Pengusaha Turunan Dipolisikan

Diduga Serobot Tanah Warga Seluas 88 Hektare


Membeli lahan pengembangan eks anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Utama P3RSU Bandar Gula di Desa Pare-pare Hilir, Kecamatan Merbau, Labuhan Batu, membawa petaka bagi AH. Syafrizal, selaku pemilik resmi atas lahan seluas 88 hektare tersebut, ternyata menuntut pengusaha turunan itu secara hukum dengan cara melaporkannya ke polisi dengan tuduhan penyerobotan.

Kepada METRO Kamis (28/8) kemarin, Syarfizal alias Buyung mengungkapkan. Awalnya luas keseluruhan lahan pengembangan eks anggota KUD Utama Bandar Gula mencapai 660 hektare (ha) dengan alas hak SKPT dan surat kepala desa. Selain itu, juga telah mengantongi Izin Prinsip (IP) Tahun 1987 yang dikeluarkan Bupati Abdul Manan SH.

Bermodalkan IP itu, lalu warga mengusahai lahan tersebut dengan menanami kelapa sawit di lahan tersebut. Tetapi pada Tahun 1989, tanaman itu terbakar karena struktur tanah gambut yang memang rentan terbakar. Dari situ, upaya penananaman kedua dilakukan dengan komoditas tanam serupa.

Tetapi, tanaman kembali terbakar dan lagi-lagi warga berusaha menanam kembali dengan pohon kelapa sawit untuk yang ketiga kalinya. Namun tetap saja kebakaran kembali menimpa tanaman di lahan itu. Pada akhirnya, warga tidak sanggup lagi mengelola lahan pengembangan, sebab dari seluruh jumlah tanaman, hanya 10 persen saja yang dapat terpelihara.

Pada Tahun 1996, lahan pengembangan warga tinggal 88 hektare karena dibeli seorang pengusaha bernama Tombak Sibarani. Jumlah keseluruhan yang dibeli saat itu mencapai 564 hektare. Lahan terpaksa dijual karena warga tak mampu melanjutkana pengembangan dan pemanfaatan lahan.

Entah bagaimana ceritanya, di Tahun 2006 lahan yang tersisa itu dikuasai oleh AH. Di lahan itu, AH kembali menanam kelapa sawit di dalamnya. Korban yang merasa heran atas tindakan AH yang nekat menanami lahan itu tanpa izin darinya, kemudian mempertanyakan kepada AH, dasar apa yang membuat AH sampai nekat menyerobot tanah miliknya. Saat itu, AH mengaku kalau tanah yang dimaksud itu ia beli dari camat setempat yang pada masa itu dijabat oleh T Izwardin.

Berbagai upaya penjelasan dilakukan korban meyakini AH agar segera meninggalkan lahan tersebut. Namun, AH tetap ngotot menyatakan tanah itu adalah miliknya yang dibeli dari Camat T Izwardin. Tak sabar dengan gelagat AH, apalagi korban memiliki bukti yang kuat, AH akhirnya diadukan ke jajaran Polres Labuhan Batu.

Laporan korban dibuktikan dengan Surat Tanda Bukti Penerimaan Laporan No. Pol STBPK/809/VIII/2008SPK-C tanggal 20 Agustus 2008. AH, disangkakan telah melakukan tindak pidana atas perbuatannya menguasai lahan tanpa izin yang berhak. “Laporan itu sudah saya lengkapi dengan bukti-bukti. Polisi tinggal menindaklanjuti,” katanya. Sayangnya, AH hingga berita ini diturunkan, tak berhasil ditemui. (FDH)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: