Trade Port Labuhanbatu Terganjal Hutan

Rencana pengembangan pelabuhan laut (trade port) di Labuhanbatu disinyalir terganjal kawasan hutan. Padahal, pelabuhan laut itu sangat dibutuhkan untuk akselerasi pengembangan Pantai Timur Sumut karena secara geografis berdekatan dengan Malaysia dan Singapura.
“Hingga saat ini, hasil studi kelayakan yang dilakukan pihak pengembang belum terpublikasi dengan luas. Akibatnya, rencana pengembangan pelabuhan laut Labuhanbatu semakin samar,” ungkap Ali Wansyah Ritonga, seorang anggota DPRD Labuhanbatu mengomentari hal itu, beberapa waktu lalu di Rantauprapat.
Disebutkannya, potensi daerah ini sangat besar sebagai penghasil kelapa sait dan minyak mentah (Crude Palm Oil/CPO). Dengan potensi itu, Labuhanbatu bis alebih mudah mengekspornya ke pasar internasional. Apalagi, kata Ali Wansyah, CPO Indonesia masih dimonopoli Malaysia dalam penjualan ke pasar dunia.
Lebih lanjut dijelaskannya, pelabuhan di kecamatan Panai Hilir yang berada di muara pertemuan tiga daerah aliran sungai (DAS), tergolong strategis. Salah satunya, jarak tempuh menjadi relatif singkat, sehingga biaya yang dibutuhkan lebih efisien dan ekonomis. “Coba bandingkan dengan perjalanan dari industri ke Pelabuhan Belawan selama ini. Belum lagi terjadinya penguapan di jalanan,” paparnya.
Ali Wansyah menduga, pihak Pemkab Labuhanbatu tidak memiliki database tentang potensi kawasan itu. “Jika telah memiliki data base, maka pihak pemkab bisa menjelaskan keunggulan kawasan itu,” tegasnya.
Ia juga berharap, pihak pemkab setempat tidak memberatkan investor yang hendak mengurus perijinan. “Jangan pernah terjadi tumpang tindih perijinan antara daerah dan pusat. Itu akan menjadi penyebab pihak investor akan ‘lari’,” sebutnya.
Calon legislatif DPR RI, Ahmad Ridwan Dalimunthe, membenarkan hal itu. “Meski realisasinya terlambat, namun rencana pengembangan pelabuhan laut Labuhanbatu harus tetap diperjuangkan. Dari sisi letak, Labuhanbatu tidak kalah dari Singapura,” ucapnya.
Kepala Badan perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Labuhanbatu, Esty Pancaningdyah, mengaku, MoU dengan pihak pengembang dari Korea belum memperoleh hasil. “Pihak pengembang mempertanyakan kawasan yang akan dijadikan areal pelabuhan. Soalnya, itu kawasan hutan,” ungkap Esty.
Untuk itu, pihaknya masih menunggu realisasi permohonan pelepasan kawasan hutan itu. “Pihak pengembang membutuhkan kejelasan kawasan itu. Mereka butuh 500 hektar,” tandasnya.(MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: