Petani Ujung Bandar Harapkan Bantuan

Kurun waktu 40 tahun, sekitar 50-an petani padi yang ada di Desa Ujung Bandar Kecamatan Rantau Selatan, baru sekali mendapatkan bantuan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Tak heran, hingga kini mereka sangat mengharapkan bantuan serupa dapat mereka nikmati. Dari luas lahan milik petani, dipastikan 7 hektar produksi padi terhempang di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) desa itu, atau tepatnya sekitar 2 kilometer saja dari kantor Bupati Labuhan Batu.

Antoni Sirait (51), salahsatu petani saat ditemui dipersawahannya Senin (25/8) mengatakan, saat ini mereka hanya mengandalkan 1 unit mesin Combed yang digunakan untuk merontok padi menjadi gabah. Itupun, dengan usia mesin yang sudah terbilang tua, sedikit menghambat proses penggilingan.

Selain itu, untuk membersihkan gabah dari patahan batang padi, mereka hanya mengunakan ayakan kawat yang dibuat sendiri. “Tidak ada bantuan alat dari pemerintah, kami hanya mengandalkan mesin manual buatan sendiri. Sekitar tiga tahun yang lalu ada bantuan, tapi hanya bibit merk siserang sekitar 20 kilogram dan pupuk sekitar 100 kilogram, yang pasti itu tidak mencukupi,” ungkap Antoni di pondok tengah ladangnya.

Dijelaskan Antoni, permasalahan yang sering mereka hadapi adalah kekurangan air. Sebab, irigasi/saluran air yang dibangun pemerintah beberapa waktu lalu terkesan tidak bermanfaat. Hal itu dikarenakan sebelum air mengalir ke persawahan mereka, sudah terlebih dahulu berpindah ke daerah penyaluran air sungai Aek Riung yang berada tepat di atas lahan mereka. Sehingga penghasilan jikala panen, terkadang berkurang.

“Permasalahan lain ya air, memang ada salurannya, tapi kurang bermanfaat. Sebab sudah kedahuluan tersalur ke Sungai Aek Riung, makanya kami sangat kekurangan air untuk disalurkan ke persawahan. Terkadang panen setahun dua kali itu jauh berbeda pendapatannya,” ujar Antoni.

Untuk itu ia berharap agar pemerintah segera memerhatikan kelangsungan persawahan mereka. Menjawab wartawan terkait alsintan (alat mesin pertanian), Antoni mengatakan sangat membutuhkannya. Dan itu, sudah diusulkan mereka kepada pemerintah. Bahkan, telah berulangkali tim pemerintahan datang meninjau persawahan itu. Namun, hingga saat ini belum ada realisasinya.

“Kalau usulan sudah sering kalilah, seandainya kami dapat bantuan mesin perontok padi dan jetor, mungkin perhitungan kerjanya bisa lebih cepat. Ke depan, kami berharap agar pemerintah sedikit peduli dengan keadaan kami ini. Kalau seandainya ada sistem bantuan kredit, kami juga mau, tapi pembayarannya saat panen-lah,” harap Antoni dan petani padi lainnya. (FDH)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: