Benang Kusut Kenaikan BBM Dan BLT Plus

* BLT, Bukan Solusi Redam Kenaikan BBM

Pemerintah akhirnya memastikan harga BBM naik lagi. Keputusan ini disampaikan Pemerintah melalui Menko Ekonomi Boediono usai rapat terbatas di Kantor Presiden hari Senin, 5 Mei lalu.

Alasan utama untuk menaikkan BBM, sebagaimana berkali-kali diungkap oleh pemerintah, adalah tekanan yang semakin berat terhadap APBN 2008 akibat terus membengkaknya subsidi BBM sebagai dampak langsung dari terus meroketnya harga BBM dipasaran internasional. Kebijakan menaikkan BBM ini, menurut pemerintah adalah merupakan langkah terakhir.

Berkaitan dengan itu, Direktur Eksekutif Lembaga Bina Masyarakat Indonesia (LBMI), Selasa (20/5) di Rantauprapat mengutarakan penilaiannya. Katanya, Pemerintah selalu hanya beralasan besarnya subsidi, yang tidak sebanding lagi dengan beban APBN. Akibatnya, terakhir kali disebut oleh pejabat pemerintah beban APBN sebelumnya sebanyak lebih dari Rp200 triliun, menjadi akan membengkak lebih Rp300 triliun, bila BBM tidak segera dinaikkan. Maka, tegasnya, rencana itu, patut dipertanyakan.

Alasan itu, kata Yos dapat diterima secara rasional ketika kebenaran seluruh cadangan minyak mentah Indonesia diimpor dari luar negeri. “Faktanya, Indonesia hanya memproduksi 910 ribu barrel minyak mentah setiap hari. Memang, produksi dalam negeri sebanyak itu tidak mencukupi, karenanya harus diimpor. Nah, mestinya, subsidi itu dihitung dari jumlah minyak mentah yang diimpor itu,” ulasnya.

Pernyataan bahwa kenaikan BBM demi orang miskin juga harus dipertanyakan. Karena, tambahnya, dampak dari kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi mengakibatkan orang miskin akan bertambah. Jadi, bagaimana bisa disebut bahwa kenaikan BBM dilakukan demi orang miskin, bila dalam hitungan dan pada kenyataannya jumlah orang miskin justru akan bertambah.

Bantuan Langsung Tunai (BLT PLUS) plus yang akan dibagikan kepada rakyat miskin juga tidak mencukupi karena selain jumlahnya kurang, juga sifatnya hanya sementara.

“Masyarakat hanya dididik untuk bersifat konsumtif. Bukan malah membantu mengatasi kesulitan ekonomi warga miskin,” paparnya.

Selain itu, paparnya, untuk kenaikan harga BBM sebesar 30 persen, kompensasi yang harus diterima masyarakat adalah minimal Rp168.000. Sementara itu, pemerintah berencana memberikan BLT PLUS plus hanya Rp 100.000 per bulan. Lagi pula itu hanya untuk 19 juta rakyat, sementara puluhan juta rakyat lainnya yang tidak masuk kategori miskin (menurut ukuran pemerintah), tidak mendapatkan apa-apa padahal mereka juga bukanlah kategori orang kaya. Mereka ini, juga terkena dampak kenaikan BBM.

Masih ada cara lain yang bisa ditempuh oleh pemerintah agar tidak menaikkan BBM. Antara lain seperti, melakukan penghematan belanja negara, pengembalian dana BLBI yang besarnya ratusan trilyun rupiah dari sejumlah konglomerat hitam, dan pemerintah harus memanfaatkan seoptimal mungkin sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, bukan justru menjual atau menyerahkan pengelolaannya kepada swasta, baik asing maupun domestik.

“Pemberian BLT plus untuk keluarga miskin (gakin) rawan penyelewengan, mulai dari jual beli kartu kompensasi BBM hingga uang jasa dan biaya transportasi pengambilan subsidi yang membebani. Sejak BLT plus dikucurkan bagi gakin, terdapat orang-orang yang tak merasa malu mengaku miskin hanya karena menginginkan BLT plus itu,” ujarnya.

Secara sosiologis, katanya lagi, kemiskinan diartikan keadaan seseorang yang tidak sanggup memelihara diri sendiri sesuai taraf hidup suatu kelompok dan tidak mampu memanfaatkan potensi fisik maupun mentalnya untuk memenuhi kebutuhan minimum.

Dengan demikian kemiskinan, lanjutnya merupakan masalah sosial bagi masyarakat.

Logikanya, seseorang enggan disebut miskin. Namun, kini gakin populer karena mendapat BLT plus. Kenyataan bahwa berlomba-lombanya masyarakat mendapatkan status miskin, menunjukkan rasa malu individu hilang ketika hal itu dilakukan secara kolektif.

Harga diri tidak lagi jadi pertimbangan utama. Tapi perebutan status miskin demi BLT plus ini bukan fenomena baru. Berbagai manipulasi kemiskinan yang dulu dimainkan Orde Baru, telah menyebar ke masyarakat dan menjadi sesuatu yang lumrah. Ketika menjadi sesuatu yang lumrah, rasa malu sudah tidak relevan lagi, pungkasnya.

Secara psikososial, kata Yos, orang hilang rasa malunya bila melakukan sesuatu beramai-ramai. Demikian pula korupsi secara kolektif, tidak menimbulkan rasa malu bagi pelakunya. Jika pada era Orde Baru berbagai daerah berebut meraih label daerah miskin untuk mendapat bantuan Inpres Desa Tertinggal (IDT), kini orang berebut meraih status miskin.

“Inilah simptom dari kondisi penyakit sosial yang berat, dan diperparah oleh sistem yang salah kaprah. BLT plus muncul sebagai virus psikososial yang dapat melumpuhkan potensi sumber daya manusia (SDM) dalam masyarakat,” imbuhnya.

Pelaksanaan pemberian BLT plus, tudingnya, tidak akan efektif untuk meredam atau mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM bagi lapisan masyarakat terbawah atau bagi masyarakat miskin.

“Sebaiknya, program yang harus dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak melonjaknya harga minyak adalah penyediaan lapangan kerja bagi penduduk, pemanfaatan dan pembukaan lapangan kerja misalnya di bidang pertanian dengan penyiapan lahan, bibit, pupuk, dan sebagainya,” ucapnya.

Dengan cara ini, tuturnya, akan membuka pekerjaan bagi masyarakat di satu pihak dan meningkatkan produksi pangan di lain pihak. “Penciptaan lapangan kerja adalah merupakan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi pemerintah di tengah perkembangan industri yang saat ini kurang menggembirakan sehingga pekerjaan merupakan hal yang sulit diperoleh masyarakat,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: