Membuka Sejarah Masjid Agung Peninggalan Kerajaan Bilah

Nama Diubah, Dibangun dari Kutipan Pajak

Eksistensi Masjid Agung Kota Rantau Prapa, sebagai pusat syiar Agama Islam sejak dulu hingga kini tak diragukan lagi. Namun tak banyak yang tahu bagaimana asal muasal masjid peninggalan Kerajaan Bilah, ini bisa berdiri hingga lestari di tengah-tengah masyarakat. Terletak tepat di kawasan Jalan Ahmad Yani Rantau Prapat, Masjid Agung ini dulu dipercaya sebagai Masjid Raya Kota Rantau Prapat. Belakangan entah berbagai pertimbangan apa, setelah hadir Masjid Al-Ikhlas di Jalan SM Raja, julukan Masjid Raya dicopot dari masjid ini dan dikukuhkanlah kepada Masjid Al-Ikhlas tersebut.

Tak jarang eksistensi Masjid Agung kerap dijadikan sebagai pusat syiar Agama Islam. Bukan semata sebagai tempat peribadatan. Nuansa keislaman kian kentara seiring hadirnya pusat pendidikan di areal masjid itu saat ini. Maka, demi menegaskan statusnya,  kompleks Masjid Agung dibenahi hingga membentuk sebagai pusat pengembangan keislaman. Seperti dibukanya taman bacaan (perpustakaan) yang mampu menyediakan berbagai jenis bahan bacaaan bernuansa Islam di kompleks masjid.
Pada masa penjajahan Belanda, bentuk dan gaya ornament masjid tidak begitu tampak dihiasi nuansa kuno. Kerajaan Bilah, yang mewakafkan lahan untuk pertapakan pendirian masjid, berhasil membangun masjid itu seperti dekat dengan masyarakat sekitarnya. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan sekira tahun 1930-an silam.
Politik pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu, memberi kuasa kepada Kerajaan Bilah melakukan pemungutan pajak (balasting) kepada masyarakat. Pihak Kerajaan, yang melakukan pemungutan pajak tak sertamerta berdiam di bawah penjajahan. Akan tetapi, berinisiatif menyisihkan pajak masyarakat untuk pembangunan masjid tersebut untuk dijadikan tempat pusat informasi dan beribadah.
Keinginan yang tulus pihak kerjaan, akhirnya berhasil mendirikan empat masjid sekaligus. Antara lain yakni, Masjid Raya (Masjid Agung red), Mesjid Kualuh Hulu, Mesjid Kota Pinang serta sebuah masjid di daerah pesisir pantai Labuhan Bilik.
Sampai sekarang, meski perkembangan pembangunan begitu pesat, ornamen dan warna gedung keempat masjid tetap mempertahankan keaslian seperti yang terlihat saat ini. Kubahnya yang sangat terutama, yang masih terbuat dari kayu yang kokoh, sekaligus menjadi langit-langitnya.
Abdul Madjid Dalimunthe, penasehat kenaziran masjid mengatakan, sejak kemerdekaan Republik Indonesai, Masjid Agung tersebut masuk dalam pengawasan Departemen Agama (Depag), hingga kemudian nama Mesjid Raya dirubah menjadi Mesjid Agung Rantau Prapat, masih tetap menjadi tanggungjawab Depag. Dalam perkembangannya, masjid tersebut kini juga telah memiliki klinik kesehatan dan madrasah yang berada di dalam kompleks masjid.
“Sejak zaman Belanda nama masjid ini  Masjid Raya. Tapi sekitar Tahun 1986 dirubah menjadi Mesjid Agung Rantau Prapat,” ujar lelaki yang pernah menjadi nazir mesjid di Tahun 1984 sampai 1989 ini.
Selama bulan puasa, masjid ini juga melaksanakan rutinitas kegiatan ibadah sebagaimana di masjid lainnya. Pengajian (tadaruz) setiap malam berkumandang di masjid ini begitu juga dengan kegiatan ibadah Salat Tarawih, maupun salat lima waktu.
Sayangnya, untuk mengetahui pasti siapa nama Raja Kerajaan Bilah pada masa pembangunan masjid itu, tidak dapat diketahui pasti. Abdul Madjid juga hingga kini belum bisa mengetahui secara pasti nama raja pada masa itu. (FDH)

4 Tanggapan

  1. Salam kepada semua pembaca.

    Raja yang memerintah pada masa ialah moyang saya yang bernama Almarhum Tengku Abbas

  2. mesjid th dekat rumah saya
    tempat saya sekolah TK & sekolah arab dulu 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: