Manajemen Kesehatan Dan Pemekaran Labuhan Batu

Kesehatan, memang menjadi masalah krusial dan mendasar bagi masyarakat di belahan negara manapun. Di Indonesia, pentingnya bidang kesehatan dituangkan dalam UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pelayanan kesehatan. dan pasal 34 ayat (3), dengan menempatkan status sehat dan pelayanan kesehatan merupakan hak masyarakat.

Secara empiris, pesan yang ingin disampaikan adalah keseriusan dari upaya pemerintah untuk menempatkan sektor kesehatan sebagai salah satu sektor utama dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pelayanan kesehatan, promosi kesehatan dan pembiayaan kesehatan menjadi satu kesatuan integral dalam mendorong sistem pelayanan kesehatan yang baik. Konsepsi dasar kebijakan kesehatan yang demikian, tentunya tidak hanya dan harus berjalan pada level nasional saja. Tetapi harus inklude dalam kebijakan dasar kesehatan yang ada di daerah. Termasuk juga adalah Kabupaten Labuhan Batu.

Seperti diketahui, saat ini sedang dilakukan proses dan pembahasan terkait dengan  pemekaran Kabupaten Labuhan Batu, yang menurut rencana akan dimekarkan menjadi tiga kabupaten yakni : Labuhanbatu Selatan dengan Ibukota Kota Pinang, terdiri 5 kecamatan: Kota Pinang, Silangkitang,Torgamba,Sei Kanan dan Kampong Rakyat. Labuhanbatu Utara ibukotanya Aekkanopan terdiri 8 kecamatan yakni: Kualu Hulu, Kualu Hilir, Kualu Selatan, Kualu Ledong, Aek Natas, NA IX-X dan Merbau dan Labuhan Batu (Induk) ibukotanya Rantauprapat 9 kecamatan.

Yang bisa menjadi catatan penting terkait dengan rencana pemekaran, pemekaran ini jangan atas dasar kepentingan politik dan kekuasaan semata. Tetapi semangatnya harus digeser tentunya dalam kerangka distribusi kesejahteraan termasuk di dalamnya adalah upaya untuk lebih mendorong peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih manifes di daerah. Artinya, semangat untuk mendorong pelayanan kesehatan yang berkualitas juga harus menjadi satu kesatuan integral dari semangat untuk melakukan pemekaran di Kabupaten Labuhan Batu.

Pelayanan berkualitas
Pelayanan secara berkualitas memuat aspek-aspek pokok antara lain: efektivitas, efisiensi, keamanan-kenyamanan dan kepuasan pelanggan. Tingkat efektivitas dapat dilihat dari sejauh mana sistem pelayanan itu menggunakan sumber-sumber daya secara memadai, sesuai kebutuhan dan masalah yang dihadapi.

Tingkat efisiensi mengukur seberapa tingkat penggunaan sumber-sumber daya secara minimal dalam pelaksanaan pekerjaan. Tingkat efisiensi juga dapat diukur dari besarnya sumber daya yang terbuang. Semakin besar sumber daya yang terbuang, menunjukkan semakin rendah tingkat efisiensinya.

Aspek keamanan dan kenyamanan dalam sistem pelayanan, dapat dilihat dari dua sisi, baik dari provider maupun dari sisi customer. Penilaian aspek keamanan-kenyamanan menunjuk pada adatidaknya prosedur standar dan tingkat kepatuhan pada standar pelayanan yang ada. Adanya standar pelayanan maupun prosedur kerja menjamin provider dapat bekerja secara sistematis, terkontrol dan bebas dari rasa ‘was-was’ akan komplain. Sementara itu, customer memperoleh ‘paket’ pelayanan secara utuh.

Kepuasan pelanggan yang dilayani merupakan indikator sistem pelayanan. Mengukur kepuasan pelanggan, merupakan persoalan yang cukup pelik. Sehingga tidak jarang, unsur ini sering kali diabaikan dan jarang dilakukan. Disebut pelik, karena pengukuran kepuasan pelanggan harus memperhatikan validitas pengukuran, sehingga harus memperhatikan metode dan instrumen yang tepat. Sistem pelayanan pada organisasi profit-oriented, tingkat kepuasan pelanggan seringkali dihubungkan dengan tingkat keuntungan ‘finansial’ yang diperoleh.

Sebaliknya Sistem pelayanan pada organisasi social-oriented, kepuasan pelanggan banyak dihubungkan dengan tingkat kunjungan ulang pelanggan. Meskipun kenyataanya tidak selalu demikian, karena pelayanan yang sifatnya monopolistik dapat meningkatkan ‘keterpaksaan’ pelanggan untuk datang dan minta dilayani. Pelanggan tidak memiliki pilihan.

Manajemen Kesehatan
Kata kunci yang bisa digunakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dari pelayanan kesehatan adalah sistem pengelolaan atau menajemen kesehatan yang dihadirkan aparat terkait.

Dengan demikian, satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dari pembangunan kesehatan, khususnya signifikansinya terhadap pemekaran di Labuhan Batu adalah aspek manajemen kesehatan. Sebagaimana diketahui, menajemen kesehatan ini akan mencakup enam sub sistem, yakni (1) Subsistem Upaya Kesehatan; (2) Subsistem Pembiayaan Kesehatan; (3) Subsistem Sumberdaya Manusia Kesehatan; (4) Subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan; (5) Subsistem Pemberdayaan Masyarakat; dan (6) Subsistem Manajemen Kesehatan.

Pentingnya manajemen kesehatan ini bisa dianalogikan sebagai sistem dalam tubuh manusia. Di dalam sistem itu ada sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem ekskresi, ada sistem kekebalan tubuh, sistem syaraf pusat dan perifer dengan beberapa bagian otonom. Secara fungsional, mereka memiliki fungsi dan peran yang jelas, tetapi terkoordinasi. Sementara secara anatomis, masing-masing juga memiliki struktur dan masing-masing struktur memiliki peran spesifik dengan peran yang dimiliki.

Demikian, pendekatan atau metode dari berbagai kebijakan kesehatan di daerah khususnya yang menyangkut metode pengelolaan kesehatan di daerah harus mengacu pada kebijakan dasar dari kebijakan kesehatan secara nasional, sehingga secara otomatis melekat kepada setiap subsistem yang ada serta tergantung pada kebijakan dan peraturan yang ada, khususnya kebijakan-kebijakan daerah.

Sebagai catatan adalah World Health Report 2003 berjudul Shaping the Future menegaskan, perlunya pembenahan pada sitem kesehatan di berbagai negara. Tanpa ada pembenahan sistem kesehatan, maka berapapun sumber daya yang akan dialokasikan hanya akan meningkatkan sedikit pencapaian tujuan dari sistem kesehatan. Di bagian lain dikatakan, kejelasan peran dan fungsi dari setiap komponen sistem merupakan dasar yang baik dalam pengembangan menajemen kesehatan termasuk di dalamnya adalah pelayanan kesehatannya.

Ataupun catatan dari British Medical Journal (BMJ) Volume 3283 Januari 2004 menegaskan akan pentingnya pembenahan sistem kesehatan. Gill Walt, professor of international health policy menuliskan, shaping the future depends on strengthening health systems. Jelas, tampaknya agenda perbaikan sistem kesehatan menjadi sangat penting, di saat orang sudah mulai buntu dengan berbagai intervensi kesehatan yang tidak membuahkan hasil yang berarti.

Dengan demikian, efisiensi dalam system pelayanan kesehatan akan terwujud jika sumber-sumber daya kesehatan, baik alat, sarana, dana, teknik, metode dan informasi tidak banyak yang terbuang sia-sia. Untuk mewujudkan keamanan dan rasa nyaman dalam pelayanan kesehatan harus didukung adanya pola kebijakan dasar, dasar hukum, prosedur dan standar praktek dalam pelayanan kesehatan yang berorientasi pada profesionalisme dan pemenuhan hak dasar rakyat. Jika faktor-faktor di atas dapat dibangun, maka tidaklah sulit untuk mewujudkan pelayanan kesehatan dengan kepuasan masyarakat yang tinggi.

Dengan semangat ini, menurut saya, upaya untuk melakukan pemekaran Kabupaten Labuhan Batu tidak akan banyak mendapatkan pertentangan dari berbagai kalangan. Tetapi justru akan mendapatkan support dari masyarakat.
Ditulis oleh :
EKO SETIOBUDI Penulis adalah Alumni Megister Perencanaan Kebijakan Publik FE-UI(ags)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: