Anjal dan Gepeng kian Warnai Kota Rantauprapat

Semakin hari, eksistensi Anak Jalanan ( Anjal ) dan Gelendangan Pengemis (Gepeng) di kota Rantauprapat makin bertambah. Itu, diperkirakan dampak desakan ekonomi yang kian tak sebanding dengan kebutuhan yang ada.

Akibatnya, Anjal dan Gepeng yang konon sebahagian berasal dari luar kabupaten Labuhanbatu itu, memilih kota Rantauprapat sebagai “Ladang” untuk memperoleh

belas kasihan dari masyarakat setempat.

Seperti saat ini, hampir setiap waktunya ditemui para Anjal dan Gepeng tersebut disekitar inti kota Rantauprapat. Biasanya, mereka mencari lokasi yang sering dijadikan warga sebagai tempat bersantai.

Modus mereka beragam. Bahkan, hingga membawa anak yang terbilang usia muda. Tidak hanya itu, sepasang suami istri terlihat pula dengan modus berpura-pura tunanetra.

Selain dengan cara meminta-minta, sebahagian mereka juga melakukan dengan cara mengamen dari satu warung ke warung lainnya.

Walau terkadang pengunjung yang hadir merasa terganggu. Namun, pemberian tidak pernah mereka lupakan. “Sebenarnya kita juga merasa terganggu, tapi gimana mau dikata, kalau ditanya, mereka juga tidak ingin seperti itu,” kata Bandi, saat ditemui

disalahsatu warung di jalan Veteran, kota Rantauprapat, Jumat (4/4) malam.

Menurut Bandi, sebenarnya keadaan itu sudah seharusnya diperhatikan pemerintah setempat. Sebab, selain mengganggu, itu juga salahsatu tugas pemerintah untuk mensejahterakan warganya. Yang lebih dikhawatirkan warga, tidak tertutup kemungkinan semua Anjal dan Gepeng mempunyai niat yang baik, apalagi kebanyakan berasal dari luar daerah.

“Kesejahteraan warga ada ditangan pemerintah. Sebenarnya kalau pemerintah kita ingin menertibkan atau melokalisasinya, saya kira tidak sulit. Jangan sampai berlarut-larut, sebab nanti semakin sulit,” tambah Bandi.

Anggota DPRD Labuhanbatu Saiful Usdek juga sangat menyayangkan hal itu. Ia menilai terjadi penambahan jumlah Anjal dan Gepeng setiap harinya. Bahkan, ia sering melihat keberadaannya dipinggir jalan, tepatnya dipersimpangan lampu merah.

Seharusnya, dari awal pemerintah mengantisipasi hal itu, selain terlihat ketidak seriuasan menanganinya, juga menjadi prasangka buruk terhadap pemerintah setempat, bagi warga luar disaat mereka melintas di inti kota Rantauprapat.

“Hati kecil kita mengatakan, bahwa kita tidak sanggup melihat hal itu. Bayangkan, masih ada warga untuk makan saja harus meminta-minta. Apalagi untuk keperluan lain, saya kira tidak pernah termimpikan oleh mereka,” jelas Saiful via handphone.

Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah setempat agar segera mengambil sikap guna mengantisipasi semakin bertambahnya jumlah Anjal dan Gepeng, khususnya di kota Rantauprapat.

“Guna mensejahterakan warga, atau setidaknya mengurangi niat mereka untuk jadi Anjal dan Gepeng itu, pemerintah setempat harus ambil sikap tegas. Kita juga berharap kepada para Anjal dan Gepeng agar merubah sikap untuk mencari pekerjaan yang lain, kalau

begitu terus, mahu jadi apa nantinya, apalagi bagi yang membawa anak-anak dibawah umur, kan kasihan anaknya,” ujar Saiful.

Salah seorang ibu yang menjadi Gepeng, ketika ditanya mengatakan, bahwa kehidupannya di kampung sangatlah kekurangan. Berhubung ada temannya yang mengatakan bahwa di Rantauprapat termasuk lokasi yang menjanjikan, akhirnya ia bersedia diajak ikut serta. Apalagi mengingat lima anak yang harus ditanggungnya.

“Anak saya lima, suami saya sudah lama meninggal, ketimbang mereka tidak makan, ya saya harus beginilah, yang penting saya bisa dapat uang dan anak saya tidak kelaparan. Walaupun begini, saya tidak pernah punya niat untuk mencuri atau perbuatan yang lain, saya hanya sekedar minta belas kasih untuk menyambung kehidupan,” ujar ibu berusia sekitar ( 54 ) tahun, yang tidak ingin menyebutkan namanya.

Keberadaan Anjal dan Gepeng memang semakin bertambah. Yang diherankan, keberadaan mereka tidak diketahui berasal dari mana.

Namun yang pasti, sejak pukul 10.00 wib, satu-persatu mereka mulai bermunculan. Mulai dari anak dibawah umur, hingga kepada para orang tua. Untuk anak dibawah

umur, biasanya mereka selalu menggunakan mangkuk kecil untuk tempat uang dan biasanya selalu disodorkan kepada pengunjung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: