Memasuki Musim Kemarau, Rawan terjadi Kebakaran

* P2K Labuhanbatu Siagakan Personil


Memasuki musim kemarau, dihimbau waspada kebakaran. Sebab, suhu udara yang terus meningkat mempengaruhi kemunculan titik api. Demikian dikatakan Nilwansyah kepala kantor Linmas P2K Labuhanbatu, Senin (19/5) di Rantauprapat.

“Wilayah Labuhanbatu dalam beberapa hari kedepan masih dipengaruhi oleh musim kemarau dengan suhu udara yang makin meningkat. Dan, curah hujan yang makin berkurang,” ujarnya. Dengan suhu udara maksimum akan mencapai 34-35 derajat celcius. Peningkatan suhu udara yang berhari-hari dan tidak adanya hujan, kata Nilawansyah, akan berpotensi menimbulkan titik api (hot spot) dan kebakaran hutan.

Sedangkan, dari 17 Mei dan 18 Mei di wilayah Sumatera, tambahnya seraya mengutip laporan pihak Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) stasiun Meteorologi Medan, Sumut, terdapat 372 dan 207 buah titik api tersebar di wilayah Aceh, Sumut, Riau, Jambi, Bengkulu dan Sumsel. Terbanyak, ujarnya, terdapat di wilayah Riau dan Jambi.
Tapi, tambahnya, ketika cuaca panas terus meningkat juga dapat menimbulkan hujan tiba-tiba (showers) dan sangat lokal. Itu, jika kandungan uap air di udara menjadi tinggi (basah).

“Dari situ akan berdampak ke daerah Labuhanbatu, yakni kemunculan kabut asap yang berpotensi datang dari lokasi kebakaran dihembus angin,” paparnya.

Sedangkan di Labuhanbatu, merujuk kasus kebakaran di Labuhanbatu pada musim kemarau di tahun 2007 lalu, yang terdapat 32 titik api, imbuh Nilwansyah. Maka, untuk tahun 2008 ini, jelasnya, pengulangan terjadinya kebakaran di lokasi serupa kemungkinan akan terjadi. Itu, paparnya, terkait minimnya kesadaran masyarakat dalam mengantisipasinya. Sedangkan lokasi yang potensi terjadinya kebakaran adalah daerah-daerah bertekstur tanah Gambut. Baik yang terdapat di hutan ataupun di areal-areal perkebunan. “Terkadang, warga yang memasuki daerah-daerah rawan kebakaran seperti di lokasi bertanah Gambut, lalai memperhatikan bahaya penggunaan api,” tuturnya.

Seperti, katanya, warga (nelayan tradisionil) yang mencari ikan di parit-parit perkebunan, sering kali lupa mematikan puntungan rokok ataupun penggunaan api unggun. Maka, diketika suhu yang terus menyebabkan keringnya berbagai dedaunan mengakibatkan mudahnya menyulut kemunculan api.

Untuk mengantisipasi dan upaya meminimalisir dampak negatif ketika terjadi kebakaran, pihaknya, aku Nilwansyah terus mensiagakan para petugas pemadam kebakaran. Selain itu, terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya.

“Kita siagakan 906 petugas rescue, dengan sarana sebanyak 6 unit mobil pemadam api di kota Rantauprapat dan 1 unit di Kotapinang. Kapasitasnya 3000 liter, 4000 liter dan 6000 liter air,” bebernya.

Sedangkan puncak terjadinya musim kemarau yang juga rawan terjadinya kebakaran adalah di bulan Juni mendatang. Untuk itu, himbaunya, kepada masyarakat untuk terus meningkatkan kesiagaannya. Salahsatunya dengan cara terus memantau penggunaan api. Baik dalam hal pembakaran lahan untuk dijadikan areal pekebunan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: