Harga TBS terus Berfluktuasi

Harga tandan buah segar (TBS) Kelapa sawit berfluktuasi. Pun demikian, terus mengalami perubahan setelah sempat melorot drastis beberapa waktu lalu.
Hingga Selasa (3/2) nilai jual dibeberapa tempat penampungan bertengger di level Rp1110-Rp1200 perkilogram. Itu, setelah mengalami penurunan dari harga sebelumnya sekira Rp10-Rp20 perkilogramnya.
Seperti catatan dari penampung TBS Sawit RR harga beli dari petani mencapai Rp1155 perkilogram. Ditempat penampungan BANI Rp1120/Kg. BI Rp1110/Kg. PJ Rp1115/Kg. PM Rp1110/Kg. LS Rp1125/Kg atau turun sebesar Rp25/Kg dari hari sebelumnya.
Sedangkan untuk penampungan buah di HJ untuk TBS kategori Super Rp1200/Kg dan Rp1110/Kg atau mengalami penurunan Rp10/Kg dari hari sebelumnya.
Informasi di tingkat petani sempat beredar, hingga penghujung tahun 2009 mendatang, diprediksi harga TBS akan mencapai level Rp2000/kilogram. Alasannya, kata petani, dipicu kian membaiknya perekonomian global dunia. Dan, kian membaiknya grafik permintaan konsumen dunia untuk mengimport crude palm oil (CPO) Indonesia. Selain itu, dikabarkan akan terjadinya penurunan jumlah produksi perkebunan sawit milik masyarakat. Karena, selama terjadinya anjlok harga TBS para petani kebun sawit tidak sanggup membiayai perawatan kebunnya.
Sekretaris Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Aspakindo) Cabang Labuhanbatu Aminuddin Manurung mengaku harga TBS Sawit akan terus mengalami perbaikan dari sebelumnya. Meski, kata dia, akan terus mengalami grafik yang berfluktuatif namun akan bertahan di level Rp1200 perkilogram. “Awal tahun 2009 hingga sebulan mendatang akan bertahan di harga Rp1200,” tukasnya.
Tapi, kata dia, pihaknya belum memprediksi terjadinya peningkatan harga hingga ke level Rp2000/Kg. “Duh, untuk sampai ke level itu kita belum memprediksi,” paparnya.
Sebelumnya, dipenghujung tahun 2008 lalu, harga TBS di tingkat petani sempat mengalami penurunan yang bagi kalangan petani sangat memprihatinkan. Bahkan, dibeberapa tempat harga hanya bertahan di level Rp150-Rp250 perkilogram. Terbukti, banyaknya kalangan petani tidak mampu untuk melakukan perawatan kebun sawitnya. Terlebih lagi, dipicu kian tingginya nilai jual berbagai sarana perkebunan. Seperti pupuk dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: