Labuhanbatu Terancam Kekeringan

*Tanaman Komoditi Kelapa Sawit Dituding Penyebabnya

Labuhanbatu terancam kekeringan. Hal itu, akibat luasnya tanaman sawit baik yang dikelola masyarakat ataupun perkebunan. Labuhanbatu 10 tahun mendatang akan terancam mengalami kekeringan.
Saat ini saja tanda-tanda mengarah kekeringan itu telah terlihat.

Demikian dikatakan Kepala Kantor Informasi Penyuluh Pertanian (KIPP) Labuhanbatu Parenta Hasibuan di ruang kerjanya, Jumat (20/6).

Menurutnya, masyarakat maupun perkebunan saat ini berlomba menanam kelapa sawit dikarenakan tingginya harga dan penghasilan yang akan diperoleh.

Namun tanpa disadari dalam jangka waktu panjang, tanaman itu akan mengakibatkan alam Labuhanbatu kering dan tandus. “Harga sawit memang tinggi. Tapi, lihat saja sekarang telah terlihat gejalan kekeringan. Debit air disungai terus menurun akibat diserap tanaman kelapa sawit,” jelasnya.

Dikatakanya, kelapa sawit merupakan jenis tanaman monokultur yang memiliki akar serabut yang menjalar dipermukaan tanah. Tanaman jenis ini hanya menyerap air dalam jumlah besar tanpa menyimpan air. Berbeda dengan tanaman kerat atau kayu hutan misalnya, yang memiliki akar tunggal yang akarnya menjorok kedalam tanah. Sehingga, mampu menyimpan air.

Di Labuhanbatu, tepatnya di Kecamatan Torgamba saat ini katanya, persediaan air terus menipis akibat luasnya tanaman kelapa sawit milik perusahaan disana.
Selain mengakibatkan kekeringan, tanaman kelapa sawit juga berdampak mengurangi tingkat kesuburan tanah.

Kelapa sawit, katanya harus terus dipupuk dan dosis pupuk yang dibutuhkan akan terus meningkat. Itu, mengakibatkan tanah gersang dan tidak lagi subur. “Contohnya saja, di tanah sekitar pohon kelapa sawit semut-semut tidak lagi mau hidup didalam tanah tersebut. Itu, karena telah gersang dan panas. Dan, tidak nyaman lagi untuk binatang jenis cacing,” katanya.

Saat ini, aku Parenta, ia telah mengadakan analisis usaha tani yang akan mensosialisasikan dampak yang akan terjadi pada tanaman palawija akibat tanaman
kelapa sawit.

Ia berkeyakinan kelapa sawit juga mempengaruhi jadwal musim tanam padi dan tanaman palawija lainnya. Akibatnya, kekeringan dan cuaca yang tidak menentu. “Kalau orang tua dulu bisa memastikan kalau bulan Desember atau ada ber-ber nya itu musim hujan. Tapi, sekarang sulit diprediksi akibat pemanasan global. Mungkin termasuk sawit ini penyebabnya,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: