Penanggulangan kasus gizi buruk di Labuhanbatu belum maksimal

Penanggulangan gizi buruk di Kab. L. Batu dinilai belum maksimal. Pemkab setempat diminta bertindak secepatnya sebelum bertambahnya korban. Pasalnya, alokasi anggaran Rp666 juta dari APBD 2008 yang diperuntukkan untuk penanggulangan gizi buruk hingga kini belum terealisasi sepenuhnya.

Dalam kurun beberapa bulan terakhir, di Kab. L. Batu banyak ditemukan anak-anak korban penyakit gizi buruk maupun gizi kurang. Dinas Kesehatan L. Batu seolah tidak dapat berbuat banyak.

Kepala Subdinas Pembinaan Pelayanan Kesehatan L. Batu Helifenida, SKM kemarin menerangkan, besarnya dana penanggulangan gizi buruk di L. Batu TA 2008 sebesar Rp666 juta. Anggaran ini untuk kegiatan makanan tambahan bagi bayi seperti telur bubur dan sebagainya. Namun, realisasi penggunaan dana penanggulangan gizi buruk tidak maksimal.

“Untuk tahun 2008 realisasinya masih 50 persen,” kata Helifenida baru-baru ini kepada wartawan di Rantauprapat. Penanggulangan gizi buruk yang bersumber dari dana APBN juga hingga saat ini belum sampai kepada pihaknya.

“Anggaran dana dari APBN seperti biskuit dan bubur belum sampai ke kita,” kata Helifenida, yang didampingi Kepala seksi Gizi Dinas Kesehatan Labuhanbatu Timur Bulan.

Mereka mengatakan, penggunaan anggaran yang bersumber dari APBN diperuntukkan untuk dua kelompok umur, yakni barang berupa bubur untuk umur 6-12 bulan dan biskuit untuk anak-anak umur 12-23 bulan.

Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) L. Batu Yarham Dalimunthe mengungkapkan, hasil investigasi menyimpulkan hampir di seluruh Puskemas di L. Batu tidak menjalankan program penyuluhan kesehatan penyetaraan gizi dan program lain yang berkaitan dengan penanggulangan gizi buruk.

“Ini terbukti saat kami mengunjungi Puskesmas Kota Batu dan Puskesmas Kota Rantauprapat baru-baru ini. Di Puskesmas ini tidak ada menampilkan laporan kegiatan berhubungan dengan penanganan program penyuluhan kesehatan, penyetaraan gizi, dan program penanggulangan gizi buruk,” ujar Yarham dengan nada geram.

Dalam tiga pekan ini saja sudah ditemukan empat kasus gizi buruk masuk ke Rumah Sakit Daerah Rantauprapat. Kasus ini bukanlah baru, ini merupakan kasus yang sudah lama akibat kurangnya perhatian pemerintah daerah, ujar Yarman.

Seorang pasien penderita gizi buruk, Ipin, 7, warga Lingkungan Aek Matio, Kel. Sirandorung, Kec. Rantau Utara meninggal dunia di RSUD Rantauprapat, Selasa (4/11) sore. Kemudian, Ekasari yang berusia 1 tahun 5 bulan kini dirawat karena menderita gizi buruk. Berat badannya hanya 5 kilogram.
(wir/cbs)

Satu Tanggapan

  1. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur http://www.infogue.com/info/cinema/& http://www.infogue.com/game_online & http://www.infogue.com/kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://kesehatan.infogue.com/penanggulangan_kasus_gizi_buruk_di_labuhanbatu_belum_maksimal

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: