Nyawa Aziz Angkat Direnggut, Agenda Protap Ternoda

Tragis dan ternoda. Citra buruk itulah yang muncul terhadap unjuk rasa ribuan massa pendukung pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) di Gedung DPRD Sumut, Selasa (3/2). Ketua DPRD Sumut sisa masa bakti 2004-2009, Abdul Aziz Angkat, meninggal dunia setelah dipukuli oleh sejumlah pengunjuk rasa. Ia baru saja usai memimpin paripurna PAW anggota DPRD Sumut dari Partai Bulan Bintang (PBB) itu.
Sejak pukul 09.00 WIB, massa mulai menyelimuti area Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol Medan. Aparat kepolisian tampak berjaga-jaga, namun jumlah mereka tak sebanding dengan massa pengunjuk rasa,  sementara dua pintu pagar besi di samping tangga gedung dewan dikunci.
Suasana ramah sebenarnya sempat mewarnai aksi unjuk rasa itu. Sebagian pengunjuk rasa menari dan menyanyikan lagu-lagu Tapanuli. Namun, tiba-tiba massa mulai merangsek ke tangga gedung dan ikut masuk ke arena paripurna. Massa juga membawa peti mati yang mereka jadikan sebagai simbol matinya hari nurani anggota DPRD Sumut.
Beberapa menit setelah paripurna PAW berakhir sekitar pukul 10.45 WIB, suasana mulai memanas. Massa, juga beberapa anggota dan mantan anggota DPRD Sumut yang berada di ruangan berteriak menuntut pimpinan dewan menggelar paripurna pembentukan Protap. Massa juga mendesak pimpinan dewan menandatangani SK persetujuan pembentukan Protap.
Merasa tidak digubris, massa emosi dan mengamuk. Mereka melempari kaca pintu gerbang Gedung DPRD Sumut, merusak beberapa meja sidang dan mencopot kabel listrik alat pengeras suara. Banyak anggota dewan berusaha lari untuk menyelamatkan diri, termasuk Aziz Angkat dan pimpinan dewan lainnya. Namun malang bagi Aziz Angkat, dia terkena lemparan batu dan shock. Oleh sejumlah anggota dewan dan Satpol PP,  dia dibawa turun melalui tangga ruang paripurna bagian belakang.
Aziz hendak dibawa ke ruang kerjanya, namun ruang itu ternyata sudah dikuasai massa. Aziz yang dalam kondisi lemah lantas dibawa masuk ke ruang fraksi Golkar.
Saat itu, di ruang paripurna masih tinggal di antaranya Wakil Ketua Japorman Saragih, Jhon Eron Lumbangaol (keduanya dari Fraksi PDIP), Elbiner Silitonga (PIB), Aliozisokhi Fau (Demokrat), Toga Sianturi, Penyabar Nakhe (PDS), dan ada juga Burhanuddin Rajagukguk, yang beberapa bulan lalu di-PAW dari DPRD Sumut (kesemuanya pendukung pembentukan Protap), serta politisi dari Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN, Jumongkas Hutagaol.
Didampingi Akhman Daulay yang baru dilantik jadi anggota DPRD Sumut PAW, Bustinursyah Sinulingga yang merupakan politisi Partai Bulan Bintang (PBB) dan akrab dipanggil Ucha tetap bertahan di ruangan paripurna.
Entah bagaimana mulanya, Jhon Eron kemudian menggelar “paripurna rakyat” yang hasilnya pembentukan Protap “disetujui” DPRD Sumut untuk dibentuk dan semua “pimpinan dewan dadakan” menandatangani persetujuan itu.
Uniknya, Ucha juga membubuhkan tanda tangannya pada persetujuan itu. Kepada para wartawan dia mengaku tidak merasa terpaksa melakukannya. Hanya saja, dia mengingatkan, semua proses pembentukan propinsi baru harus melalui mekanisme yang sah secara hukum.
Nah, kertas persetujuan pembentukan Protap itu mereka bawa untuk ditandatangani Aziz Angkat di ruang fraksi Golkar. Karena polisi sudah berjaga-jaga di lorong-lorong sekitar ruang Fraksi Golkar, massa beralih ke sisi luar ruang itu dan mereka melempari kaca-kaca jendela hingga berantakan.
Aziz Angkat yang mengidap penyakit jantung dan pernah dioperasi di Singapura itu semakin shock. Dia hendak diselamatkan melalui pintu besi yang memisahkan DPRD Sumut dengan Bank Mandiri, tapi pintu tak kunjung dibuka.
Tak ada pilihan, Aziz Angkat harus langsung diselamatkan melewati massa yang mengepung pintu ruang Fraksi Golkar. Sayangnya, jumlah polisi saat itu tidak cukup untuk menghalau massa. Seorang petugas Satpol PP dan beberapa anggota dewan dengan dikawal beberapa polisi akhirnya berupaya menerobos massa, membawa Aziz Angkat yang bertambah semaput ke dalam truk polisi untuk dievakuasi.
Rencana itu tidak berjalan mulus. Mengetahui hendak dievakuasi, meski dipapah dan dalam kondisi tak berdaya, massa memukuli kepala Aziz Angkat yang saat itu coba dilindungi oleh sejumlah Satpol PP, polisi dan anggota DPRD Sumut. Tak ayal, lebam-lebam biru menghiasi wajah Aziz Angkat dan akhirnya dia pingsan.
Aziz Angkat akhirnya berhasil dimasukkan ke truk polisi. Namun massa berupaya menggagalkan upaya evakuasi Aziz Angkat dengan menghalangi laju truk, termasuk menyilangkan sejumlah angkot di pintu keluar pagar DPRD. Massa melempari truk dengan batu-batu besar. Aksi itu berlangsung sekitar setengah jam. Sekitar pukul 12.00 WIB Aziz Angkat berhasil dilarikan ke Rumah Sakit Gleni International Hospital. (MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: