2010, Distan Sumut Cetak 300 Hektar Lahan Sawah

Dinas Pertanian Sumatera Utara (Distan Sumut) tidak ingin propinsi ini mengalami defisit beras akibat menyusutnya luas lahan pertanian padi secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Karena itu, Distan Sumut akan melakukan sejumlah langkah agar penyusutan lahan itu tidak berimplikasi luas pada menyusutnya produksi beras.
“Karena itu, di tahun 2010 mendatang, kami berencana membuka atau mencetak sawah seluas 300 hektar di tiga kabupaten. 100 hektar di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), 100 hektar di Asahan, dan 100 hektar lagi di Labuhanbatu,” ujar Kepala Dinas Pertanian Sumut, Mohammad Roem, kepada para wartawan di Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Sumut, Kamis (19/8).
Roem yang saat itu didampingi Kadis Kominfo Eddy Syofian, Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumut Setio Purwadi serta Kasubdin bidang Agribisnis dan Agroindustri Dinas Peternakan Harapan Hutauruk, mengatakan program pencetakan lahan sawah baru itu dibiayai oleh pemerintah pusat, dengan desain pencetakan lahan dari Sumut.
Namun, niat itu juga terkait erat dengan persoalan distribusi pupuk bersubsidi yang jumlahnya tidak cukup untuk Sumut. “Karena persoalan ini, saya pernah usulkan kepada Menteri Pertanian, Anton Apriantono agar bukan harga pupuk yang disubsidi, melainkan hasil produksi petani itu sendiri, agar para petani bisa mandiri dan mengatasi problem pertaniannya secara lebih independen,” ujar Roem.
Tetapi lanjutnya, ide itu ditentang Mentan, sebab anggaran untuk mensubsidi hasil produk pertanian terlalu besar. Karena itu Mentan, kata Roem, memutuskan agar subsidi tetap diarahkan ke distribusi pupuk.
“Mentan kala itu beralasan kalau subsidi pupuk secara nasional hanya Rp 10 triliun, sementara membeli hasil produk petani, jauh lebih besar dana yang dipakai,” ujar Roem.
El-Nino
Disinggung tentang kemungkinan munculnya badai el nino (kemarau berkepanjangan -red) yang disebut-sebut bakal menimpa banyak daerah di Indonesia, Roem menyebutkan dari informasi yang ada disebutkan Sumut akan terbebas dari badai itu, paling tidak hingga Desember mendatang. “Yang ada itu hanyalah spot-spot musim kemarau seperti di Paluta, Karo, serta sedikit daerah Labuhanbatu,” ujar Roem.
Pihak Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) pun memerediksi Sumut tidak akan terkena badai el-nino. “Karena itu kami bisa menjamin kalau produksi beras tidak akan terganggu atas kehadiran badai el-nino ini,” ujar Roem lagi sembari meminta masyarakat untuk sama-sama bertindak atas kemungkinan munculnya badai el-nino. (MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: