Tiga Hari Tiga Malam Aksi Petani Nginap di Kantor Bupati

Tuntutan Dikabulkan, Notulen Nyaris Dipending

Sebelum rapat ditutup, perwakilan massa meminta kepada Pemkab Labuhan Batu agar pada saat itu juga notulen rapat secarat tertulis diberikan kepada mereka, namun dengan dalih ketiadaan tenaga staf mengingat jam dinas kantor telah belalu, Drs Karlos Siahaan menjanjikan notulen tersebut dipending dan akan diberikan keesokkan harinya. Janji itu tak lantas dipercaya, massa kembali memilih menginap semalam lagi menunggu notulen keluar.

Dengan alasan tidak mendapatkan izin menginap dari Pemkab Labuhan Batu, pihak pengamanan dari Polres Labuhan Batu, meminta kepada massa agar aksi dibubarkan dan kembali ke tempat masing-masing. Namun hal ini tidak diindahkan oleh massa, dengan alasan mereka tidak akan kembali ke tempat sebelum mendapatkan notulen tertulis hasil rapat dari Pemkab Labuhan Batu sebagai bukti yuridis keseriusan Pemkab Labuhan Batu untuk menyelesaikan masalah itu.

Merasa tidak dipenuhi keinginannya, aparat Kepolisian dibantu Satpol PP melakukan penekanan kepada kordinator aksi agar massanya dikembalikan. Namun dengan tanggungjawab yang penuh didasari dengan keinginan massa aksi yang tidak akan kembali sebelum notulen rapat diperoleh, dua orang kordinator aksi meyakinkan kepada aparat keamanan bahwa massa aksi tidak akan melakukan tindakan anarkis selama menginap, bila hal tersebut terjadi disebabkan tindakan orang ketiga, kedua kordinator aksi akan bertanggungjawab sesuai hukum.

Tepat pada pukul 00.00 WIB, seluruh pengamanan dari aparat Kepolisian akhirnya meninggalkan Kantor Bupati Labuhan Batu dengan berjuta perasaan kekecewaan. Namun dengan rasa tanggungjawab yang penuh, seluruh massa menginap sambil menjaga keamanan seluruh areal kantor bupati itu.

Akan tetapi naas menimpa nasib massa yang menginap di halaman kantor bupati dengan alas tidur seadanya, Rabu (14/10) sekira pukul 03.00 dini hari, hujan deras mengguyur tenda teratak persiapan menyambut HUT Pemkab Labuhan Batu yang ke-63, yang telah dipasang panitia di halaman kantor itu tempat massa aksi menginap. Disertai rasa kantuk yang cukup berat, akhirnya seluruh massa berpindah tempat di teras kantor Bupati Labuhan Batu.

Prkatis dengan jumlah massa yang cukup besar, lokasi teras kantor bupati tidak mampu menampung massa untuk berpindah tidur. Walhasil, massa aksi cukup puas menikmati tidur di malam itu dengan posisi duduk. Bahkan, sebagian lain harus seperti petugas keamaanan menjaga kemungkinan yang tak diinginkan dengan cara berjaga sepanjang malam.

“Tidak mengapa kami mengalami penderitaan hidup seperti ini namanya juga masih dalam berjuang, sementara penjabat di daerah ini terus terlalap dalam tidur nyenyak mereka tanpa harus bersusah payah menahan dinginnya hujan yang mengguyur, sebab Tuhan akan membalas perbuatan mereka kepada kami kelak”, gerutu seorang peserta aksi yang tidak dapat memejamkan matanya karena diterpa dinginnya udara dingin di malam berhujan itu.

Keesokan harinya, sekira pukul 16.00 WIB, massa akhirnya menerima notulen rapat . Keempat kelompok tani sepakat membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing. Sebelum membubarkan diri, keeempat pimpinan/ pengurus kelompok tani bersama dengan pimpinan STN-PRM Wilayah Sumut dan Kabupaten Labuhan Batu, menyampaikan informasi bila kesepakatan yang telah dituangkan dalam notulen tersebut kembali dingkari oleh Pemkab Labuhan Batu, mereka mengancam akan menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih banyak lagi untuk memblokir Jalinsum Rantau Prapat.(MR)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: