Mengungkap Sejarah Munculnya Dusun Ondol-ondol di Labuhan Batu

Pusat Pendidikan Tarikat Berkembang, Dikuatkan oleh para Pendatang

Sepeninggalan pasangan suami istri asal Kota Siantar menghadap Sang Khalik, pusat pendidikan ilmu Tarikat semakin berkembang pesat di Dusun Ondol-ondol.

Bahkan, dari berbagai penjuru daerah, berdatangan untuk menimba ilmu di dusun itu. Para pendatang jugalah yang pada akhirnya menegaskan nama Dusun Ondol-ondol tetap melekat hingga sekarang. Nur Salim dan Ucok P, rekan METRO yang setia mendampingi perjalanan ke Dusun Ondol-ondol, tampak tetap bersemangat.

Berbagai potensi informasi terus dicecar keduanya, seolah-olah hendak mengingatkan Suyut kepada sejarah lampau. Sebagai petuah dusun yang tinggal satu-satunya tersisa, Suyut memang tak terlalu lupa ingatan. Usianya yang sudah lanjut tak terlihat membuatnya lupa segala-galanya.
Suyut kembali bercerita. Di masa Tuan Guru Syekh Haji Tengku Ibrahim Nasution Al Kholidi Naksabandi bin Tengku Mamat Bilah Sipare-pare, peradaban ilmu Tarikat sudah mulai membumi. Begitu sang tuan guru wafat dan diteruskan oleh putranya Tengku Nahazar, ilmu untuk lebih mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, terus berkembang.
Sampai pada keturunan ke enam Tuan Guru Syekh Haji Tengku Ibrahim Nasution Alkholidi, di tangan dingin KH Muhammad Nasfi Nasution, peradaban ilmu Tarikat tetap terus berkembang pesat hingga kini. Dari situ, nama Dusun Ondol-ondol pun terkenal ke segala penjuru daerah. Tanjung Balai, Kisaran, Medan, bahkan sampai ke Negara jiran Malaysia.
Para pendatang ke dusun itu yang biasanya kebanyakan hendak menimba ilmu ketimbang studi banding, rata-rata mengenal nama dusun ini sebagai Dusun Ondol-ondol. Mereka tidak pernah tahu lagi apa itu Dusun Intir Udang, atau Sri Utama, yang padahal kedua nama ini sempat menjadi nama Dusun Ondol-ondol itu.
Seiring peradaban zaman, nama Dusun Ondol-ondol secara tak disengaja akhirnya tetap melekat hingga kini.

“Karena kebanyakan para pendatang ke kampung ini kenalnya hanya dengan Dusun Ondol-ondol. Mereka tak tahu lagi dan tak pernah mengatakan dusun ini dengan sebuatan lain. Akhirnya, ya jadilah nama dusun ini seperti yang sekarang,” kata Suyut.
Selain gandrung menimba ilmu agama, mayoritas masyarakat sekitar juga menekuni bidang pertanian untuk sebagai mata pencaharian. Termasuk sawit, rambung dan lain sebagainya. Luas wilayah secara keseluruhan yang dimiliki dusun ini cukup lumayan, berkisar 1120 hektar persegi. Selain dataran, lembah dan bukit, luas lahan itu termasuk di dalamnya areal perkebunan milik warga yang hanya berjumlah sekitar 50 kepala keluarga.
Untuk mengecam ilmu pendidikan alam, para warga menyekolahkan anak-anaknya di luar daerah. Sebab, sarana pendidikan di dusun itu belum tersedia. “Kalau untuk mendapatkan ilmu agama, tak perlu jauh-jauh. Tapi untuk pendidikan alam, sejak SD anak-anak sini sudah pada keluar daerah. Setidak-tidaknya bersekolah di Desa Sipare-pare Hilir,” tambah Suyut.
Alat transportasi darat yang bisa diakses warga hingga kini baru sepedamotor milik pribadi. Kendaraan itupun, tak sepenuhnya dapat digunakan untuk mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. Khusus kalau di musim hujan, anak-anak warga sekitar terpaksa berjalan kaki tanpa beralas kaki menuju sekolah mereka. Ini disebabkan medan jalan yang dilalui begitu parah.
“Kalau di musim hujan, anak-anak terpaksa bejalan kaki ke sekolah. Itu pun, mereka harus berlumpur-lumpur ria karena melewati jalan yang becek dan penuh tanjakan,” tambah Suyut. Namun hal itu tak pernah sekali pun menjadi kendala bagi para anak-anak itu. Mereka tetap tekun dan rajin untuk mendapatkan ilmu pengetahuan alam.
Untuk mengangkut hasil pertanian, warga sekitar sampai sekarang juga masih mengandalkan sepedamotor. Rata-rata mereka, menjual hasil pertanian mereka ke inti  Kecamatan Marbau. Begitulah, seiring zaman, Dusun Ondol-ondol tetap eksis di tengah keterbelakangan dan kekurangan mereka mendapatkan makna kemerdekaan. Mudah-mudahan, dengan pemekaran yang telah terwujud, Dusun Ondol-ondol akan semakin berkembang dan bisa mendapat hak-haknya yang layak.

Maulana Syafii Labuhan Batu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: