Aziz Percaya Polisi, dan Ia pun Tewas

Wakil Ketua DPRD Sumut Hasbullah Hady sempat mengingatkan Ketua DPRD Sumut Aziz Angkat tentang situasi aksi yang semakin tak kondusif. Tapi Aziz Angkat percaya dengan polisi. “Ah, kan ada polisi yang mengawal saya,” ucap Aziz Angkat yang ditirukan Hasbullah. Itulah percakapan terakhir antara dua sejawat ini. Dan rupanya kepercayaan Aziz Angkat kepada polisi untuk mengamankan dirinya tak terbukti. Aziz Angkat bahkan tewas sebelum sempat sampai ke rumah sakit.
Polisi sendiri mengatakan pengamanan mereka telah maksimal. Kapoltabes Medan Kombes Polisi Aton Suhartono mengaku telah menurunkan 2 pleton (60 orang) polisi berseragam dinas yang berjaga ditambah 15-20 polisi berseragam preman dan keamanan dari Satpol PP.
Kondisi ini membuat miris sejumlah saksi mata dan di antaranya anggota DPRD Sumut, Rafriandi Nasution. Ia menyimpulkan bahwa jumlah personel keamanan sama sekali tak seimbang dengan massa. Ia menuturkan bahwa saat massa mulai bergerak anarkis, polisi sama sekali tak sigap. “Lemparan batu dan benda keras mengarah ke ruang sidang. Bahkan Pak Ketua juga sempat dipukul serta ditendang oleh massa,” cerita Rafriandi.
Setelah mendapatkan perlakuan kasar dari pengunjuk rasa, Aziz Angkat sempat mendapat pertolongan dan dibawa ke salah satu ruangan anggota dewan. Namun keadaan Sekretaris DPD Partai Golkar Sumatera Utara tersebut sudah terlihat kritis.
“Bibirnya sudah terlihat membiru,” sambung Rafandi. “Saat itu keadaan Bapak benar-benar membutuhkan pertolongan medis, tetapi pengunjuk rasa mengira ini hanyalah skenario polisi untuk membawa pergi Bapak,” ujar Rafandi menambahkan.
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sumut menyesalkan minimnya personel keamanan dalam menghadapi para pengunjuk rasa pendukung pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) yang mengakibatkan Ketua DPRD Sumut, H Azis Angkat, meninggal dunia. “Kami menyesalkan jumlah aparat keamanan yang minim dan itu menunjukkan mereka tidak siap dalam mengamankan Kantor DPRD Sumut dari pengunjukrasa,” kata Koordinator Kontras Sumut, Diah Susilowati.
Menurutnya, jumlah aparat keamanan yang turun menangani unjuk rasa tersebut sangat terbatas, maka dinilai menjadi salah satu faktor penyebab utama aktivitas para pengunjuk rasa yang tidak terkendali (anarkis).
“Jika saja aparat keamanan bisa belajar dari pengalaman para pengunjuk rasa pendukung pembentukan Protap sebelumnya, maka tindakan anarkis dan aksi pemukulan bisa dihindari,” tegasnya.
Kematian Ketua DPRD Sumut Sisa Masa Bhakti 2004-2009, Abdul Aziz Angkat, saat menghadapi demonstrasi ribuan pendukung Propinsi Tapanuli (Protap), Selasa (3/2), menimbulkan kecaman. Namun kali ini kecaman itu diarahkan kepada pihak aparat kepolisian.
Kecaman itu berujung pada tuntutan agar Kapolda Sumut Irjenpol Nanan Soekarna dan Kapoltabes Medan Kombespol Anton Suhartono untuk mundur dari jabatan masing-masing. Mantan anggota DPRD Sumut yang saat ini duduk sebagai Ketua Pimpinan Kolektif Propinsi Partai Demokrasi Pembaruan (PKP PDP) Sumut, Marlon Purba, menilai polisi lamban dalam bekerja.
Ia menuding bekas korpsnya itu tidak sigap membaca situasi yang terjadi di lapangan. “Padahal melalui media massa sudah diberitahu kalau akan ada pengerahan massa ke DPRD Sumut. Kenapa hal ini enggak diantisipasi dengan cepat dan maksimal,” ujarnya kepada para wartawan di gedung dewan pasca-aksi anarkis itu.
Sikap senada dilontarkan anggota DPRD Sumut dari Partai Patriot Pancasila, Ir Edison Sianturi. Politisi muda yang berasal dari dapem Dairi, Pakpak Bharat, serta Tanah Karo itu sangat bersedih putra terbaik masyarakat suku Pakpak saat ini meninggal secara sia-sia.
“Kami sangat menyesalkan sikap aparat kepolisian yang terkesan melakukan pembiaran. Padahal aksi serupa pernah terjadi beberapa waktu sebelumnya,” ujar Sianturi. Saat itu, ujar Sianturi, massa Protap juga mengobrak-abrik sidang paripurna menuntut pengesahan pembentukan Protap.
Tewasnya Ketua DPRD Sumut, Drs H Abdul Aziz Angkat MSP, Selasa (3/2) siang di gedung wakil rakyat diduga akibat karena aksi brutal massa demo merupakan kurangnya pengamanan dari pihak kepolisian.
Hal ini dikatakan, Kepala Divisi Advokasi dan HAM Demokrasi Lembaga Bantuan Hukum Medan, Muslim Muis SH kepada MedanBisnis, Selasa (3/2) di kantornya Jalan Hindu Medan. Menurutnya, tewasnya ketua DPRD Sumut, H H Abdul Aziz Angkat MSP tidak terlepas tanggungjawab pihak kepolisian.
Tewasnya Ketua DPRD Sumut ini adalah tragedi di awal tahun 2009. Pihak kepolisian harus menangkap siapapun pelakunya dan aktor di balik peristiwa ini. “Kuat dugaan tragedi ini sudah ada perencanaan terlebih dahulu,” kata Muslim.
Melihat dari segi HAM jelas rasa aman warga negara telah terlanggar. Terjadinya peristiwa ini dinilai pengamanan kepolisian sangat lalai dan gagal dalam mendeteksi aksi-aksi brutal yang akan terjadi seputar penyampaian aspirasi. “Artinya, kemampuan intelijen kepolisian sangat kurang, sehingga yang paling bertanggungjawab adalah pejabat/petinggi Kepolisian Sumut,” tambah Muslim.
“Ini tragedi pertama setelah Indonesia merdeka, sehingga semakin memperburuk citra institusi  pengamanan, pelindung dan pengayom masyarakat”, ujarnya.
Siaga Satu
Kapoltabes Medan Kombes Aton Suhartono menyatakan, Kota Medan dan sekitarnya ditetapkan dalam kondisi siaga I. Ini terkait tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz Angkat dalam unjuk rasa anarkis yang dilakukan pendukung Provinsi Tapanuli (Protap), Selasa (3/2).
“Pengamanan ditingkatkan,” kata Aton yang dihubungi di Medan, Selasa (3/2) malam. Ia memerintahkan seluruh personel untuk meningkatkan patroli di seluruh wilayah hukum Poltabes Medan.
Polisi juga menyiagakan personel untuk berjaga-jaga di rumah Ketua DPRD Sumut Aziz Angkat di Jalan Eka Rasmi, Kecamatan Medan Johor. Pengamanan juga dilakukan di Gedung DPRD Sumut, semua rumah anggota DPRD Sumut, termasuk pimpinan partai politik di Medan.
Polisi juga melakukan dialog dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda di daerah itu di kediaman pejabat Wali Kota Medan. “Agar peristiwa yang terjadi di Gedung DPRD Sumut tidak berkembang menjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.(MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: