200-an Rumah Warga Dusun Bom Terendam Banjir

Pemerintah Labuhanbatu Tak Peduli


Sedikitnya 200-an rumah warga di Dusun Bom Desa Sisumut Kecamatan Kota Pinang Kabupaten Labuhan Batu, terus direndam banjir yang melanda kawasan itu dalam sepekan terakhir. Namun ironisnya, hingga Selasa (9/9), belum terlihat upaya pemerintah meringankan penderitaan penduduk yang diperkirakan mencapai 400 an kepala keluarga.

Pantauan di lapangan sejak Selasa pagi hingga siang hari, aktifitas warga yang bermukim di dusun berjarak kurang lebih 60 kilometer dari inti Kota Rantau Prapat, itu nyaris lumpuh total. Ketinggian air yang mencapai 1 meter dari permukaan tanah, memaksa warga harus tetap berdiam diri di rumah masing-masing. Akibat aktifitas tak berjalan, kini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, warga semakin kesulitan.
Sementara untuk mandi, mencuci, juga buang air, hanya bisa dilakukan di sekitar genangan air di luar rumah. Sebab, kamar mandi milik warga kini tak dapat digunakan akibat terendam air. Kondisi tersebut membuat panyakit kulit muncul hingga akhirnya menyerang warga sekitar. Sejumlah warga yang sudah terserang penyakit, kini malah kesulitan mendapatkan pengobatan.
“Beginilah nasib kami, untuk mengangkut hasil pertanian saja sulit sekali akibat banjir tak kunjung surut. Bagaimana kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mana penyakit gatal-gatal terus mewabah,” ungkap H Bukhari Rambe (67), salahseorang warga yang mengaku telah belasan tahun tinggal di dusun tersebut.
Sejak banjir menyerang kawasan itu hingga kini kondisinya menyengsarakan warga, Bukhori mengaku belum pernah melihat adanya perhatian pemerintah untuk meringankan penderitaan warga sekitar. “Memang kondisi ini sudah biasa. Pemerintah baru perhatian dengan warganya kalau ada maunya,” kata Bukhori.
Pengakuan yang sama juga dilontarkan Irwansyah Harahap, dalam satu minggu terakhir mengalami kebanjiran akibat diguyur hujan terus menerus hingga puluhan hektar lahan pertanian rusak, tanaman sayur membusuk, serta sulit memenuhi kebutuhan hidup, warga tetap tak bisa mengharap banyak dari pemerintah. Beruntung saat ini sebahagian warga  masih bisa menjalankan aktifitasnya memanen hasil pertanian dengan menggunakan perahu.
“Memang bagi yang punya perahu bisa memanen hasil pertaniannya. Tapi bagaimana dengan yang tak punya perahu dan tak punya areal pertanian. Hanya bisa mengharap kebesaran Tuhan sajalah,” katanya.

Menurut warga, banjir datang akibat meluapnya Sungai Barumun yang tak mampu menampung intensitas curah hujan yang kian tinggi akhir-akhir ini. (FDH)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: