Terkait Hak Interpelasi Dewan, Fraksi Reformasi Terkecewakan

Kalangan DPRD Labuhanbatu terkesan ‘pecah kongsi’. Itu, Rabu (25/2) sekaitan lanjutan sidang paripurna hak interpelasi dewan dalam membahas pemutasian Kasek se Labuhanbatu yang dilakukan Bupati Labuhanbatu belum lama ini.
Lantas, meski sidang penentuan hak interpelasi berhasil mengarah pada rencana penggunaan hak angket. Namun, sempat memunculkan persepsi. Sidang tersebut sebagai ajang ‘debat kusir’.
Soalnya, sidang yang telah beberapa kali digelar dalam kurun waktu menyoal kebijakan Pemkab Labuhanbatu yang kontroversial dalam pemutasian para Kasek. Akhirnya, beragendakan mendengar pandangan akhir fraksi-fraksi di gedung wakil rakyat itu. Tapi, diduga menyisakan kekecewaan salahsatu fraksi. Sebab, Fraksi Reformasi sempat tidak diijinkan menyampaikan aspirasinya.
Fraksi terdiri 4 Partai itu, diantaranya PPDI 1 orang, Partai Pelopor 1 orang, PAN 2 orang dan PKS 1 orang itu sempat melakukan interupsi dan beradu argumentasi kepada pimpinan dewan.
Karena, dari 6 Fraksi yang ada di DPRD Labuhanbatu, hanya fraksi Refomasi tersebut yang nyaris terkesan tidak dapat menyampaikan pandangan akhirnya.
“Ya, kita kecewa dengan kejadian itu,” ujar Ali Wansyah Ketua Fraksi Reformasi dan Puji Hartoyo Sekretaris Fraksi tersebut.
Karena, kata mereka, Fraksi itu terus mendesak pimpinan dewan untuk memberi kesempatan sebagaimana hak yang diperoleh fraksi lainnya. “Hampir satu jam kita menyita waktu mempertanyakan penyebab tidak diberi kesempatan,” tukas Ali.
Memang, kata pimpinan dewan setalah melakukan musyawarah dengan pimpinan Fraksi lainnya, akhirnya memberi kesempatan kepada Fraksi Reformasi untuk menyampaikan padangan akhir.
Tapi, merasa ‘terlecehkan’, akhirnya Fraksi tersebut tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan. “Bukan terlecehkan. Tapi, kita menilai telah tidak sependapat dengan pimpinan sidang. Makanya, kita sepakat memilih tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan,” ungkap Ali Wansyah.
Memang, beredar informasi dinamika penggunaan hak interpelasi dewan, terkesan relatif tinggi. Bahkan, sempat berembus isu, Fraksi Reformasi sejak awal menolak rencana digulirkannya Hak Interpelasi dan Hak Angket.
Kurang diketahui secara pasti alasan penolakan itu. Tapi, yang pasti, kata Puji, karena insiden itu, mereka tidak mencabut pernyataan Fraksi Reformasi meski tidak memberi Pandangan.
“Kita bersikukuh tetap pada pendirian awal. Tidak mencabut pandangan. Tapi, tidak menyampaikan pandangan,” ujarnya.
Ditanya mengenai isi pandangan akhir Fraksi itu, Ali Wansyah menolak untuk mengungkapkannya. Alasannya, karena belum dipaparkan di depan kalangan dewan, draft paparan mereka kini menjadi rahasia bagi kalangan dewan.
“Ya, isinya rahasia. Karena belum disampaikan di dalam persidangan,” tukasnya.
Tapi, mereka juga tidak mengungkapkan rencana-rencana Fraksi itu pasca insiden tersebut.
Sementara itu, H Abdul Roni Harahap pimpinan Sidang yang juga Ketua DPRD setempat mengaku sempat melakukan musyawarah dengan wakil ketua sidang. Dan, mempertanyakan pendapat pimpinan fraksi lainnya dalam memberi kesempatan kepada Fraksi Reformasi untuk memberi pandangan. “Ya, setelah musyawarah akhirnya fraksi Reformasi diberi kesempatan,” ujarnya.
Alasan nyarisnya Fraksi tersebut tidak mendapat kesempatan menyampaikan pandangan, dikatakan Roni, karena sejak awal Fraksi tersebut tidak mendukung penggunaan hak interpelasi. “Dari awal mereka tidak setuju. Dan, Absten. Jadi, seharusnya tidak memberikan pandangan. Tapikan, setelah diadakan musyawarah akhirnya disetujui juga,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: