Bunuh dan Kubur Abang Ipar Jamirun Dihukum 20 Tahun Penjara di PN Rantauprapat

Terdakwa Jamirun (25) penduduk Jl Bakti, Desa Panipahan Darat, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau dituntut hukuman pidana penjara seumur hidup. Dia diyakini terbukti membunuh korban Syahris Tani (26), yang tak lain abang iparnya, secara tragis dengan perencanaan di perladangan kelapa sawit Desa Sei Nahodaris, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kamis 31 Januari 2008.
Jaksa penuntut umum (JPU) Belman Tindaon SH dalam tuntutannya pada persidangan majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat, Kamis (9/10), menuntut agar majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana penjara seumur hidup terhadap terdakwa yang ditahan sejak Senin 4 Februari 2008 itu.
Majelis hakim dipimpin Syahrul Rizal SH sependapat dengan dakwaan JPU. Terdakwa dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan membunuh korban dengan perencanaan melanggar pasal 340 KUHP. Majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana penjara bagi terdakwa selama 20 tahun, hari itu juga.
Kejadian bermula setelah korban melarang terdakwa Jamirun menyerobot lahan orang lain, di mana lahan korban berbatasan dengan lahan terdakwa di Desa Sei Nahodaris. Larangan tersebut membuat hubungan terdakwa dengan korban abang iparnya, tak harmonis.
Kamis (31/1) sekira pukul 09.30 WIB di kebun milik terdakwa di Desa Sei Nahodaris, terdakwa melihat ada pamplet bertuliskan: “Tanah Ini Sudah Dijual”. Melihat itu terdakwa langsung menemui korban. Namun sebelumnya terdakwa telah menyimpan parang dan aqua di kebun kelapa sawit milik Nusi ketika melihat korban bersama Tulus alias Onu, Khairuddin alias Udin dan Inas sedang bekerja merintis lahan kebun milik kepala desa.
Terdakwa mengajak korban mengukur tanah miliknya. Korban mengikuti ajakan terdakwa adik iparnya itu. Sesampainya di kebun Nusi, terdakwa mengambil parang yang terlebih dahulu sembunyikannya. Sambil berjalan, terdakwa menanyakan tentang pamplet yang terpampang di kebun miliknya, sembari mengatakan; “Tanah itu milik saya yang diserahkan orang tua kepada saya”.
Korban lalu menimpali ucapan terdakwa dengan mengungkit kematian orang tua mereka, dengan mengatakan; “Bapak saya meninggal dunia, dianya yang membiayai,” sambil mengomel pergi.
Terdakwa pun mengejar korban. Pada saat korban berbalik menghadap ke arah terdakwa, langsung saja terdakwa membacokkan parangnya ke tubuh korban. Korban sempat mengelak serangan terdakwa dan saat itu pula parang terdakwa kena ke wajah korban. Selanjutnya, terdakwa membacok leher korban membuatnya tumbang menjerit minta tolong.
Tak cukup hanya itu, terdakwa menutup wajah korban dengan tangannya hingga korban tewas. Setelah itu, terdakwa pergi meminjam cangkul milik Rais, mengubur jasad korban dan membakar cucuran darah korban dengan daun kelapa sawit yang kering.
JPU juga membuktikan dengan hasil visum et repertum dari Puskesmas Kecamatan Pasir Limau Kapas dengan No.440/KES-PK/2008/77 yang dibuat dr Netti Johan Nr PTT, bahwa korban meninggal akibat pendarahan yang banyak, tulang leher putus disertai putusnya Arteri Xcarotis (pembuluh darah leher).
Pihak korban bersama masyarakat mencari-cari korban karena tidak pulang malam harinya. Setelah menemukan bukti-bukti pembunuhan tersebut, masyarakat melaporkan kejadian itu ke polisi dan langsung membongkar galian serta menemukan korban sudah tidak bernyawa lagi.
Terdakwa pikir-pikir atas putusan majelis hakim, sedang JPU menerima putusan tersebut. (S25/c)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: