Melihat Keadaan Bayi 2 bulan dalam Tahanan

* Wanita dan Anak Digabung dalam Satu Ruang Tahanan
Bayi usia 2 bulan ikut mendekam dalam tahanan pihak Pengadilan Negeri Rantauprapat. Setelah, sang Ibu mesti menanggung perbuatannya di mata hukum. Ironisnya, meski pihak keluarga tersangka melakukan permohonan penahanan, namun proses hukum tetap berjalan.


Tak jarang, setiap orang mengangap bayi yang baru terlahir, masih suci dari noda dan dosa. Pun, bahkan hingga beranjak remaja, tak jarang segala perbuatan dan tingkah laku sosok yang dianggap masih kanak-kanak akan mendapat pengecualian dimata hukum.
Tapi, lain halnya dengan Mika (2,6). Anak kedua dari pasangan suami istri Misinem (26) dan Suwedi (28) warga Kampung Sawah Rantauprapat ini, akhirnya terpaksa ikut nginap di ruang tahanan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Rantauprapat karena belum dapat dipisahkan dengan Misinem (Ibunya) yang masih menjalani proses hukum.
Meski masih merawat Balita. Terkesan, pihak Kejaksaan Negeri Rantauprapat tetap bersikukuh untuk melakukan proses hukum terhadap Misinem. Menilik dari usia Mika yang masih berumur kurang dari dua bulan, kala pertama kali Misinem ditetapkan sebagai penghuni tahanan Kejaksaan, padahal keduanya belum dapat dipisahkan.
Namun, setelah menjalani mas tahanan lebih dua puluh hari dan meninjakkan usia 2,6 bulan, bayi mungil yang sama sekali belum mengerti akan arti hidup ini, akhirnya terpaksa turut serta bersama Misinem tinggal dalam ruang tahanan LP Lobusona Rantauprapat.
Padahal, pihak keluarga dalam hal ini Edi sebelumnya juga telah memohon kepada pihak Jaksa untuk dapat melakukan penangguhan penahanan.
Rabu siang (28/5), dalam ruang tahanan PN Rantauprapat, kedua anak beranak misinem dan Mika berada satu ruangan bersama para tahanan lainnya. Baik pria dan wanita. Belasan terdakwa disana, seakan tidak mempengaruhi rasa khawatir bagi keduanya. Terlebih lagi dengan Mika, udara pengap dalam ruangan itu seakan akan malah membuat dirinya terlelap tidur dalam pangkuan Misinem.
Kala itu, ketika disambangi sebelum digelarnya persidangan pertama kasus itu, melihat secara dekat kondisi keduanya yang secara pasti bakal menjadi perhatian orang ramai. Sebagai contoh, masyarakat lain yang ada kala itu juga turut memperhatikan dan bertanya penyebab keduanya mesti berada dibalik terali besi.
Kepala PN Rantauprapat Moestofa kepada wartawan di ruang kerjanya mengakui belum tahu betul persoalan yang ada. Setelah menerima penjelasan dan kronoligis permasalahan yang terjadi dari kalangan wartawan, dianya mengakui proses penangguhan dan pengalihan tahanan terhadap kedua dapat saja dilakukan. Terlebih lagi, mempetimbangkan rasa demi kemanusiaan.
Namun, katanya, sepanjang, pihaknya menerima permohonan dari pihak keluarga yang bersedia sebagai penjamin proses itu. “Sepanjang ada penjamin yang jelas, kemungkinan akan dilakukan pengalihan dan penangguhan penahanan. Dan, mesti sesuai ketentuan yang ada,” ungkap Moestofa.
Mengetahui kondisi terdakwa yang masih berstatus memiliki dan masih menyusui anak bayi, pihaknya, oleh Moestofa pada kesempatan itu, segera memindahkan kedua ibu dan anak itu, pada ruang tahanan Anak dan wanita yang ada di komplek gedung PN Rantauprapat. “Kita sebenarnya telah memiliki ruang tahanan di PN Rantauprapat untuk anak dan wanita. Jadi, keduanya akan dipindahkan ke ruangan itu,” tegasnya.
Mendapatkan anak dan istrinya telah dipindahkan ke ruangan lainnya, Edi, mengakui sedikit terharu. Bahkan, dia juga berharap keduanya dapat segera dibebaskan dari tahanan. “Aku mengharapkan anak dan istriku dapat dikeluarkan. Agar kami dapat berkumpul dengan keluarga,” harapnya memelas.
Dikisahkan Edi, permasalahan bermula ketika dirinya, Kamis 8 Juni 2006 lalu, melakukan peminjaman sejumlah uang kepada FP, salahseorang warga Rantauprapat yang juga guru SD. Sebagai sitajaminan, dirinya turut mengadaikan sebuah sepedamotor merek Suzuki Shogun nopol BK4140 YY. “Aku meminjam uang sebesar Rp2 juta dengan agunan Sepedamotor,” bebernya mengawali perbincangan.
Namun, pada pembayaran angsuran pertama, dirinya menyerahkan uang sebesar Rp1 juta kepada istrinya. Sesalnya, ternyata Misinem sang istri hanya menyetorkan uang sejumlah Rp500 ribu. Dan, untuk meyakinkan Edi, ternyata kwitansi penyetoran uang angsuran itu di perbaharui dengan mengantikan format angka Rp500 ribu menjadi Rp1 juta.
Hingga disini, persoalan belum muncul. Tapi, jelang jatuh tempo kredit, Sabtu 21 Oktober 2006 lalu, sekira pukul 20.00 WIB, Misinem melakukan pembayaran kembali sisa angsuran. Disini, mereka malah keberatan kepada FP. Sebab, Sp Motor sebagai jaminan tidak dapat diperolehnya lagi. Karena, dinyatakan telah hilang.
Meski dirinya telah melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian, dirinya belum mengetahui secara pasti kelanjutan persoalan itu. Malah, tambah Edi, FP selanjutnya melaporkan istrinya Misinem dengan dugaan dan disangkakan melakukan penipuan.
Sebelumnya Mohon Penangguhan Tahanan


Misinem, wanita berstatus Ibu rumah tangga (IRT) ini, semula memohon penangguhan penahanan melalui Penasihat Hukum Sulaiman Saleh SH dan Dahliana Munthe serta Karmila Sihombing dari LSM TEC yang prihatin dengan apa yang akan dialami Misinem dan bayinya.
Namun Kejaksaan Negeri Rantauprapat tidak mengabulkan permohonan dimaksud.
Sulaiman Saleh, sebelumnya mengaku kecewa dengan sikap pihak Kejari Rantauprapat. Terlebih lagi, kepada Jaksa penuntut umum (JPU) Ika Syahfitri Salim yang menangani perkara ini.
Senin (12/5) malam lalu, Sulaiman Saleh di kediamannya Jalan Sirandorung kepada sejumlah wartawan mengatakan Jaksa Kejari Rantauprapat hanya berani menahan orang miskin atau rakyat kecil.
Betapa tidak, katanya, terdakwa korupsi Dinas Kesehatan Pemkab Labuhanbatu Rp1,7 tidak pernah ditahan sejak penyidikan tahun 2005 hingga persidangan yang masih proses sampai dengan sekarang dan oknum guru yang melaporkan Misinem ketika diudukan Misinem dengan tuduhan penggelapan sepeda motor.
Dahliana Munthe menerangkan, hari Kamis 8 Juni 2006 Misinem bersama Uli mendatangi oknum guru SD, FP, di rumahnya untuk meminjam uang Rp2 juta dengan memberi jaminan sepeda motor Shogun BK 4140 YY dan 1 lembar STNK atas nama Misnah yang ditaksir seharga Rp7 juta. Guru SD itu pun memberikan uang dimaksud serta korban menyerahkan sepeda motor dan buku STNK.
Setelah jatuh tempo Sabtu 21 Oktober 2006 sekira pukul 20:00 WIB Misinem datang ke rumah oknum guru itu dengan maksud melunasi pinjaman uang Rp2 juta dan meminta sepeda motor dan STNK dikembalikan. Namun ternyata oknum guru tidak mengembalikannya dengan alasan sepeda motor itu telah hilang. Perbuatan oknum guru diancam dalam pasal 372 KUHP dan dakwaan kedua pasal 378 KUHP.
Dalam kasus ini JPU MS Irene SH MHum mengakui tidak menahan oknum guru itu. JPU menuntutnya 5 bulan penjara dan dihukum majelis hakim PN Rantauprapat 3 bulan penjara dengan masa percobaan selama 6 bulan.
Setelah putusan tersebut, oknum guru SD melaporkan Misinem ke polisi dengan tuduhan memalsukan tandatangannya dalam kwitansi pembayaran pinjaman uang kepada oknum guru. Proses lanjut dan Kajari Rantauprapat dengan surat nomor:Print-426/N.2.16/05/2008 tanggal 8 Mei 2008 memerintahkan JPU Ika Syahfitri Salim SH menahan tersangka Misinem. IRT itu disangka melakukan perbuatan penipuan pada hari Senin 23 Oktober 2008 dan ditahan. Bayinya pun turut dalam penjara.
Kajari Rantauprapat M Ali Nafiah Pohan SH melalui JPU Ika Syahfitri Salim SH yang dikonfirmasi wartawan di kantor Kejari, Kamis (15/5), mengatakan telah menahan ibu yang memiliki bayi 2 bulan itu di Lapas sejak 8 Mei 2008. Dia mengakui tersangka dan PH tersangka memohon penangguhan namun tidak diberikan karena identitas suami tersangka sebagai penjamin tidak jelas karena tidak memiliki KTP yang masih berlaku. KTP diurus namun tersangka sudah sempat ditahan.
“Tersangka sudah saya tahan. Saya tidak mempertimbangkan bayinya. Ibu hamil pun saya tahan sekarang ada di Lapas,” ungkap Ika seraya mengatakan Kajari dan Kasi Pidum pun sependapat dengan penahanan tersangka itu kala itu.
Rabu siang (28/5) ketika dipertanyakan status penahanan Misinem dan Mika, kepada JPU Ika. Namun, katanya singkat, kini status Misinem telah menjadi tahanan pihak PN Rantauprapat. “Misinem kini menjadi tahanan PN Rantauprapat. Silahkan tanya kepada Majelis Hakim,” ujarnya singkat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: