Pengendara Motor Jadi Korban Pemerasan

Sedikitnya ratusan pemudik yang berboncengan mengendarai sepeda motor menjadi korban pemerasan saat melintas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Simpang Aek Riung Rantauprapat kemarin sore.

Ratusan pemudik yang tidak menghidupkan lampu sepeda motornya itu terpaksa mengeluarkan Rp100.000– 200.000 agar surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang ditahan oknum polisi lalu lintas (Polantas) Kepolisian Resor (Polres) Labuhanbatu dan Dinas Perhubungan (Dishub) dikeluarkan.

Berdasar pantauan SINDO di lokasi, sejak pukul 13.30 WIB–15.40 WIB, pemudik–– khususnya yang datang dari arah Kotapinang menuju Kisaran yang tidak menghidupkan lampu sepeda motornya–– langsung dihentikan tiga oknum Polantas dan seorang oknum berpakaian Dishub setempat. Setelah disuruh berhenti, dua dari tiga oknum Polantas meminta pengendara menunjukkan surat izin mengemudi (SIM) dan STNK.

Kemudian, dua surat berharga itu diserahkan kepada seorang oknum lainnya yang menunggu di bawah pohon di pinggir jalan,persis di samping mobil patroli pengawal (Patwal) Polres Labuhanbatu. Para pemudik tampak bermohon agar SIM atau STNK sepeda motor mereka tidak ditilang. Namun, oknum Polantas tetap bersikeras menyatakan bahwa mereka sudah melanggar peraturan lalu lintas.Apalagi, para pemudik tersebut banyak berbonceng tiga atau empat lantaran membawa anak-anak.

Permintaan pemudik untuk tidak ditilang baru dipenuhi setelah menyerahkan ’’uang damai” kepada oknum petugas itu. Misno, salah seorang pemudik dari Dumai,Riau,yang ingin merayakan Idul Fitri 1429 H bersama keluarganya di Stabat, Kabupaten Langkat, mengaku kesal atas ulah oknum Polantas tersebut. ’’Kesalahan saya hanya karena lupa menghidupkan lampu sepeda motor.

Kalau surat-surat kendaraan saya lengkap kok, Bang. Lagipula, saya kan enggak tahu kalau mudik naik sepeda motor harus menghidupkan lampu siang-siang begini,”tuturnya, kesal. Menurut Misno,dia diminta uang sebesar Rp200.000 oleh oknum petugas itu. Namun, setelah memohon, akhirnya oknum itu mau juga menerima Rp100.000 yang disodorkannya. ’’Sedih juga rasanya.

Setahun ini saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar bisa bertemu orangtua dan keluarga di kampung saat Lebaran. Tak tahunya, saya harus memberikannya kepada polisi di jalan,” ujarnya. Aksi oknum-oknum tersebut menjadi tontonan warga di warung, tak jauh dari lokasi kejadian. Peristiwa ini pun menjadi buah bibir mereka. ’’Kan tidak semua para pemudik itu mengetahui bahwa lampu sepeda motornya harus dihidupkan siang-siang begini.

Seharusnya, sebagai polisi yang bertugas melayani, melindungi,dan mengayomi masyarakat, mereka cukup hanya mengimbau atau menyuruh agar lampu dihidupkan untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Itu saja. Enggak perlu harus minta uang. Itu kan memalukan,” papar seorang lelaki mengaku bermarga Hutabarat. Kepala Satuan (Kasat) Lalu Lintas (Lantas) Polres Labuhanbatu Ajun Komisaris Polisi (AKP) Tris Lesmana Zapiansyah tidak bisa dikonfirmasi kemarin.

Berkali-kali telepon selulernya dihubungi, yang bersangkutan tidak menjawab. Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Humas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) Komisaris Besar (Kombes) Pol Baharuddin Djafar menyatakan akan mendalami informasi tentang ulah oknum Polantas Polres Labuhanbatu itu.’’Bila benar terjadi, oknum Polantas tersebut dapat dijatuhi sanksi penurunan pangkat karena telah merusak citra kepolisian. Nanti saya cek ke Kapolresnya,” ujarnya kemarin.

Dia menambahkan, sebagaimana ditegaskan Kapoldasu Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Nanan Soekarna, mereka tidak segan-segan menindak oknum polisi yang bermasalah. ’’Selain melakukan penyidikan internal, sebaiknya masyarakat yang dirugikan segera melaporkannya ke Provos setempat atau Propam Polda,”tandasnya. Baharuddin mengimbau seluruh jajaran kepolisian untuk tidak memanfaatkan momen mudik Lebaran menjadi ajang pungli (pungutan liar).

’’Polisi itu pengayom sekaligus pelindung masyarakat. Jadi, bila ada yang melanggar pasti dijatuhi sanksi,”ujarnya. Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Sumut Amas Muda Siregar menyesalkan tindakan pungli yang dilakukan anggota Polantas Polres Labuhanbatu tersebut, di tengah upaya Kapoldasu Irjen Pol Nanan Soekarna membenahi institusinya. ’’Jika ada anggota Polri yang membandel, berarti tidak mendukung program Kapoldasu yang ingin membenahi personel Polri agar menjadi lebih baik sebagai pengayom masyarakat,”ujarnya.

Amas meminta Kapolres Labuhanbatu menindak personelnya yang membandel. Jika terbukti bersalah, oknum tersebut harus ditindak untuk memberikan shock therapy. ’’Namun, jika tidak ada tindakan sama sekali atau terkesan menutup-nutupi kesalahan anggotanya,Kapolres tersebut ikut dicopot dan digantikan dengan pejabat baru yang bisa membina dan menindak personelnya yang menyalahi aturan,” tuturnya. (sartana nasution/ makmur sembiring)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: