Sidang Pemalsuan Akte Tanah Dikawal Ketat

Sejumlah anggota kepolisian dilengkapi senjata laras panjang mengawal sidang lanjutan kasus dugaan pemalsuan akte tanah di Pengadilan Negeri, Kamis (21/8). Pasalnya, ketiga terdakwa, berinisial Leo, Lin, dan Hor, juga dituding terlibat pembunuhan Mayor Lodewyik Sirait di Labuhanbatu, beberapa waktu lalu.

Di depan majelis hakim yang dipimpin Dolman Sinaga SH, ketiga terdakwa secara bergantian menuturkan kronologis kasus itu. Disebutkan, ibu terdakwa, Lydia Pangaribuan, sebelumnya menyodorkan selembar surat kosong agar ditandatangani ketiga terdakwa, tanpa mengetahui isinya.

Para terdakwa juga membenarkan surat yang dibawa Lydia dibawa ke pihak BPN untuk diurus menjadi
Sertifikat Hak Milik (SHM). “Ada 36 sertifikat untuk 14 ahli waris, salah satunya atas nama Lodewyik Sirait,” ungkap ketiganya secara bergantian. Sekitar tahun 2000, seluruh sertifikat tanah itu diagunkan ke Bank Mandiri dengan nilai pinjaman sebesar Rp 12,1 miliar, dengan tujuan untuk mendirikan PKS di Labuhanbatu.
Ironisnya, Lydia Pangaribuan meninggal dunia, sehingga uang pinjaman itu dikuasai ketiga terdakwa, tanpa mengikutsertakan Alm Lodewyik Sirait, sebagai salah satu pemegang ahli waris dari 36 sertifikat yang ada.
Kondisi itu mendorong Lodewyik membuat pengaduan ke Poldasu pada September 2005, dengan tuduhan penipuan karena ketiga terdakwa tidak memasukkan namanya sebagai pemegang sertifikat yang sudah diagunkan ke Bank Mandiri.

MedanBisnis – Medan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: