Kondisi Sungai Bilah Mengkhawatirkan

Aktivitas kendaraan berat milik pengusaha galian C yang beroperasi di sepanjang Sungai Bilah Rantauprapat, Labuhanbatu mengkhawatirkan banyak pihak.

Mulai dari longsornya tebing di pinggiran sungai yang mengancam ikut tergerusnya tanah warga, juga pendangkalan sungai. Menurut warga di pinggiran Sungai Bilah,sejak beroperasinya penambangan pasir di wilayah itu pada 2000, warna air Sungai Bilah mulai berubah menjadi keruh seperti saat ini.Berbeda saat p e n a m b a n g menggunakan alat tradisional, seperti sekop dan perahu.

M e n u r u t Kepala Bagian (Kabag) Pertambangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Labuhanbatu Saljuddin, penggunaan backhoe dalam pengerukan pasir ini dimulai sekitar 2002–2003. “Kalau jumlahnya saya lupa,“ katanya kepada SINDO kemarin. Dari penelusuran SINDO di kawasan penambangan pasir di sepanjang Sungai Bilah, khususnya di Kelurahan Bilah Barat, kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

Di sana pada umumnya pekerja penambang pasir mengabaikan unsur keselamatan kerja. Mereka bekerja tidak menggunakan helm pelindung kepala, sarung tangan, dan sebagainya. Sementara prosedur penggalian tentang kedalamannya diduga telah diabaikan, yakni mencapai hampir 10 meter lebih. Diduga, pengusaha galian C hanya mengeruk pasir sebanyakbanyaknya saja.

Salah seorang sopir truk pengangkat pasir mengatakan, di tangkahan milik EN misalnya, dalam tempo sehari sanggup menghasilkan ratusan truk.“Wah, bisa menghasilkan 100 sampai 200 truk. Tapi, tergantung permintaan juga,“ ujarnya. Sopir yang hampir saban hari datang ke lokasi ini menyatakan, pasir itu biasanya di bawa ke daerah B a g a n b a t u , Riau.Soal harga pasir untuk satu truk enkel diseb u t k a n n y a Rp200.000, sedangkan ukuran satu dump truck Rp300.000.

D i r e k t u r Lembaga Bina Masya rakat Indonesia Yos Batubara mengkhawatirkan pendapatan asli daerah (PAD) yang dihasilkan dari pengusaha penambangan pasir itu.Menurut dia, sesuai dengan Perda No 42/2002, pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan Cobjekpajakadalahkegiatan eksplorasi bahan galian golongan C. “Yang menjadi dasar pengenaan pajak adalah nilai jual hasil eksploitasi bahan galian golongan C, dengan tarif pajak untuk dimanfaatkan dalam daerah pasir dan kerikil sebesar Rp2 per meter kubik,“ paparnya.

Sementara itu, kalau pasir- pasir tersebut dibawa keluar daerah Kabupaten Labuhanbatu berbeda nilai pajaknya, yakni Rp4.000 per meter kubiknya. (sartana nasution/SINDO)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: