Komunitas Anak Funk kian Warnai kota Rantauprapat

* Dibutuhkan Antisipasi Penanganannya

 

Meski tidak mau disebut sebagai gelandangan. Tapi, kehidupan komunitas anak-anak funk yang kian ramai mewarnai kota Rantauprapat laiknya menjadi perhatian.

Hidup bebas. Mungkin hal itu yang menjadi dasar kemunculan kelompok anak-anak funk. Atau, adanya indikasi mengalami Broken Home di tengah-tengah keluarga.

Akan tetapi, terlepas dari faktor-faktor psikologi proses terjadinya dan kemunculan komunitas ini, yang pasti hidup bebas malam beratap langit dan tidur beralas tanah sungguh kesan yang memprihatinkan.

Terlebih lagi, sorot masa depan yang buram. Akankah, kehidupan seperti itu tetap akan menjadi jalan utama anak

Anto (18) misalnya. Bersama beberapa orang rekannya yang menjalani hidup sebagai funk, mereka sepertinya tidak menghiraukan arti masa depan. Konon pula, dengan harapan menjalani hidup bersama keluarga masing-masing. Soalnya, dalam meniti hari-harinya, anak-anak yang rata-rata berasal dari luar kota Rantauprapat ini, selayaknya masih dikonotasikan membutuhkan perhatian dari orangtua.Bahkan, untuk hanya bertahan hidup dengan mengandalkan permainan alat musik sederhana dan mengamen di beberapa lokasi dan pusat jajanan ataupun tempat mangkalnya warga kota Rantauprapat. Mengandalkan suara yang sederhana dalam melantunkan berbagai tembang dan bait-bait lagu, Anto cs mengharapkan kepingan ataupun pemberian uang dari para warga.

“Untuk dapat makan, kami bareng mengamen bang,” cetusnya.

Diakui mereka, kehidupan menjadi funk identik dengan penampilan yang terkadang membuat banyak orang memandang ‘seram’. Sebab, selain menggunakan pakaian-pakaian belel dan seringkali kumal dan koyak, mereka berjalan di emperan-emperan pertokoan.

Sementara bila malam tiba. Ketika banyak orang sedang lelap diperaduan empuk dengan beralas tilam dan berselimutkan tebalnya kain yang hangat, mereka kerap hanya istirahat malam di berbagai dan sembarang tempat. “Kalau tidur, kami di Lapangan Ika Bina,” ujarnya lagi.

Sementara, kebersihan tubuh dan pakaian, hal itu bukan menjadi persoalan berarti bagi mereka. Sebab, takjarang mereka hanya mengenakan pakaian yang melekat di badan. Pun, bila memiliki cadangan jumlahnya hanya terbatas. Jadi, acapkali pakaian yang dipakai jarang di cuci. Atau terkadang mereka istilahi ‘cuci kering’. “Seringnya dicuci lantas dijemur menunggu kering. Kemudian dipakai lagi,” celotehnya.

Menyikapi kehidupan komunitas funk yang kian ramai di kota Rantauprapat, pihak Pemerintah setempat selaiknya tanggap melakukan kebijakn dan antisipasi hal itu. Sebab, bila dibiarkan demikian juga dianggap sebagai suatu sikap yang kurang sesuai dengan amanat undang-undang tentang perlindungan anak.

“Kita sudah selayaknya memperhatikan hal itu. Sebab, UURI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak mengamanahkan, bahwa Negara menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Dan, anak sebagai amanah dan karunia Tuhan di dalam dirinya juga melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya,” terang Yos Batubara Direktur Eksekutif Lembaga Bina Masyarakat Indonesia (LBMI), Rabu (20/2).

Selain itu, ungkapnya, anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.
”Mereka agar kelak memiliki cita-cita masa depan dan mampu memikul tanggung jawab, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi.

Maka, untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak diperlukan dukungan kelembagaan dan dukungan pemerintah serta masyarakat agar dapat menjamin pelaksanaannya,” jelasnya.

Kehidupan anak-anak komunitas funk sejatinya, kata Yos jangan dibiarkan terus terjadi. Minimal pihak terkait segera mengambil tindakan. Baik dalam hal membina atau mengembalikan kepada ortangtua masing-masing. Bahkan, bila perlu dilakukan pengasuhan di lembaga atau panti-panti pengasuhan anak, selanjutnya diberi pembekalan pengetahuan pendidikan, moral dan agama, tandasnya.

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. Anak Punk biasanya ciri dari kota besar. Mereka nggak perlu ditanggani dengan kebijakan khusus. Anak2 Punk biasanya nggak pernah mengganggu. Mereka punya komunitas sendiri. Coba aja jalan-jalan di Kota Bandung… Banyak orang kayak itu. Mereka bukan gembel. Yang perlu ditangani ya gembel-gembel yang minta-minta di kedai kopi dan pinggir jalan. Belum tentu moral ‘Om’ yos lebih baik dari anak-anak Punk itu….

  2. anak fung sbnarnya sama macam manusia biasanya,tp karna anak fung itu tampangnya serang makanya banyak org yg gk suka,.
    anak fung tidak mau mengganggu kalau tidak di ganggu,.

    mereka punya komunitas sendiri,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: