Dokter RS Rantauprapat Pelatihan Pasien Kecewa Terpaksa Ngungsi

Sejumlah tenaga dokter RSUD Rantauprapat mengikuti pelatihan meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan dengan sistem pengumpulan poin sesuai amanah Undang-Undang Praktik Kedokteran (UUPK) nomor 29 tahun 2004. Akibatnya, beberapa pasien yang menjalani rawat inap di fasilitas milik Pemkab Labuhanbatu itu, kecewa kurang mendapat pelayanan.

Seperti halnya dialami keluarga pasien Ahmad Rozali (58) warga Medan. Jumat lalu dia, istrinya dan 2 anaknya kecelakaan lalulintas di kawasan jalan lintas Sumatera di Desa Siamporik Labuhanbatu. Bersama istrinya, Nurmila (57) dan kedua anaknya Fitri (20) dan Andrian (4) dibawa ke RSUD Rantauprapat. Akan tetapi, mereka bukannya mendapatkan pelayanan medis secara optimal. Keluarga pasien kecewa berat karena dokter tidak ada merawat. Beberapa dokter di RS itu disebut sedang mengikuti pelatihan peningkatan kemampuan medis di luar daerah.

Alhasil, Jumat siang itu, keempat pasien, khususnya Ahmad Rozali dan istri Nurmila terpaksa dilarikan lagi ke RS Pirngadi Medan. Salah seorang perawat di RS tersebut menyebutkan, sebanyak 9 orang dokter sedang mengikuti pelatihan untuk peningkatan ilmu pengetahuan di luar daerah. “Keluarga pasien minta chek out. Mau dibawa ke Medan. Karena, dokter di sini (RSUD Rantauprapat, red) sedang kurang. Sebab, 9 orang sedang mengikuti pelatihan,” ujar petugas medis itu tanpa menyebut lokasi uji kompetensi para dokter dimaksud.

Kepala Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah (BP RSUD) Rantauprapat dr Tigor Panusunan Siregar SpBd, Selasa lalu via selular membenarkan sejumlah dokter di RS itu sedang mengikuti pelatihan kemampuan medis di luar kota. Tigor tidak menyebut lokasi pelatihan dimaksud dan berapa hari jadwal pelatihannya berlangsung. Dia menolak pelatihan dimaksud disebut implementasi UUPK No.29/2004 dalam hal pengumpulan poin.

“Bukan. Pelatihan itu hanya untuk meningkatkan kemampuan medis dokter,” katanya. Fasilitas kamar mandi dan WC yang terkesan kurang optimal juga menambah kekecewaan keluarga pasien di RS tersebut. Seperti halnya, keluarga salah seorang pasien yang sebelumnya dirawat di kelas kamar 5. Dianya, yang tidak ingin namanya dikorankan mengaku, fasilitas WC di ruangan itu tidak baik. Sebab, mengalami penumpatan. “Iya, WC-nya tumpat. Akibatnya, setiap buang air akan mengeluarkan aroma tidak sedap,” ujar pasien.

Akibatnya, pihak pasien memilih pindah ruangan ke VIP. Ketua DPPRNI Labuhanbatu Armansyah, mengatakan, sistem poin akan memacu peraihan kemampuan dan merangsang dokter mengikuti seminar dan mengikuti pelatihan namun jangan sempat mengakibatkan pelayanan medis terabaikan. Sesuai amanah UUPK No.29/2004, katanya, ditegaskan dengan sistem pengumpulan poin, maka diharapkan ilmu kedokteran akan dapat terus berkembang.

Dalam uji kompetensi, dokter harus menjadi orang yang profesional. Apabila seorang dokter tidak mengikuti perkembangan dunia kedokteran, maka dokter tersebut ilmunya rendah. Setiap dokter yang mengikuti seminar mendapat poin 3 dan pelatihan 15 poin. IDI meminta anggotanya mengumpulkan nilai minimal 240 poin per tahun. (S25/p)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: