TBS Anjlok di Kisaran Rp150 per Kilogram

Fluktuasi harga tandan buah segar (TBS) di Labuhan Batu terus mengalami penurunan cukup signifikan. Dari harga normal yang sempat di kisaran Rp1800 s/d Rp1900 per kilogram, penurunan harga lalu terjadi hingga menyentuh angka Rp1500 per kilogramnya. Dari situ, penurunan kembali bergeser menjadi Rp1000 per kilogram pada pekan silam. Belum sampai situ, penurunan belum dapat dibendung hingga Rabu (15/10), TBS akhirnya terjun bebas di kisaran Rp150 per kilogramnya.

Selain memengaruhi roda perekonomian daerah ini disebabkan daya beli berkurang, anjloknya harga TBS memukul telak para petani sawit. Saat ini, para petani terpksa membiarkan buah kelapa sawitnya membusuk daripada memanennya “Mau gimana lagi pak, dipanen pun tidak ada untungnya. Malah merugi bila dihitung-hitung dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Jadi lebih baik dibiarkan. Mau menangis sebenarnya, tapi gak tertangiskan,” keluh Sudirman, salahseorang petani sawit yang ditemui  di ladangnya di Sigambal, Kecamatan Rantau Selatan, Rabu itu.

Selama ini biaya produksi yang telah dikeluarkan Sudirman, sudah terlalu banyak. Namun alangkah kecewanya ia begitu hendak memanen hasil produksi, harga TBS anjlok terlalu jauh dari harga sebelumnya. Menurut Sudirman, bila memedomani harga TBS yang lama, hasil 3 hektar kebun sawit miliknya yang diperkirakan mampu menghasilkan 5 ton TBS per bulan, akan dapat meraup hasil sekitar Rp9 juta. Tapi kini, dengan harga Rp150, sudah pasti Sudirman menerima hasil produksinya jauh dari harapan.

“Kalau saja harganya masih seperti dulu, mungkin bisa dapat Rp9 juta dari 3 hektar lahan saya ini. Tapi sekarang, dengan harga Rp150, paling-paling cuma bisa dapat Rp750 ribu. Untuk menutupi ongkos pekerja pun tak bisa, belum lagi potongan transportasi. Jadi, buat apa diteruskan. Biarkanlah buahnya membusuk di situ,” ungkap Sudirman putus asa.

Begitu pun harga TBS telah menggelinding turun, tetap saja tak memengaruhi harga pupuk yang malah terus meroket naik tak terbendung. Untuk per sak isi 50 kilogram, petani harus mengeluarkan Rp500 ribu untuk pupuk. Keadaan ini membuat ribuan petani sawit di daerah Labuhan Batu merasa kewalahan. Betapa tidak, hanya dalam tempo dua bulan terakhir, keadaan berubah drastis. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan. Apalagi petani yang berada di daerah pesisir pantai.

“Saat harga masih tinggi, saya sudah memimpikan Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tapi mau gimana, beginilah dulu rezeki. Bahkan, cerita dari teman-teman yang sudah terlanjur mendaftarkan diri untuk naik haji tahun depan, juga sudah mulai kewalahan untuk persiapannya,” ucap Sudirman.

Hasil pantauan, harga TBS di tingkat petani dan pengumpul buah, masih bervariasi. Jika di tigkat petani harga yang terendah mencapai Rp150/ kilogram, maka untuk tingkat pengumpul titik terendahnya mencapai Rp300 – Rp350/ kilogram. Senada dengan itu, harga yang berlaku di pabrik kelapa sawit (PKS) juga bervariasi. Harga tertinggi, berada di kisaran Rp600–Rp700/ kilogram. “Dengan harga 400 per kilogram, saja petani sudah lebih baik membiarkan sawitnya tidak dipanen, konon pula menyentuh Rp150. (Zul)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: