Peringati Seabad Hari Kebangkitan Nasional di Labuhanbatu

*DHC BP Kejuangan45 Adakan Sarasehan

Sarasehan seabad Hari Kebangkitan Nasional di Labuhanbatu jadi tonggak awal acara pembahasan perkembangan daerah bermotto Ikan Bina en Pabolo itu kedepan.

Soalnya, dari acara yang diselenggarakan pihak panitia Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudayaan (BP) Kejuangan45 Labuhanbatu yang dirangkai dengan acara memperingati Hari Lahirnya Pancasila, Minggu (1/6) kemaren, itu penuh dengan saran dan masukan bagi perkembangan Labuhanbatu.

Gelar acara di Tatengger (Prasasti, red) dan Gedung Tugu Juang 45, tepatnya di kawasan Lobusona, Rantau Selatan, Labuhanbatu itu, turut dihadiri berbagai kalangan. Seperti, dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) se Labuhanbatu. Selain itu, diikuti beberapa kalangan lainnya, seperti dari advokat, unsur Pers dan para mantan Pejuang yang turut membela di Negara terdahulu di daerah itu.

Dari sana, terangkum berbagai saran dan masukan yang berarti bagi perkembangan daerah itu kedepan. Bahkan, acara yang kemudian hari akan dijadikan sebagai wahana pembahasan-pembahasan dan wadah mengkaji dan menganalisa berbagai kepentingan masyarakat Labuhanbatu itu, rencananya akan lebih dioptimalkan lagi. Salahsatunya, dengan jalan lebih memfokuskan bahasan-bahasan yang akan dilempar dalam acara serupa. Dari sana, kemudian akan dijadikan bahan masukan bagi pihak-pihak tertentu.

“Dari acara ini, semoga tercetus berbagai masukan dan saran dalam mempertahankan dan meningkatkan kesadaran rakyat tentang arti hakiki dari hari-hari bersejarah, khusunya untuk Labuhanbatu,” jelasnya.

Selain masukan yang bersifat persuatif, ternyata dari situ, juga ditemui masukan-masukan yang bersifat kritikan pedas bagi kalangan Pemerintahan.

Sayangnya, pada acara itu, tidak diikut sertai utusan dari pihak Pemkab Labuhanbatu. Pun demikian, Wakil Ketua I DHC BP Kejuangan 45 Labuhanbatu Bahari Hasibuan mengakui diera dewasa ini, perlu dilakukanya pelaksanaan koreksi terhadap kinerja para pejabat. Sebab, semata-mata untuk kemajuan daerah Labuhanbatu.

“Jangan karena berkuasa menjadi sewenang-wenang,” jelasnya. Malah, dugaan KKN dan kejahatan jabatan lainya kian mewarnai kinerja pada pejabat yang ada.

Sebab, katanya, kekuasaan itu, sejatinya dipergunakan untuk menggali potensi daerah dan mensejahterkan rakyatnya.

Pun demikian, tambahnya lagi, jangan pula lantas mendiskreditkan dan mempersalahkan sesuatu hal yang diperbuat seseorang dalam kepentingan umum.

“Apa yang diperbuat dalam kebaikan, tentu tidak sampai pada tingkat kesempurnaan. Maka, dari itu pula adanya koreksi membangun,” paparnya.

Namun, tegasnya, koreksi semisal itu bukan untuk mempersalahkan.

Mereka para mantan pejuang terdahulu, ujar pejuang salahsatu laskar di Labuhanbatu itu, tidak belum dapat memberi banyak pada Bangsa dan Negara. Namun, kepada generasi muda kemudian diserahkan tongkat estafet pembangunan dan perjuangan bangsa kedepan.

“Kami para pejuang tidak banyak memberi yang terbaik bagi Bangsa. Tapi, kepada generasi muda kami minta agar dapat membangkitkan rasa solidaritas dan kesetiakawanan dalam berbangsa dan bernegara. Bangkitkan semangat kebangsaan dan cita-cita perjuangan tahun 1945,” paparnya.

Sedangkan saran dan masukan dari Syahbuddin dan Nurdin Latief Lubis, dua mantan pejabat Labuhanbatu yang juga eksponen 66 ini mengakui perlunya dilakukan inventarisir tentang kebutuhan yang mendesak untuk kemajuan Labuhanbatu.

Dalam skala lokal dan regional, tambah mereka, acara seperti itu sangat bermanfaat untuk memberi sumbang dan saran dalam mencetus ide-ide yang dibutuhkan kedepan.

Tapi,tambahnya, sebaiknya acara serupa kedepan agar lebih ditentukan lagi materi yang akan menjadi topik pembahasan.

“Seperti halnya, mengkaji kebutuhan mendesak yang terjadi. Selain itu, apakah pemekaran Labuhanbatu efektif untuk mensejahterakan rakyat. Atau, masih adakah infrastruktur dan sarana publik yang belum optimal,” jelasnya.

Hasil rangkuman acara itu sementara didapat, bahwa kesimpulan yang ada acara itu akan tetap dijadikan sebagai forum pembahasan kepentingan Labuhanbatu kedepan. Dan sebagai forum awal tetap akan membutuhkan lanjutan.

“Tetap terus dibutuhkan adanya kajian dan analisa berbagai hal yang dubutuhkan Labuhanbatu,’ ujarnya.

Sedangkan usulan menjadikan tugu Juang 45 sebagai wisata sejarah akan tetap menjadi pertimbangan dan perhatian.

“Tugu Juang dijadikan sebagai titik tujuan wisata sejarah akan dapat diwujudkan sepanjang adanya saling kolaborasi dan kerjasama. Tapi mesti demikian akan dilakukan dengan kesederhanaan,” tandasnya.

Jappar Siddik Nasution, Sekretaris The Enteng Center (TEC) :

Era Reformasi Pejabat dan Warga Kehilangan 4 Nilai


Era Reformasi dewasa ini, ternyata membuat berbagai kalangan telah kehilangan 4 kriteria jatidiri manusia seutuhnya. Maka tak heran, saat-saat sekarang, kerap terdengar di media massa elektronik dan cetak, tingkah dan pola laku manusia yang kian nyeleneh.

Empat kriteria itu, terdiri dari, kian lunturnya nilai etika sebagai manusia. Memudarnya nilai Moralitas, tidak kentalnya rasa dan nilai memiliki Berbangsa dan bernegara serta semakin tergerusnya nilai Nuansa Malu ditengah-tengah masyarakat dan para pejabat Pemerintahan.

Indikasi pembuktiannya, kata Jappar Siddik Nasution, Sekretaris The Enteng Center pada acara sarasehan peringatan seabad Hari Kebangkitan Nasional di Tugu Junag45 Labuhanbatu, para pejabat tidak malu lagi dan kian tidak memiliki etika dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Sebab, tak jarang terdengar dan terlihat banyaknya pejabat yang akhirnya terpaksa berurusan dengan hukum disebabkan terindikasi kuat melakukan kejahatan korupsi. Bahkan lebih parah lagi, mesti mendekam dalam tahanan.

Naifnya lagi, dikalangan legoslasi sendiri juga tak jauh beda. Malah, seperti terdengar dan santer dibicarakan mass media adanya para anggota DPR RI yang ketahuan melakukan kejahatan asusila. Seperti, beredarnya video dan photo syur para wakil rakyat Indonesia disana.

“Ini membuktikan, sejak Reformasi nilai Etika, Moralitas, Rasa Memiliki dan Nuansa Malu telah kian pudar ditengah masyarakat,” jelasnya.

Bahkan, untuk skala Labuhanbatu, Jappar juga menilai hal itu terindikasi dugaan kurang optimalnya pemanfaatan dana APBD yang ada.

“Kekinian yang terjadi di Labuhanbatu, termasuk dalam optimalisasi pemanfaatan dana APBD yang tidak berjalan sesuai ketentuan dan harapan. Akibatnya, terjadikemunduran pembangunan layaknya 15 tahun kebelakang,” tegasnya.

Lahmuddin Hasibuan, Ketua Cinta Tanah Air Panai Area (CTAPA)

Pembukaan Areal Perkebunan dan Hilangnya Ketahanan Teritorial


Ketua Cinta Tanah Air Panai Area (CTAPA) Labuhanbatu, Lahmuddin Hasibuan menilai, sejarah pertempuran laskar Medan Area dan Laskar Pane Area pada masa penjajahan terdahulu dipesisir pantai Barat dan Timur Sumatera Utara mengalami kemenangan gemilang atas penjajah kolonial Belanda dan Jepang didasari oleh kiat dan tersedianya hutan dan sungai sebagai pertahanan wilayah teritorial.

Bahkan, potensi alam seperti itu juga sejatinya kedepan agar dapat dipertahankan. Selain untuk menjaga kelestarian alam,juga akan dapat meminimalisir gerak laju bangsa asing manakala sewaktu-waktu datang menyusup melakukan penjajahan kembali ke Indonesia, khususnya Sumut.

Tapi, kesalnya, kini pertahanan alam itu kian habis digerus derasnya alih fungsi hutan menjadi lahan-lahan perkebunan.

“Padahal, jaman penjajahan dahulu, potensi alam itu sangat mendukung pertahanan teritorial. Bagaimana tidak, ketersediaan hutan yang mampu menghambat masuknya pasukan luar akan sangat berperan. Sedangkan, sungai-sungaiyang ada sebagai prasarana penyelamatan diri dan pertahanan bagi Indonesia dari ancaman luar,” paparnya.

Tapi ironisnya, untuk skala lokal Labuhanbatu, hutan-hutan yang dahulunya masih banyak terdapat di kawasan pesisi pantai Timur Sumut, kini telah banyak beralih menjadi lahan perkebunan Sawit dan Karet.

Tragisnya, lahan perkebunan itu dominan kepemilikannya di jual kepada perusahaan modal asing (PMA).

“Adanya kebijakan pemberian ijin pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan, telah menyebabkan hilangnya wilayah pertahanan teritorial wilayah NKRI di Sumut,” paparnya.

Maka, katanya, sebagai solusi sedikitnya 25 persen lahan perkebunan itu selayaknya dikembalikan kepada masyarakat.

“Selain akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Juga, secara pasti akan menjadi pertahanan wilayah yang kuat bagi indonesia. Karena, warga yang memiliki lahan itu akan wajib melaksanakan bela negara,” tandasnya.

Nong Hilman, Ketua PWI Labuhanbatu

Generasi Muda perlu Dikenalkan pada Sejarah Labuhanbatu

Perkembangan Zaman, bukan malah membuat generasi muda kian mengenal sejarah perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan daerah Labuhanbatu dari tangan para penjajah.

Malah, tidak tertutup kemungkinan, banyak anak-anak Labuhanbatu sebagai generasi penerus bangsa yang tidak lagi mengetahui dan mengenal sejarah dan lokasi pertahanan wilayah Indonesia dari tangan penjajah.

Selain untuk mengenalkan sejarah dan lokasi yang perlu dikenang sebagai titik lokasi perjuangan para pahlawan di Labuhanbatu, peluncuran buku-buku yang memberi penjelasan dan gambaran sejarah perjuangan di Labuhanbatu sudah selayaknya dilakukan.

Menggugah kepedulian warga terhadap pembangunan daerah sendiri perlumenjadi catatan. Salahsatunya, dengan memperhatikan berbagai asset sejarah Labuhanbatu sebagai simbol perjuangan Bangsa dari para pejuang di daerah Labuhanbatu. Itu, kata Nong Hilman yang juga ketua PWI Labuhanbatu ini, dengan mengoptimalkan kerjasama dengan pihak Pemkab Labuhanbatu dalam hal ini Dinas Pendidikan setempat.

“Bagaimana agar anak Labuhanbatu mengetahui kalau daerah ini memiliki sejarah-sejarah penting dalam pergolakan perjuangan kemerdekaan Bangsa,” ujarnya.

Tambahnya lagi, generasi muda perlu mengetahui adanya pejuang-pejuang Labuhanbatu. Maka, sarannya, perlu digagas adanya penerbitan buku sejarah perjuangan di Labuhanbatu.

“Termasuk dalam hal ini, mengoptimalkan fungsi berbagai tatengger yang ada di Labuhanbatu sebagaia asset Labuhanbatu yang bernilai untuk di ketahui masyarakat Labuhanbatu dan luar daerah. Dalam hal ini, tidak salah kiranya, kalau Tugu Juang 45 yang memiliki panorama alam di kaki Bukitbarisan untuk dijadikan sebagai Wisata Sejarah,” gagasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: