Premium Rp 10.000/Liter di Labuhanbatu

Bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar semakin langka di Labuhanbatu sehingga mulai berdampak luas. Kini harganya melambung di tingkat pedagang eceran. Pengamatan MedanBisnis, harga yang beredar di sejumlah pengecer cukup fantastis dan bervariasi. Di beberapa sudut kota kabupaten itu, harga premium liternya dijual mencapai Rp 10.000 per liter. Sementara di inti kota, harganya mulai Rp 7000 – Rp 8000 per liternya.

Seperti halnya di Kelurahan Pulo Padang, Kecamatan Rantau Utara. Salahsatu kios menjual dengan harga Rp 10.000/liter, sedangkan di Desa Padang Pasir, Kecamatan Rantau Selatan mencapai Rp 9.000/liter.
Menurut pedagang eceran, naiknya harga BBM yang dijualnya dikarenakan tingkat kesulitan yang mereka alami saat akan mendapatkannya dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Mereka harus menunggu hingga berjam-jam guna mendapatkannya saat pasokan BBM masuk ke SPBU. Selain itu, mereka harus berulangkali antrean di SPBU dimaksud guna menambah stok yang dibutuhkan. “Kami hampir 4 jam menunggu giliran karena antrean cukup panjang. Itupun tidak bisa banyak, makanya bolak-balik-lah membelinya,” kata ibu bermarga Sitorus, salah seorang pedagang di Kecamatan Rantau Utara.
Lain lagi pengakuan seorang pedagang yang tidak ingin disebutkan namanya di Kecamatan Rantau Selatan. Pengakuannya, dirinya harus rela menyewa mobil tetangganya hanya untuk mendapatkan premium. Sebab, kalau pakai jerigen, dia khawatir tidak diperbolehkan. “Ya harus diakal-akali-lah, kalau tidak, ya enggak kebagian. Itu pun harus mau nunggu sampai lama. Makanya, kalau tidak mau beli seharga 10.000 per liter, ya tidak apa-apa,” ujar pedagang ketengan itu polos.
Krisis BBM yang berkepanjangan ini sudah berlangsung sejak kenaikan harga BBM beberapa bulan lalu. Hampir di setiap SPBU di daerah ini saat siang harinya terlihat sepi. Karena pasokan mereka habis terjual.
Namun saat BBM yang ditunggu-tunggu masuk antrean panjang tidak bisa dihindari. Bahkan antrean itu berlangsung dari sore hari hingga pagi besok harinya. Seperti yang terjadi di SPBU Jalan Ahmad Yani, Rantauprapat No: 142.142.25. “Saya harus menunggu hingga 8 jam. Dari sore saya di sini, padahal saya harus keluar kota hari ini juga,” terang Andi, salah seorang konsumen yang antrean di SPBU dimaksud.
Semula, hanya jenis premium yang mengalami kekosongan namun kini solar pun ikut-ikutan. Informasi yang diperoleh MedanBisnis menyebutkan kondisi itu diakibatkan pengurangan pasokan ke seluruh SPBU oleh pihak depot Pertamina. Ini menyebabkan persediaan premium hanya bertahan sampai 2 hari. Setelah itu, pihak SPBU dan warga terpaksa menanti pasokan selanjutnya yang sering datang terlambat dari Pertamina.
Sementara Rustam Azi, Humas Pertamina UPms I Medan mengemukakan, melambungnya harga tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah setempat sebagai lembaga pengawas harga BBM sedangkan Pertamina hanya sebagai penyalur sampai ke tingkat agen. “Tugas Pertamina hanya mendistribusikan minyak sampai ke tingkat agen dan untuk masalah harga yang diluar normal diawasi oleh pemerintah setempat baik gubernur maupun bupati atau walikota,” ujarnya menjawab MedanBisnis melalui selulernya.
Terkait dengan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melibihi harga eceran tertinggi (het) ditingkat pengecer, Humas Pertamina Sumatera Utara (Sumut) memberikan penjelasan, dikatakan, harga het BBM ditetapkan melalui SK Gubernur untuk tingkat provinsi/Kabupaten dan Kota yang tiap-tiap Bupati membuat Het didaerah masing-masing kemudian disahkan Gubernur.
Tambahnya, hal tersebut berdasarkan peraturan Gubernur Sumut nomor 19 tahun 2008. Namun jika penyalur atau agen berdasrkan bukti yang kuat didapati melakukan kecurangan maka pertamina dapat menindak dari segi administrasi.
Minyak Tanah Rp 9.000
Masyarakat Kota Sidikalang maupun warga Kabupaten Dairi mengeluhkan sikap sebagian besar agen minyak tanah yang menjual komoditas dengan harga Rp 6.500-Rp 9.000 per liter, padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan hanya Rp 2.700/liter.
Di Kecamatan Pegagan Hilir misalnya, menurut Efendy Lingga dan Mahmud Manik, agen menjual minyak tanah Rp 8.000 hingga Rp 9.000/liter. Warga terpaksa membeli karena membutuhkannya untuk dipergunakan memasak. Begitupun mereka mengharapkan Pemerintah Kabupaten Dairi menindak tegas agen yang masih menjual minyak tanah jauh di atas HET tersebut.
Rustam Azi yang dikonfirmasi kembali mengemukakan terkait harga minyak tanah yang melampaui HET di tingkat pengecer semestinya pengawasannya juga dilakukan oleh pemerintah daerah. Namun jika penyalur atau agen berdasrkan bukti yang kuat didapati melakukan kecurangan maka Pertamina dapat menindak dari segi administrasi.

MedanBisnis – Rantauprapat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: