Soal Lahan Rakyat Versus PT SMART Terus Berlanjut

Perjuangan rakyat Padang Halaban, Labuhan Batu Utara, untuk merebut tanah yang diklaim menjadi hak mereka, namun kini berada dalam pengelolaan manajemen PT Smarta Coorperation Kebun Padang Halaban, terus berlanjut.
Sudah ada berbagai upaya mediasi untuk mencari solusi atas problem itu, namun selalu gagal. Masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Padang Halaban Sekitarnya (KTPH-S) Kecamatan Aek Kuo berkali-kali menggelar aksi, namun perusahaan bergeming dari lahan yang disengketakan.
Perusahaan merasa penguasaan area perkebunan telah sesuai berdasarkan surat kepemilikan mereka yang sah. “Medan pertempuran” bahkan merembet hingga ke media massa, termasuk dengan melemparkan sejumlah pernyataan yang saling berlawanan di antara kedua belah pihak.
Sekretaris Umum KTPH-S, Maulana Syafi’I, angkat bicara. Kepada para wartawan di kantornya, Senin (3/8), mengatakan, pihaknya telah membawa persoalan ini ke Pengadilan Negeri (PN) Rantauparapat pada tanggal 18 Mei 2009 lalu.
Hingga kini proses hukumnya baru akan menyelesaikan proses mediasi antara pihak-pihak. “Hingga kini masih dalam proses. Gugatan itu sesuai dengan Register perkara No 08/Pdt.G/2009/PN-Rap,” ujarnya.
Hal ini sesuai dengan aturan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan proses mediasi dalam sidang gugatan perdata ditempuh selama kurun waktu 41 hari.
Selama kurung waktu tersebut, imbuhnya, hakim mediasi yang menyidangkan kasus ini sebagai mediator,harus menyampaikan saran dan pertimbangan ataupun himbauan kepada masing-masing pihak.
“Tujuannya, untuk menempuh perdamaian. Dan bila perdamaian tidak terjadi, sidang gugatan perdatanya akan dikembalikan kepada majelis hakim yang mengadili perkara tersebut,” tambah dia.
Jika tidak didapati kata perdamaian, proses hukum dilanjutkan pada sidang-sidang berikutnya. Hingga, mencapai sebuah keputusan yang berkekuatan hukum tetap.
“Jadi jelas, tuntutan masyarakat KTPH-S berdasarkan alas bukti kepemilikan atas tanah rakyat. Nyatanya, masih dalam proses hukum di PN Rantauprapat baru akan penyelesaian massa akhir sidang mediasi,” katanya.
Sebab, sidang belum mengarah kepada menghadirkan saksi-saksi ataupun bukti-bukti. “Untuk diketahui publik, bahwa rakyat KTPH-S telah menyiapkan saksi dan bukti-bukti yang sangat mendukung tuntutannya. Kita lihat saja nanti saat sidang pembuktian,” ucap Maulana.
Mengenai isu kalau tanah yang disengketakan warga adalah tanah milik keluarga/keturunan kerajaan Aek Kuo ataupun keluarga Sulaiman Munthe, Maulana membantah hal itu.
Ia mengatakan Wakil Ketua PN Rantauprapat, Ellyta Ginting, pada kesempatan gelar perkara di Polres Labuhanbatu terkait permasalahan serupa beberapa waktu lalu, tegas menyatakan kasus tanah ulayat/tanah kerajaan tidak ditemukan di Kabupaten Labuhanbatu.
“Hal ini dikarenakan daerah Kabupaten Labuhanbatu pada umumnya adalah bekas kawasan perkebunan asing,” ucap Maulana.
Kuasa Hukum rakyat KTPH-S, Emmy Sihombing, SH & Associates, mengatakan isu miring tentang perjuangan rakyat KTPH-S adalah upaya pengerdilan perjuangan rakyat.
Padahal, ucapnya, bukti-bukti yang dimiliki oleh rakyat KTPH-S dalam menuntut pengembalian tanah mereka yang telah digusur oleh PT Plantagen AG di tahun 1969/1970 adalah disertai bukti-bukti otentik yang dapat dimenangkan hukum.
Bukti-bukti tersebut di antaranya adalah KTPPT/KRPT, surat keterangan tanah yang dikeluarkan kepala desa, serta didukung dengan bukti-bukti fisik berupa pemakaman masyarakat yang terdapat di hampir seluruh divisi dalam areal perkebunan kelapa sawit milik PT. Smart Corporation kebun Padang Halaban.
Ia mengatakan bukti-bukti masyarakat sangat kuat. Ia mengatakan bukti-bukti KTPPT/KRPT telah teruji kekuatannya di mata hukum sebagai alas hak atas tanah yang benar dan diakui undang-undang.
Ia mencontohkan kasus sengketa tanah seluas 46, 11 hektar antara masyarakat Mabar yang diketuai Tugimin, dengan PT KIM dan Eks PTPN IX.
Alat bukti rakyat Mabar, kata Maulana, berupa KTPPT/KRPT dan telah dimenangkan oleh MA berupa Putusan MA dalam perkara Peninjauan Kembali (PK) Perdata No 94/PK/PDT/2004. (MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: