Belanja Meubiler di Bappeda Labuhanbatu Tumpang Tindih

Belanja modal pengadaan komputer dan meubiler di Badan Perencenaan Pemerintah Daerah (Bappeda) Labuhanbatu diduga mengalami tumpang tindih. Faktanya, belanja tahun 2007 diduga kembali diusulkan pada tahun 2008 dan disetujui dalam APBD 2008.

Dalam nota Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2007 disebutkan, belanja modal pengadaan komputer dalam APBD setelah perubahan dianggarkan Rp 52,4 juta, realisasinya Rp 52,28 juta.
Pos anggaran belanja modal pengadaan komputer terdiri dari pengadaan komputer notebook dianggarkan Rp 36,4 juta, terealisasi Rp 36,3 juta. Kemudian, pengadaan printer dianggarkan Rp 13,5 juta terealisasi Rp 13,48 juta.
Kemudian, belanja modal pengadaan scanner dianggarkan Rp 2,5 juta, terealisir semuanya.
Namun, pada penjabaran APBD Labuhanbatu TA 2008 untuk Bappeda, kembali ditemukan belanja modal pengadaan komputer senilai Rp 58,15 juta yang dipergunakan untuk pengadaaan komputer note book dua unit yakni senilai Rp 36,4 juta, pengadaan printer Rp 16 juta yakni 2 unit printer HP Laserjet Rp 9 juta dan 1 unit printer LQ senilai Rp 7 juta, pengadaan UPS/Stabilizer Rp 4,5 juta, dan biaya kelengkapan komputer (flashdisk, mouse, keyboard, harddisk, speaker) Rp 1,25 juta.
Sedangkan pada dokumen anggaran satuan kerja (DASK) Proyek APBD 2006 Aparatur Daerah disebutkan, pengadaan notebook untuk Bappeda sebanyak 3 unit dengan biaya Rp 60 juta.
Menanggapi fakta tersebut, Direktur Lembaga Bina Masyarakat Indonesia (LBMI)Yos Batubara meminta agar panitia anggaran lebih jeli agar tidak merebak tudingan negatif mengenai tumpang tindih belanja modal.
“Panitia anggaran agar jeli mengoreksi setiap pengajuan anggaran oleh masing-maing dinas, badan, ataupun instansi. Bahkan jika perlu, perlu dicheck keberadaan notebook yang dibeli selama tiga tahun berturut-turut. Apakah barangnya masih ada atau apakah jumlahnya sama seperti yang tercantum dalam anggaran,” kata Yos Batubara, Rabu (7/1) di Rantauprapat.
Guna menuntaskan fakta-fakta tersebut, Yos juga meminta kepada BPK dan KPK untuk menindaklanjuti temuan dimaksud. Karena, menurut dia, tidak tertutup kemungkinan hal serupa terjadi pada dinas atau instansi lain.
“LBMI sedang menginventarisir setiap temuan kejanggalan untuk disampaikan ke KPK,” ujarnya.
Kepala Bappeda Labuhanbatu Esti Pancaningdiah melalui Kabid Sosial Budaya Hobol Rangkuti menyatakan, pengadaan belanja komputer dan meubiler tersebut bukan tumpang tindih.
“Sebenarnya bukan tumpang tindih, melainkan kebutuhan tahun 2007 dan 2008. Khususnya meja kursi untuk kebutuhan gedung baru yang bertingkat. Dan laptop masing- masing bidang belum tersedia perangkatnya,” katanya.
Anggota DPRD Labuhanbatu Dahlan Bukhori mengatakan, belanja pengadaan komputer dan beberapa meubiler tersebut perlu di evaluasi.
“Kalau kebutuhan tidak mendesak meskipun sudah dianggarkan boleh saja tidak dibelanjakan. Persoalannya apakah dimanfaatkan yang sudah dibeli 2007 sehingga kembali dianggarkan 2008,” katanya.(MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: