Proyek Pengadaan Terumbu Karang Ratusan Juta Rupiah di Panai Hilir dan Kualuh Leidong Dinilai Kurang Efesien

Presiden Eksekutif LSM RI Cabang Labuhanbatu P. Lumban Tobing mengungkapkan, peletakan terumbu karang buatan berbiaya hampir lima ratusan juta rupiah di Perairan Selat Malaka Kecamatan Panai Hilir dan Kualuh Leidong untuk menyelamatkan populasi ikan di lingkungan perairan tersebut dinilai mubazir dan kurang efisien.
Menutut Tobing, cara yang penting dalam hal penyelamatan ikan di perairan itu supaya terhindar dari para nelayan-nelayan bandel haruslah melalui pengawasan rutin dari Pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Labuhanbatu ditambah dengan kekuatan petugas keamanan laut atau Polisi Kelautan Di sekitar lokasi yang dianggap rawan di pesisir pantai cukup dibangun suatu pos untuk pengamanan dan dijaga secara bergantian khusus untuk mengamati para nelayan-nelayan bandel tersebut. “Yang namanya kehidupan ikan, tidak mungkin kita hambat dan paksakan supaya ruang lingkup hidupnya tetap di lokasi terumbu kerang buatan tersebut. Apalagi dilautan luas,” kata Tobing kepada SIB menanggapi penggunaan dana alokasi khusus proyek TA 2006 senilai hampir lima ratusan juta rupiah yang alokasinya Pemkab Labuhan di perairan Selat Malaka Kecamatan Panai Hilir dan Kualuh Leidong Kabupaten Labuhanbatu.
“Tidak ada waktu kami melakukan pengawasan sampai 24 jam di lokasi itu. Peletakan terumbu karang buatan ini untuk mengawasi para nelayan itu sungai sangat efisien menurut penilaian kami,” kata Kadis Perikanan dan Kelautan Labuhanbatu Ir Harmen Raya Pane didampingi Pimpinan Proyek Pengadaan Terumbu Karang Buatan TA 2006 Ir. O. Gultom ketika dihubungi diruang kerjanya, belum lama ini.
Ketika didesak tentang jaminan perkembangan populasi ikan di perairan ini setelah dana yang hampir lima ratusan juta rupiah itu diinvestasikan Ir. O. Gultom mengatakan tidak ada target. “Secara matematis kami tidak bisa menjawab itu. Namun dengan adanya terumbu karang buatan ini, ikan-ikan di sekitar terumbu karang akan bisa diselamatkan dari kapal-kapal yang menggunakan jaring tarik (pukat trawl). Karena selama ini yang menghabisi ikan disekitar perairan ini adalah kapal-kapal trawl yang mengunakan jarring tarik,”katanya.
Secara rinci pimpinan proyek pengadaan terumbu karang buatan Ir O. Gultom mengungkapkan, plafon kontrak pengadaan terumbu karang buatan bersumber dari dana alokasi khusus APBD tingkat II Labuhanbatu Tahun Anggaran 2006 yang merupakan program Departemen Kelautan dan Perikanan pusat yang diserahkan ke Pemkab pemerintah kabupaten Labuhanbatu ini berkisar Rp 456.629.800,- dengan pelaksana proyek CV Deden Jaya yang berkedudukan di Rantauprapat.
Kata Ir. O. Gultom terumbu karang buatan ini hanya menggunakan bahan baku yang terdiri dari dua ribuan ban bekas yang dicor dengan semen. Satu unit terumbu karang terdiri dari 168 unit ban yang disusun bertingkat tiga dengan membentuk piramida dan dijalin dengan menggunakan tali poli akrilik. Jumlah sekuruh terumbu karang buatan itu adalah 10 unit yang dibagikan kepada 2 kecamatan. Yaitu 5 unit untuk Kecamatan Kualuh Ledong dan 5 unit di Kecamatan Kualah Hilir, Terumbu karang buatan tersebut diletakkan di perairan laut Selat Malaka dengan kedalaman 50 Meter di dasar laut.
Menjawab pertanyaan, berapa meter tinggi satu unit terumbu karang yang layak supaya jaring-jaring kapal trawl bisa tersangkut pada saat melakukan penangkapan, Ir O. Gultom tidak mengetahui secara positif. (WS/s/sib)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: