Terkait Pengembangan Ternak Sapi di Labuhanbatu

*Wabup Sesalkan Sikap Perusahaan Perkebunan

Wakil Bupati (Wabup) Labuhanbatu, Sudarwanto BSc mengungkapkan keprihatinannya terhadap sikap atau kebijakan sebagian perusahaan perkebunan di Labuhanbatu, terkait larangan pemanfaatan lahannya sebagai tempat ‘ngangon’ kawanan ternak lembu.

Keprihatinan tersebut disampaikan Sudarwanto saat penyerahan 40 ekor lembu sebagai bentuk community development (CD) dari Asian Agri Grup kepada kelompok tani di Desa Sumber Rejo, Kecamatan NA IX – X, Labuhanbatu, Minggu (25/5).
“Saya sangat prihatin dengan sikap perusahaan perkebunan yang ada di Labuhanbatu ini. Padahal, apa sih ruginya mereka memberikan lahannya untuk tempat ngangon lembu. Hitung-hitung pendekatan kepada masyarakat sekitar perkebunan,” ucap Sudarwanto dalam sambutannya pada acara tersebut.
Keprihatinan Wabup tersebut bukan tidak beralasan. Selain untuk pendekatan terhadap masyarakat itu sendiri, ada sisi positif secara umum yang akan didapat warga Labuhanbatu umumnya.
Menurut Sudarwanto, jika pihak perkebunan mengizinkan lahannya sebagai tempat ngangon lembu, maka 448.000 ekor lembu dapat diangonkan di lahan-lahan perusahaan perkebunan tersebut. “Hasil analisis kami, untuk seluas lahan perkebunan di Labuhanbatu, sangat memungkinkan bisa menampung 448.000 ekor lembu sebagai tempat meng-ngangon. Sayangnya, sebagian perkebunan tidak memberi izin lahannya dijejaki lembu,” ucap Ketua Pujakesuma Labuhanbatu itu.
Sudarwanto juga mengatakan, saat ini jumlah lembu yang ada di daerah tersebut sudah mencapai kurang lebih 20.000 ekor. Diperkirakan, pengembangan populasi lembu mengalami kesulitan mengingat terbatasnya lahan tempatnya berkembang.
Namun demikian, imbuhnya, pihaknya tetap berupaya membuat terobosan-terobosan pengembangan ternak yang menguntungkan secara ekonomi itu. Sampai saat ini, setidaknya pihaknya telah menjaring beberapa kelompok tani lainnya untuk turut mengikuti program tersebut.
Dicontohkannya, salah seorang petani binaannya yang berniat membeli lahan perkebunan sawit seluas tiga hektar dengan nilai uang sebesar Rp 130 juta. Setelah diberi penyuluhan tentang keuntungan ternak lembu, petani akhirnya mengalihkan uangnya untuk membeli lembu.
“Yang beruntung, bukan hanya pemilik lembu tadi. Tetapi yang menjaganya/mengurusnya juga secara perlahan ekonominya terangkat. Dalam tempo lima tahun, tukang angon itu juga akan memiliki lembu dengan sistim bagi hasil,” jelasnya.
Lebih jauh Sudarwanto menguraikan, sistem bagi hasil itu diterjemaahkannya dengan istilah Jawa, yakni “Mitro Sugeh”. Artinya, konsep yang sifatnya mengutamakan kerja sama menuju kejayaan. “Yang kaya makin kaya, yang miskin jadi kaya. Itulah arti sebenarnya dari Mitro Sugeh,” tegasnya.
Selain itu, lanjut dia, ada hasil ganda dari berternak lembu. Kotoran lembu bisa dijadikan pupuk yang diolah atau disebut pupuk Bokasi. Tidak hanya itu, ampas lembu itu juga bisa diproduksi menjadi metan atau sejenis bio gas bagi kebutuhan rumah tangga. “Namun karena biayanya masih terlalu mahal, jadi produksi atau pengolahannya masih terbatas,” ucap Sudarwanto.
Sudarwanto juga menjelaskan, pengembangan ternak sapi secara umum bertujuan untuk swasembada daging di daerah tersebut. Konsep tersebut merupakan program yang dicanangkan secara nasional oleh Presiden RI sebelumnya.

*mawardi berampu
MedanBisnis – Rantauprapat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: