Tiga Nama Santer untuk Pilkada Labuhanbatu dan Labura

Tiga nama tokoh populer di Kabupaten Labuhanbatu Induk dan Labuhan Batu Utara (Labura) populer atau dikenal masyarakat kedua daerah itu. Ketiga nama dimaksud dianggap layak menjadi bagian dari nama-nama tokoh yang disebut-sebut maju dalam pilkada mendatang di kedua daerah tersebut.
Demikian hasil survei Komite Pemilih (TePI) Indonesia menjelang pelaksanaan pilkada di Kabupaten Labuhanbatu (induk) dan Labuhanbatun Utara (Labura) tahun 2010.

Koordinator TePI Indonesia Labuhanbatu, Yos Batubara, kepada wartawan di Rantauprapat, Senin (24/8),  menyebutkan, ketiga nama itu adalah istri Bupati Labuhanbatu induk saat ini, Hj Adlina T Milwan, DR Amarullah Nasution, H Buyung Sitorus.
Dua nama terakhir adalah politisi dari parpol yang berbeda, yang saat pemilu legislatif meraih kursi terbanyak sehingga berhak duduk sebagai anggota DPRD Sumut periode 2009-2014. Selain ketiga nama di atas, beberapa nama di antaranya juga dikenal sebagai sosok yang dikenal seperti Penjabat Bupati Labura saat ini, Daudsyah, kemudian Tigor, H Adil, dan Irfan.

Dari survei TePI, nama tokoh yang diprediksi akan maju sebagai calon bupati yang telah didengar, tercatat sekitar 37,5% responden mengaku sudah mendengar nama Hj Adlina T Milwan, 18,8% responden mengaku telah mendengar nama DR Amarullah Nasution.
Kemudian, sekitar 13,8% mengaku telah mendengar nama Tigor, 12,5% mengaku telah mendengar nama H Adil, 5% mengaku telah mendengar nama Irfan. Sedangkan yang tidak menjawab/tidak tahu sekitar 12,5%. “Nama Adlina T Milwan didengar oleh pemilih perempuan melalui pembicaraan atau perantara orang, bertemu langsung, pemberitaan,” ujar Yos.
Begitu juga dengan tokoh lain, termasuk melalui baliho, poster, selebaran atau bosur. Mengenai tingginya persentase responden yang tidak tahu atau tidak memberikan komentar, Yos berasumsi kelompok ini adalah swingvoters dan belum mendengar soal pilkada.

Swingvoters juga ia tengarai belum kenal dengan nama-nama tokoh di atas. Lalu, apakah tokoh-tokoh itu akan dipilih responden jika pilkada digelar, sebanyak 41,3%  menjawab ya. Sedang 43,8%  menjawab belum tentu. Sisanya, 15% abstain atau menjawab tidak tahu.
Untuk Labura, tokoh yang diprediksi maju sebagai calon bupati, sekitar 40% masyarakat berprofesi penggali/penjaga kuburan, pawang jarankepang, pawang hujan, dukun manten, dukun beranak, dan pensiunan buruh perkebunan mengaku mengenal H Buyung Sitorus.
Sekitar 35,4% mendengar nama Daudsyah, dan 15,4% menyebutkan nama alternatif. Yang tidak menjawab/tidak tahu sekitar 9,2%. Apakah semua tokoh itu akan dipilih, Yos menyebutkan hanya sekitar 46,2% menjawab ya. Kemudian, 38,5% menjawab belum tentu dan 15,4% responden menjawab tidak tahu atau abstain.
Proses dan Metodologi
Lalu bagaimana dengan proses dan metodologi survei yang mereka lakukan? Yos mengatakan TePI melihat karakter pemilih sebagai responden survei.  Ia mencontohkan pilpres 2009 di Labuhanbatu, di mana diketahui jumah pemilih pemula yang terdaftar mencapai lebih 5.000.

Jumlah ini setara dengan 2,02% dari keseluruhan jumlah pemilih terdaftar di kabupaten itu.
Selain itu ada pemilih lajang berjumlah 72.000 atau sekitar 26,9%. Pemilih menikah ditaksir 186 000 lebih atau 69,3%. Pemilih dari kelompok janda/duda berjumlah 10.000 lebih atau sekitar 3,8%.

Di Labura, lanjutnya, jumlah pemilih pemula 5.000 lebih atau 2,37% dari keseluruhan pemilih terdaftar. Pemilih lajang 58.000 lebih atau sekitar 26,62%.
Pemilih menikah berjumlah 148.000 atau 67,88%. Sedangkan pemilih yang berstatus janda/duda berjumlah sekitar 12.000 lebih atau sekitar 5,5%.  Untuk melihat popularitas dan peluang ketokohan menjelang pilkada di dua kabupaten ini, dalam risetnya Yos memilih responden perempuan yang menikah atau yang pernah menikah alias janda.

Khusus di Labura, sampelnya adalah penggali/penjaga kuburan, pawang jarankepang, pawing hujan, dukun manten, dukun beranak, dan pensiunan buruh perkebunan.
Dalam riset ditemukan, perempuan menikah di Labuhanbatu induk merasa kondisi ekonomi rumah tangganya tidak ada perubahan.

Sebanyak 2,5% responden menyebutkan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga sekarang ini jauh lebih buruk, 20% menyebutkan lebih buruk dan 38,8% menyebutkan tidak ada perubahan.

Yang menyatakan kondisi ekonomi saat ini lebih baik 18,8% responden, yang menyatakan jauh lebih baik 7,5%. Sedangkan 12,5% lagi menyatakan tidak tahu/abstain.

“Baik buruknya kondisi ekonomi kelak akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya dukungan bagi para kandidat,”ujar Yos.

Sementara itu di Labura, mengenai kondisi ekonomi rumah tangga sama halnya dengan di Labuhanbatu (Induk). Sebahagian besar responden merasa kondisi ekonomi rumah tangganya tidak ada perubahan. (mb)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: