3 Bogor), Mikha Benanta Purba (SMA Taruna Nusantara Magelang), dan Ady Suwardi (SMA Soetomo 1 Medan).
Sementara Anggota Tim B terdiri atas : Veena Salim (SMA Metodis 3 Medan), Marshiella (SMAN 8 Jakarta), Yudho Ahmad Diponegoro (SMA Taruna Nusantara Magelang), Ridlo Wahyudi Wibowo (SMAN 1 Rembang), dan Amar Kusuma (SMA Taruna Nusantara Magelang).

Sumber: Up-dates situs PSA-ITB. / Rizal AK.

Menristek RI serukan upaya selamatkan Observatorium Bosscha.

Dalam kesempatan berbicara disela-sela rangkaian acara Pameran Astronomi dan Budaya yang terangkai dalam ajang lomba “The 2nd IOAA: International Olympiad on Astronomy and Astrophysics” yang berlangsung hingga 28 Agustus di Sasana Budaya Ganesha ITB di Bandung, Menristek Kusmayanto Kadiman kembali wanti-wanti mengingatkan akan pentingnya melakukan segala upaya untuk menyelamatkan fasilitas Observatorium Bosscha terhadap gangguan polusi cahaya serta polusi udara yang akan mengganggu peneropongan bintang di malam hari sebagai akibat dampak semakin merambahnya pembangunan pemukiman mendekati Observatorium Bosscha di kawasan Lembang Kabupaten Bandung.
Berjalannya aktivitas peneropongan bintang seperti halnya Observatorium Bosscha sesungguhnya mempersyaratkan radius jarak tertentu : minimum 5km yang mestinya terbebas steril dari aktivitas pemukiman penduduk.

Menristek selaku mantan rektor ITB yang mengelola Observatorium Bosscha menjadi salah satu aset strategis nasional dalam sains milik bangsa Indonesia dan menjadi bernilai penting berhubung menjadi satu-satunya fasilitas peneropongan bintang di belahan Selatan bumi yang berdekatan dengan garis khatulistiwa.

Apa yang menjadi kekhawatiran Menristek RI sesungguhnya memang seakan mengulang kecemasan serupa ketika masih menjabat sebagai Rektor ITB tahun 2001-2004 ; pada tahun tersebut keberadaan fasilitas Bosscha terancam dengan rencana pembangunan suatu kawasan resort wisata skala besar-besaran dan lintasan proyek jalan raya yang siap digelar yang seakan mencampakkan begitu saja ketentuan tata guna lahan Perda Pemda Jawa Barat yang semestinya berperanan guna dapat menghindarkan gangguan pembangunan fisik terhadap suatu kawasan yang dilindungi zone pelestarian alam/lingkungan serta konservasi alam dan “warisan budaya” layaknya Observatorium Bosscha.

Pentingnya peranan dan posisi strategis Observatorium Bosscha pun dinyatakan oleh pembicara utama pada acara pidato kuliah umum konvensi , Prof. Dr. Ronald D. Ekers pakar ilmu astronomi dari institusi riset CSIRO Australia Telescope National Facility, bahwa Indonesia mempunyai lokasi yang bagus karena berada di antara negara-negara yang mempunyai teleskop besar.

Prof. Ekers yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Presiden IAU : International Astronomical Union menyampaikan topik berjudul “The Big Bang, Black Holes, Pulsairs and Extraterestrial Life” dihadapan para siswa peserta lomba olimpiade ilmu Astronomi dan Fisika yang berasal dari berbagai belahan dunia dari 22 negara;
Azerbaijan, Bangladesh, Belarusia, Bolivia, Brasil, Cambodia, China, Yunani, India, Iran, Lituania, Malaysia, Myanmar, Polandia, Rumania, Singapura, Slovania, Korea, Srilangka, Thailand, Ukraina, serta Indonesia selaku tuan rumah.
Selain menyerukan akan pentingnya tindakan nyata segenap aparat Pemerintah agar berupaya lebih keras guna menyelamatkan keberlangsungan Observatorium Bosscha beserta pelestarian kawasan lingkungan di sekeliling kawasan Bosscha, Menristek Kusmayanto Kadiman yang memang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu astronomi dan astrofisika, mengungkapkan agar Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia dan mengoptimalkan fasilitas astronomi, disamping menilai Indonesia mempunyai kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan astronomi dunia.

Menristek RI pun sempat menyitir bahwa perkembangan riset terkini dalam dunia astronomi serta antariksa kini mendapat tantangan kuat dari pembangunan yang pesat dengan pengadaan peralatan serba canggih di negara-negara tetangga kawasan ASEAN —seperti Malaysia dan Thailand—- yang pemerintah masing-masing berkemampuan jauh lebih tinggi dalam penyediaan dana dibandingkan Pemerintah RI yang dana riset dan teknologi serba terbatas.

Sumber: Up dates situs ristek-go-id. / Rizal AK.

Kemampuan matematika tidak mengenal batasan asal-usul bangsa.

Barang siapa yang termasuk dalam khalayak sekalian yang menganggap bahwa orang atau suku bangsa yang tidak mengenal sebutan bilangan dalam bahasa yang dipakai sehari-hari lalu manusia tersebut tidak mampu mengembangkan kemampuan belajar ilmu berhitung atau : “numeracy” : skill in numbers and maths ?
Atau yakinkah anggapan awam kebanyakan bahwa Bangsa India pantas serta wajar dikenal sebagai bangsa yang berkemampuan tinggi dalam ilmu matematika khususnya dan sains umumnya berhubung adanya fakta meruntut khasanah sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, bahwa Bangsa India adalah yang pertama kali memperkenalkan simbol “0” sebagai angka bilangan bernilai “nol” ? Anggapan yang sedemikian jauh merasuk diyakini kebenarannya selama ini oleh banyak orang termasuk sejumlah kalangan ilmuwan.

Namun simaklah hasil kajian terkini riset ilmuwan Inggris dan Australia yang mengujicoba kemampuan matematika sekelompok kanak-kanak Aborigin —suku bangsa penduduk asli benua Australia berbahasa lokal Warlpiri dan Anindilyakawa yang tidak mengenal atau serba sangat terbatas dalam kosa kata sebutan bilangan angka-angka— dibandingkan dengan sekelompok kanak suku Aborigin lain yang tinggal di kawasan perkotaan kota Brisbane yang telah mengenal kemampuan berkomunikasi Bahasa Inggris di Australia.

Ternyata hasilnya memperlihatkan bahwa kanak-kanak Aborigin yang dalam bahasa ibu-nya tidak mengenal konsepsi pengertian tentang bilangan mampu mempelajari ilmu berhitung dengan baik. Hasil kajian demikian tentu saja menjadikan kontradiksi yang bertentangan dengan anggapan sediakala kebanyakan kalangan ilmuwan yang beranggapan bahwa pengenalan kata-kata angka untuk berhitung ( “counting words” ) merupakan kunci modal utama bagi manusia guna mengembangkan kemampuan ilmu berhitung.
Penelitian ini melibatkan 45 kanak-kanak suku Aborigin berusia 4 – 7 tahun tinggal di lokasi terpencil luar kota dan dengan membandingkan dengan kelompok Aborigin lain yang tinggal di kawasan perkotaan di kota Melbourne. Penelitian gabungan ini dipublikasikan dalam journal Proceedings of the US National Academy of Sciences terbitan Agustus 2008.

Ketua tim riset Professor Brian Butterworth, dari the Institute of Cognitive Neuroscience, UCL : University College London, menyatakan kesimpulan kajian risetnya dengan demikian membuktikan, bahwa kita semua terlahir di dunia dengan memiliki kemampuan untuk dapat mengurai dunia dalam angka-angka sama halnya dengan kita semua terlahir untuk mengenali warna-warni yang terdapat di dunia. “We are born with the ability to see the world numerically just as we are born to see the world in colour”.
Diungkapkan pula hasil riset yang diperolehnya sungguh bertentangan dengan 2 riset ilmiah terdahulu atas suku Amazon di pelosok benua Amerika Latin yang menunjukkan betapa dibutuhkannya kosa kata mengenal sebutan angka-angka atau bilangan guna memungkinkan ilmuwan memperkenalkan belajar ilmu matematika pada kalangan bangsa Amazon di pedalaman.
Diimbuhkan pula oleh Prof. Butterworth bahwa memang ada sebagian orang yang terlahir dengan bawaan kelainan kesulitan berat dalam belajar ilmu berhitung ; yang disebut sebagai kelainan : dyscalculia. Topik perihal kelainan dyscalculia inilah yang sekarang tengah digarap Prof. Butterworth dkk dalam topik riset terkini mengenai adanya perbedaan dalam otak manusia yang mengalami dyscalculia

Sumber: Up-dates situs BBC. / Rizal AK.

Akhir lomba 2nd IOAA Olimpiade Astronomi dan Astrofisika.

Dari ajang lomba 2nd IOAA : International Olimpyad on Astronomy and Astrophysic yang diselenggarakan di Bandung hingga berakhir 28 Agustus yl, tuan rumah Indonesia harus merelakan gelar pemenang Juara Umum bagi Tim India yang berhasil meraih 2 (dua) medali emas, 2 (dua) perak, dan 1 (satu) perunggu dengan nilai angka kumulatif 4069.
Tim tuan rumah Indonesia A walau berhasil mengumpulkan medali yang berjumlah sama : 2(dua) emas, 2 (dua) perak, dan 1 (satu) perunggu +plus+ satu penghargaan “Honorable Mention” harus puas pada posisi peringkat ke 2 Juara Umum dan diikuti oleh Iran pada peringkat ke 3. Nilai yang diperoleh siswa Indonesia lebih rendah dari nilai kumulatif siswa India maka gelar Juara Umum lomba IOAA 2008 : “the best team trophy” yang diraih India, yang berarti merebutnya dari Thailand yang bertindak selaku tuan rumah lomba pertama IOAA 2006 yl di Chiang Mai.
Secara keseluruhan pada kontes IOAA tahun 2008 diperebutkan sejumlah ; 10 medali emas, 11 medali perak dan 18 perunggu diantara 24 negara partisipan lomba Internasional yang datang dari kawasan Asia-Pasifik, Eropa, serta Amerika Latin.

Keseluruhan siswa-siswa Indonesia {Tim A & B} sesungguhnya meraih prestasi mengagumkan karena secara keseluruhan mengumpulkan jumlah medali terbanyak yakni; 4 (empat) emas, 3 (tiga) perak, 2 (dua) perunggu dan 1 (satu) penghargaan “honorable mention”. Namun berhubung yang dihitung resmi sesuai ketentuan kompetisi adalah hanya yang diperoleh Tim A, sementara Tim B yang berstatus partisipan kehormatan : guest team perolehan medali tidak diperhitungkan dalam lomba resmi, walau pun ternyata tim ini bahkan mampu membuat juri kontes memberikan penghargaan tersendiri yakni “Outstanding Achievement”.
Siswa India Nitin Jain asal Delhi memperoleh medali emas dengan perolehan nilai tertinggi dari 89 siswa partisipan lomba. Dua medali emas bagi Indonesia diraih oleh anggota tim A : Lorenz da Silva siswa SMA Semesta, Semarang dan Ady Suwardi siswa dari SMA Sutomo 1 Medan.
Lorenz da Silva mendapatkan pula gelar “Creative Solution” sama halnya dengan raihan gelar serupa oleh Sayed Sadra Sadraddini siswa asal Iran.
Pembina Tim Indonesia A : Dr. Suryadi Siregar disamping mengakui keunggulan Tim India terutama dalam langkah melakukan seleksi siswa-siswa terbaik guna dipersiapkan dalam lomba kompetitif yang mengasah ketajaman berpikir otak ini, juga menyatakan prestasi siswa Indonesia menunjukkan peningkatan dari pencapaian pada lomba IOAA tahun 2006 yl yang hanya berhasil meraih hanya 1 medali emas.
Ajang uji teoritis lomba dan penjurian serta proses observasi lomba dan analisa obyek astronomis seluruhnya diselenggarakan oleh pihak ITB : Institut Teknologi Bandung, yakni kontes pertemuan dan penjurian berlangsung di gedung Sasana Budaya Ganesha di Bandung sementara proses observasi obyek astronomis dilaksanakan di fasilitas peneropongan bintang Bosscha di Lembang yang dikelola Jurusan Program Studi Astronomi ITB.

Sumber: Up dates situs as-itb dan Metro-TVnews. / Rizal AK.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: