Jukir Lod Pasar Aekkanopan saat Harga Sawit dan Karet Anjlok

Image

Salahseorang juru parkir tengah menghitung pendapatan sehari.

Sulit Kejar Setoran, Hanya Rp30 Ribu Dibawa Pulang

Penurunan harga komoditi jenis kepala sawit dan karet, tak hanya melumpuhkan aktifitas perusahaan raksasa di Labuhan Batu, petani, bahkan pedagang. Masyarakat biasa setingkat juru parkir (jukir) di Lod Pasar Aek Kanopan, dan seputaran inti kota, ternyata juga merasakan dampak cukup berarti sekarang ini.

Hiruk pikuk Pasar Lod Aek Kanopan, yang dulu begitu bergeliat, cukup dilihat dari banyaknya kendaraan jenis sepedamotor yang parkir di beberapa tempat yang tersedia. Tapi setelah harga karet dan sawit anjlok belakangan ini, suasana itu pun berubah total. Kalau dulu di tiap bagian lokasi parkir sulit mendapat tempat bagi pengunjung yang hendak masuk ke dalam pasar, kini lokasi parkir tampak lebih lengang karena sepedamotor yang parkir semakin sedikit.

“Kalau dulu, satu hari bisa seratus bahkan lebih sepedamotor yang parkir di sini. Tapi sekarang, setengahnya saja pun sudah payah,” tutur S Batubara, jukir di salahsatu lokasi parkir yang tersedia di pasar tradisional itu. Pria asal Ledong Barat Kabupaten Asahan, ini mengatakan, sejak harga karet dan sawit turun, lokasi parkirnya semakin tak menentu. Untuk menutupi setoran pun terkadang selalu meresahkan.

Pria tengah baya yang sudah 15 tahun menjadi jukir di Lokasi Lod Pasar, ini menuturkan, dulu saat sawit dan karet stabil, ia tak begitu sulit membawa uang sebesar Rp50 ribu ke rumah. Tapi sekarang, paling hanya di kisaran Rp20 ribu yang bisa di bawa pulang. “Setoran Rp16 ribu ke pengelola tak sulit lah kalau dulu. Bahkan bisa lagi awak buwa pulang sebesar Rp50 ribu. Sekarang, ih, ngerilah,” katanya sambil menggelengkan kepala.

Barubara masih ingat kala ia harus menjajal rapi sepedamotor pengjunjung rapat-rapat. Karena, selain lokasi pas-pasan, sepedamotor yang datang juga bisa mencapai 100 unit. “Sekarang ini, dari pagi sampai sore paling Cuma banyak 50 kereta,” katanya sambil mengatakan upah hasa parkir yang diterimanya per satu unit sepedamotor Rp1000. “Tapi ginilah dulu. Kita hanya bisa berdoa agar kondisi stabil. Saya yakin, warga kini jadi malas ke pajak karena keuangannya juga menipis,” tambahnya.

Lain lagi pengakuan Wiwin, yang memiliki lokasi parkir di depan pertokoan inti Kota Aekkanopan. Dahulu, warga Lingkungan IV Kelurahan Aekkanopan, ini mengaku kewalahan menata sepedamotor yang masuk ke lokasinya. Sebab, banyaknya sepedamotor yang datang ke lokasi parkirnya, tak bisa ditampung seluruhnya. Untuk menyiasati, ia terkadang harus menempatkan posisi beberapa sepedamotor di beram jalan.

“Saya sampai menjadi bahan omelan polisi yang menjaga lalu lintas. Sebab karena sepedamotor langganan saya menghalangi jalan, hingga membuat macet,” tambah ayah anak satu ini. Soal pendapatan, ia juga mengaku sangat kewalahan. “Dulu masih bisa saya bawa pulang Rp30 ribu untuk menjaga dapur tetap ngebul. Tapi sekarang, paling hanya bisa Rp15 ribu. Itu pun sudah sehari penuh saya harus jaga lokasi,” tambahnya.

Dengan merosotnya pendapatan keduanya, kini harus memeras otak untuk mencari tambahan. Tak heran, dim ala hari mereka harus mencari tambahan nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau tidak begitu, kek mana mau memenuhi kebutuhan wajib. Seperti susu anak, listrik, sewa rumah, dan lain lainya,” kata Wiwin.(PUTRA)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: