LBMI: Banyak Masyarakat tak Hafal Lambang Parpol

Pelaksanaan Pemilu tidak sampai dua purnama lagi. Namun seiring dengan semakin dekatnya waktu pelaksanaan Pemilu, maka semakin mengkhawatirkan pula kesiapan pemilih dalam menggunakan hak pilihnya nanti. Demikian juga dengan hasil dari pilihan rakyat pemilih. Sama-sama mengkhawatirkan.

Karena dari seluruh tahapan penyelenggaraan Pemilu 2009, wilayah tahapan yang dinilai cukup strategis untuk dicermati yakni dimana mengkonversi suara rakyat menjadi kursi adalah tahapan pemungutan suara dan tahapan penghitungan rekapitulasi hasil serta tahapan penetapan hasil. Ketiga wilayah tahapan ini adalah merupakan wilayah yang cukup penting untuk dicermati karena ketiga wilayah tahapan ini akan menentukan para wakil rakyat yang benar-benar dipilih oleh rakyat. Hal ini dikatakan Yos Batubara kepada wartawan

Direktur Eksektif Lembaga Bina Masyarakat Indonesia (LBMI) ini menyebutkan, seperti kita ketahui, Pemilu 2009 diikuti oleh puluhan partai politik (parpol) dan lebih dari seribu caleg yang tersebar dalam lima daerah pemilihan (dapem) di Labuhanbatu. Hal ini jelas akan membuat Pemilu 2009 begitu meriah. Meriah oleh atribut partai juga oleh berbagai tingkah polah kampanye parpol dan caleg dalam menarik hati para pemilih untuk memilih mereka. Seluruh kegiatan tersebut tidak dilakukan dengan begitu saja, diperlukan dukungan dana yang tentu tidak sedikit untuk merealisasikannya, apalagi mengingat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mensyaratkan suara terbanyak dalam keterpilihan seorang calon. Setidak tidaknya, peserta pemilu harus lebih intens dalam menjaring suara pemilih agar dia dapat memperoleh suara yang signifikan dalam pemilu.

Kekhawatiran menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 disini, dikatakan Yos, bukan kekhawatriran mengenai tekhnis amar putusan MK tersebut. Melainkan ke khawatiran pada tingkat kesiapan pemilih yang benar-benar matang dalam menggunakan hak pilihnya nanti dibilik suara.

“Bukan kesiapan yang dipaksakan. Sebab, dalam bilik suara pemilih akan menandai nomor urut atau menandai nama caleg yang dicalonkan oleh parpol yang terdapat dalam surat suara nantinya. Hal ini berdasarkan hasil interiview yang kami lakukan secara random diseputaran jantung kota Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumut, dalam beberapa hari ini,”ujarnya.

Masyarakat pemilih yang di interview LBMI adalah Buruh Toko, Pedagang Kaki Lima, Pembantu Rumah Tangga, Pekerja Bengkel Sepeda Motor, dan Pekerja Door Smeer. Mereka yang di interview mengaku tidak hafal dengan lambang atau tanda gambar parpol-parpol baru sebagai pengusung caleg yang ada dalam surat suara nantinya.

“Mereka masih dominant mengenal lambang atau tanda gambar parpol lama seperti Golkar, PDIP, Demokrat, PAN, PKS, PBB dan PBR,”sebutnya lagi.

Salah satu indikator penyebab kurang hafalnya masyarakat terhadap lambang atau tanda gambar parpol baik parpol lama maupun baru dikarenakan hampir menyeluruh para caleg umumnya lebih mendominasikan photo wajahnya pada alat peraga dibanding lambang atau tanda gambar partai dan juga nomor urut dan nama caleg itu sendiri, sebutnya.

Dijelaskannya, hal ini jelas bisa berdampak membingungkan pemilih nantinya ketika hendak memilih si caleg khususnya yang diusung oleh parpol baru. Sebab dalam surat suara tidak ada dicantumkan photo wajah caleg. Yang ada hanyalah nomor urut, nama dan lambang parpol serta nomor urut dan nama caleg.

Yos memaparkan, berdasarkan pengalaman tehnis memilih di bilik suara, ketika membuka surat suara si pemilih terlebih dahulu akan melihat lambang atau tanda gambar partai. Setelah itu diteruskan dengan mencari nomor urut atau nama caleg yang terletak dibawah kolom partai untuk ditandai. Bukan mencari nama caleg terlebih dahulu.

Indikator ini dapat dilihat dari berbagai alat peraga khususnya baliho para caleg. Pada baliho itu umumnya photo wajah caleg lebih dominan ketimbang nama atau lambang parpol. Seandainya masyarakat memang berniat untuk memilih si caleg tersebut karena telah mengenalnya, namun karena lupa atau tidak hafalnya sipemilih terhadap nama atau lambang parpol mana yang mengusung sicaleg tersebut, dapat kita bayangkan apa jadinya. Kondisi ini jelas berpotensi menimbulkan kebingunan pemilih saat memilih nantinya. Dan tidak tertutup kemungkinan suara sipemilih akan batal atau golput karna tidak ada yang ditandai. Jika ini terjadi nantinya, sia-sialah baliho atau alat peraga milik para caleg yang telah banyak ditempah dan dipajang yang jelas-jelas memakan biaya yang tidak sedikit.

Selain hal tersebut, yang lebih mengejutkan dari hasil wawancara yang dilakukan LBMI ini, ditemui bahwa sampai hari ini ditemukan masih ada diantara mereka yang belum mengetahui kapan dilaksanakan pemilu. Hal ini sesuai dengan pengakuan beberapa buruh toko yang berhasil diwawancarai. Rata-rata mereka menyebutkan belum mengetahui tanggal berapa pemilu dilaksanakan.

Mengenai parpol baru dalam pemilu 2009, salah seorang buruh toko yang diwawancarai mengaku hafal dengan lambang atau tanda gambar Partai Gerinda. Namun, buruh toko itu mengaku belum tahu tanggal berapa dilaksanakan pemilu, jelasnya.

Satu Tanggapan

  1. LBMI = yos, yos = LBMI, mana anggota yang laennnn.. sampeyan terus yang nulis

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: