Di Labuhanbatu, Senior Aniaya Junior ala STPDN

Kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini dialami mahasiswa Akademi Perawat (Akper) Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, Sophian Hasibuan. Dia dianiaya seniornya hingga babak belur dan tak sadarkan diri. Penganiayaan tersebut menyerupai kasus yang pernah menghebohkan di STPDN. 

Peristiwa yang menimpa korban tersebut terjadi pada malam hari, Kamis (6/11), hanya karena persoalan sepele. Para senior yang merasa ditantang oleh juniornya, langsung menghajar juniornya hingga pingsan. Sementara teman-teman seangkatan korban, dikurung di ruangannya agar tidak bisa melerai atau menolong temannya yang sedang “diplonco” senior-seniornya.
Polres Labuhanbatu telah menahan dan menetapkan tiga tersangka dalam kasus itu. Ketiganya diancam pasal 170 dan 351 dengan ancaman hukuman 10 tahun kurungan. “Polres sudah menahan tersangka dalam kasus ini. Dari enam orang yang dimintai keterangannya, tiga di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka,” terang Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu, AKP Jungjung Siregar kepada wartawan, Jumat (7/11).
Para tersangka masing-masing, SB, MH dan Sp. Ketiganya duduk di tingkat II di Akademi Perawat Pemkab Labuhanbatu. Sedang korban Sophian Hasibuan, masih duduk di tingkat 1. Saat ini, korban masih dirawat di RSUD Rantauprapat.
Sebelumnya, orangtua korban Zulkifli dan Masniur yang ditemui MedanBisnis di RSUD Rantauprapat, mengatakan, usai kejadian sekitar pukul 23.40 WIB, anaknya dilarikan rumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri.
Hasil pemeriksaan medis, luka yang diderita anaknya adalah luka dalam pada bagian tulang rusuk. Kemudian, tiga buah gigi korban juga sompel. Mata korban juga sulit untuk dibuka.
“Matanya gak bisa buka mulai dari tadi malam, giginya sompel dan rusuknya mungkin patah,” sebut Zulkifli.
Sementara itu, salah seorang teman seangkatan korban yang ditanyai MedanBisnis di Kompleks Akper tersebut menyebutkan, kejadiannya tidak berlangsung lama. Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya, ia dan teman-teman seangkatannya dibentak seniornya karena berjingkrak-jingkrak dan berteriak di kamar asrama.
Entah ide siapa, setelah dibentak oleh seniornya, korban dan teman-temannya membuat surat tantangan kepada seniornya yang membentak itu. Ternyata, tantangan itu disambut emosi oleh seniornya. “Kemudian Sophian ditarik keluar, sedangkan kami dikurung di kamar ini. Sophian dikeroyok mereka (senior-red) di dekat kamar ini,” ungkap sumber seraya menunjukkan TKP penganiayaan.
Setelah menganiaya secara keroyokan, korban pingsan. Sementara malam itu, tidak ada instruktur atau guru di sekolah itu. “Yang ada hanya penjaga kampus. Beliau tidak bisa berbuat banyak. Selanjutnya, korban dilarikan ke rumah sakit,” katanya.(MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: