RSUD Rantau Prapat ‘Kangkangi’ Bupati

Pasien Jamkesmas Diperas


Selain telah ‘mengangkangi’ Bupati Labuhan Batu HT Milwan, aksi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rantau Prapat yang meminta uang sebesar Rp750 ribu dari salahseorang pasien Jaminan Kesehatan Masyarkat (Jamkesmas), dinilai sebagai bentuk pemerasan.

Sahat Sihombing, korban pemerasan pihak rumah sakit sempat mengaku dirinya pernah dimintai uang sebesar Rp750 ribu oleh pihak rumah sakit. Uang itu konon kabarnya untuk pemasangan jaringan Mesh untuk memperkecil penyakit yang dideritanya. Namun entah atas pertimbangan apa, pengkuan itu ditariknya kembali. Setelah menjalani operasi, Sahat malah mengaku ikhlas memberikan dana itu walau diperolehnya dari menggadaikan sepedamotor anaknya.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Labuhan Batu Yarham Dalimunthe yang mengetahui adanya pemerasan itu, mengaku sangat kecewa. Padahal, sesuai dengan ketentuan dan peraturan kesehatan, pengutipan uang tidak diperbolehkan kepada pasien yang memakai Jamkesmas.
“Untuk pasien Jamkesmas tidak boleh dikutip uang. Dengan alasan apapun. Saya curiga, pasien sudah di intimidasi sehingga belakangan mengaku ikhlas dengan biaya yang dibebankan kepadanya,” ujar Yarham dengan nada geram.
Dikatakannya, meskipun ada penambahan keperluan lain terhadap pasien bisa dicatat pada rekam medik untuk di klaim Jamkesmas. Sebab, menurutnya, pasien yang Kartu Jamkesmas seperti yang dimiliki Sahat Sihombing dengan Nomor 0000452512697, bila berobat di rumah sakit yang ikut program Jamkesmas, tidak dikutip uang sama sama sekali dengan alasan apapun.
Sebab, seluruh dananya sudah ditanggung dalam APBN. “Kalau terjadi pengutipan seperti ini bisa terindikasi pidana dan ini bisa dilaporkan ke Kepolisian,” ujar Yarham Rabu (17/9).

Selanjutnya, karena keluarga pasien telah mengikhlaskan pembayaran jaring mesh tersebut, Yarham tidak tinggal diam atas pelanggaran itu. Sekarang ia telah melaporkan temuannya kepada Menteri Kesehatan.
Sementara itu Saat Sihombing kepada wartawan di Rantau Prapat, mengaku tidak mengetahui nama pihak medis yang meminta uang darinya saat menjalankan operasi.

“Saya tidak tahu nama orang yang menerima pembayaran itu. Sebelum dioperasi memang disuruh bayar dulu. Setelah bayar baru di operasi,” ujar warga Desa Teluk Panji Labuhan Batu, ini saat ditemuai di RSUD.
Kepala RSUD Rantau Prapat, Tigor Panusuan Siregar yang coba dikonfirmasi wartawan terkait dugaan kutipan pasien Jamkesmas ini, terkesan enggan memberikan jawaban. Meski telah dihubungi Tigor tidak mau mengangkat teleponnya. Sebaliknya, Tigor hanya menjawab lewat pesan singkat. “Hubungi ibu Yoherna,” demikian bunyi SMS dari Tigor.
Sementara itu, Anggota DPRD Labuhan Batu Dahlan Bukhori yang sempat datang ke RSUD berniat mendampingi Sahat menuntut haknya, malah sangat menyesalkan sikap Sahat yang terkesan tidak peduli dengan haknya sendiri. “Saya sangat miris melihat masyarakat yang tidak peduli dengan haknya. Sikap masyarakat yang mau memperjuangkan haknya sangat minim seperti Sahat ini contohnya. Mungkin, karena kurangnya pemahaman atau karena mental budak yang melekat pada mereka. Saya berharap, kepada masyarakat lain untuk segera menghilangkan mental budak seperti ini,” ujarnya geram.
Anggota DPRD dari Fraksi PDI-P ini berharap terhadap para medis serta Direktur RSUD Rantau Prapat, agar lebih membuka nurani untuk menyampaikan serta menyosialisasikan kepada masyarakat fasilitas Jamkesmas ini. Bukan malah melakukan pengutipan di luar ketentuan. (FDH)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: