Kampanye 2009 Dimulai LMBI Sosialisasi Sampai ke “lapo-tuak” di Labuhanbatu

Sesuai dengan tahapan dan jadwal Pemilu 2009 bahwa kampanye pemilu legislatif telah dimulai. Jadwal kampanye kali ini adalah merupakan terpanjang karena memang pada pemilu-pemilu sebelumnya masa kampanye selama itu belum pernah berlangsung. Atau tepatnya belum pernah dituangkan secara legal formal dalam suatu peraturan perundangan.
Hal itu dikatakan Direktur Lembaga Bina Masyarakat Indonesia (LBMI) Yos Batubara kepada SIB, Kamis (17/7) di kantornya. Mengingat adanya hal-hal baru dalam rangkaian proses pemilu 2009, LBMI melakukan sosialisasi mengenai tata cara pemilu 2009.
“Sosialisasi ini bukan hanya dilaksanakan pada saat tahapan kampanye telah dimulai, melainkan sejak UU No 10/2008 tentang Pemilu telah sah untuk diundangkan, pada saat itu juga LBMI kerap melakukan sosialisasi,” jelas Yos Batubara.
Sebagai kelompok sasaran, disebutkan Yos, antara lain adalah masyarakat dampingan LBMI seperti petani, pedagang kaki lima, komunitas pekerja seks komersial (PSK), dukun-dukun, para penggali kuburan, bahkan para pengunjung lapo tuak (warung tuak-red) di kecamatan dan pedesaan Labuhanbatu.
Dalam sosialisasi, lanjutnya, secara garis besar, ada empat hal yang dijelaskan. Yaitu, ukuran daerah pemilihan, tata cara pencalonan, tata cara pemberian suara, dan tata cara penetapan pemenang, termasuk pembagian kursi dan penetapan calon terpilih.
“Misalnya pemilih dalam melakukan pemberian suara pada pemilu 2009 nanti tidak lagi mencoblos tetapi digantikan dengan cara memberi tanda atau menconteng, kemudian mengenai calon yang dapat dinyatakan terpilih langsung jika perolehan suaranya sekurang-kurangnya 30 persen dari bilangan pembagi pemilihan (BPP). Nomor urut bukan lagi hal yang prioritas bagi caleg seperti selama ini,” jelasnya.
Dengan adanya hal baru seperti ini, menurutnya, untuk tahun 2009 persaingan di antara para caleg dalam satu partai akan berkembang sehat. Sebab, dalam pemilu lalu, beban calon yang berada pada nomor urut calon jadi akan lebih ringan dibandingkan calon yang berada pada nomor urut bawah. Para calon pada nomor urut bawah, untuk keberhasilan dalam pemilu harus berusaha ekstra keras. Namun, tetap kecil kepastian untuk bisa terpilih. Tetapi pada tahun 2009 hal tersebut sepertinya tidak lagi.
Disebutkannya lagi, bagi masyarakat pemilih, sistem pemilu di tahun 2009 nanti telah memberi dampak terhadap kepedulian kepada calon-calon terpilih, masyarakat akan lebih peduli kepada wakil rakyat pilihannya. Kepedulian dapat dalam bentuk berupaya melakukan komunikasi, berlaku kritis, dan terus mengawasi. Suatu wujud kepedulian tinggi yang seharusnya tercipta dalam perbaikan demokrasi.
Dalam pelaksanaan sosialisasi, dirinya mengharapkan output yang akan dicapai antara lain : untuk meminimalisir angka golput, karena angka golput akan mempengaruhi jumlah BPP nantinya.
“Semakin minim angka golput, maka semakin besar angka BPP. Pemilih yang mendapat legitimasi politis dari rakyat adalah pemilih yang mampu menembus jumlah BPP, atau minimal memiliki perolehan suara sesuai ketentuan yakni memiliki perolehan suara sekurang-kurangnya 30 persen. Para petani, pedagang kaki lima, komunitas PSK, dukun-dukun, para penggali kuburan, bahkan para pengunjung lapo tuak adalah bagian dari masyarakat pemilih yang potensial diantara pemilih lainnya,” ujarnya. (S 18/m)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: