Memburu Pemekaran, Berbuntut Pidana

Pemekaran wilayah membuka peluang baru. Mulai dari aliran dana, proyek hingga jabatan strategis. Maka pihak yang mengincarnya sudah pasti ngotot mendapatkannya, bila perlu merebut paksa dengan berbagai cara.

Tragedi di Kantor DPRD Sumatera Utara (3/2/2009) menegaskan ambisi penuh kepentingan pribadi tersebut. Aksi unjuk rasa ribuan orang untuk menuntut pembentukan propinsi Tapanuli berlangsung anarkis hingga memakan menghilangkan nyawa Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat.

Pemekaran wilayah merupakan salah satu ide cemerlang untuk percepat pertumbuhan daerah. Sejak pertama digulirkan hingga pada 1999 hingga kini tercatat 173 daerah pemekaran baru, baik berupa propinsi maupun kabupaten/kota.

Di bawah kepemimpinan gubernur yang tepat, berapa propinsi baru sudah berhasil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Sekedar contoh adalah Kepulauan Riau, Gorontalo dan Banten.

Tapi lebih banyak lagi yang masih jadi benalu bagi propinsi induk. Tak cuma propinsi induk yang terbebani, tetapi juga APBN karena harus menanggung beban Dana Alokasi Khusus (DAK) tapi daerah yang bersangkutan tidak juga menunjukkan tanda-tanda percepatan pertumbuhan ekonomi.

Berkaca dari kenyataan ini maka pada 2007 lalu pihak DPD dan pemerintah sepakat menunda realisasi rencana pemekaran wilayah. Bahkan wilayah hasil pemekaran yang tidak lolos dari evaluasi akan digabung kembali ke induknya. Selain pemekaran wilayah, UU Otonomi Daerah juga mengatur merger antar wilayah.

Khusus kasus Sumut, ide pemekaran wilayah sudah berhembus sejak 2005.
Rencananya akan dipecah dalam tiga propinsi, yakni Tapanuli, Mandailing Natal dan Sumatera Timur.

Setiap wilayah baru ya membutuhkan kepala daerah baru, ketua DPRD baru berikut perangkatnya. Mereka ingin kantor baru, gaji plus tunjangan baru, rumah jabatan baru, dan mobil dinas baru. Layak diperebutkan bukan?

Tapi memburu jabatan dengan cara membakar emosi masyarakat hingga
berbuat anarkis? Itu sih jelas pidana. (lh/ndr)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: