Sidang Lanjutan Korupsi Rp1,7 M Dinkes Labuhan Batu

Kesaksian Saksi Mahkota Tak Logika


Sidang perkara korupsi Rp1,7 miliar di Dinas Kesehatan Labuhan Batu TA 2004, kembali digelar di Pengadilan Negeri Rantau Prapat, Selasa (14/10). Dua saksi mahkota yang juga sebagai terdakwa dalam berkas berbeda, dihadirkan pada persidangan kali ini. Namun keterangan seorang saksi, masih meragukan majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pasalnya, saksi mengaku minjam uang Rp5 juta dari terdakwa. Padahal, saldo di rekening saksi berjumlah ratusan juta.

Keraguan mejelis hakim yang diketuai Irwan Munir SH MH, beranggotakan Nurmala Sinurat SH dan Imelda Sitorus SH, terkuak saat saksi pertama yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Labuhan Batu dr Nazmil Fuad Harahap MKes, mengaku bukan memakai uang negara, melainkan hanya meminjam uang sebesar Rp5 juta dari terdakwa Julpanuddin Hasibuan selaku pemegang kas Dinkes. Yang janggal di situ, saat itu saldo di rekening Nazmil Fuad berjumlah Rp200 juta lebih. Uang pinjaman itu sendiri, untuk diberikan kepada seorang dokter yang hendak berobat ke penang.

Keraguan itu sontak ditepis saksi ketika itu. Hampir seluruh memo dan disposisi saksi saat itu diakuinya memang tertera tandatangan ataupun parafnya. Akan tetapi, saksi tidak ingat apakah seluruhnya direalisasikan atau tidak.

Kesaksian lain dari Nazmil, dirinya mengaku pernah menerima uang sebesar Rp30 juta yang masuk ke rekeningnya. Di mana saat uang itu masuk ke rekeningnya via transfer bank, saldo di rekeningnya berjumlah Rp260 juta lebih. Tapi, lagi-lagi saksi membantah uang tersebut berasal dari dana APBD, namun tetap saja masih seputar alasan pinjaman dari terdakwa.

Alasan itu semakin tentu semakin tak masuk akal. Sebab Nazmil yang memiliki uang di rekeningnya senilai Rp260 juta, mengapa harus meminjam dari terdakwa Julpanuddin. Lebih aneh lagi, saksi tidak mengetahui siapa yang menransfer dana lain sebesar Rp20 juta yang masuk ke rekening tabungannya. “Saya tidak ingat siapa yang menransfer. Untuk mengeluarkan lembaran disposisi tidak pernah di luar jam dinas. Dan disposisi tidak pernah ada di rumah saya,” katanya mengambang.

Saksi juga membantah dan menjawab lupa ketika hakim menanyakan apakah ada memberikan memo pembayaran uang sebanyak Rp85 juta dan Rp59 juta kepada terdakwa. Dari seluruh memo ataupun disposisi yang dikeluarkan saksi terhadap terdakwa berjumlah Rp 337.755.000. Seluruh dana yang dicairkan dari terdakwa, seluruhnya atas perintah saksi.

Keraguan hakim juga dialami oleh JPU Belman Tindaon SH dan Denny SH. Ketika saksi mengakui kalau buku tabungan yang disita penyidik dan diperlihatkan JPU saat persidangan adalah miliknya. Saksi juga mengaku kalau pada tanggal 10 November 2004, total saldo di tabungannya sebesar Rp776.669.710. Menurutnya, seluruh uang tersebut adalah uang pribadinya dan milik keluarganya. Dengan banyaknya jumlah yang di dalam rekeningnya, maka tak logika kalau Nazmil meminjam uang dari Julpanuddin.

Usai mendengar keterangan Nazmil, sidang diskor selama setengah jam. Majelis hakim kembali membuka persidangan untuk mendengarkan keterangan dari saksi Wakadis Daniel Hamonangan Manurung SKM MM terhadap terdakwa Julpanuddin Hasibuan.

Namun baru beberapa menit persidangan dibuka, saksi mengaku sakit hingga majelis hakim menunda persidangan dan menyarankan saksi berobat. Sidang dilanjutkan hingga Jumat (17/10). (ZUL)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: