Karto Bocah SD Ikut Tersiksa karena Alam

Oleh :  Drs. Safwan Khayat, Mhum

foto safwan kokoKarto, pelajar kelas 1 SD sedang duduk santai di beranda teras depan rumahnya sambil menatap kosong kumpulan air yang tergenang dalam kubangan kecil di sebelah kiri teras rumahnya itu.

Kubangan air itu bagaikan kolam kecil yang terisi penuh akibat siraman hujan yang mengguyur rumah Karto dengan derasnya. Ada beberapa kubangan air di sekitarnya persis seperti anak sungai yang mengalir sedikit demi sedikit menuju selokan di depan rumahnya. Selokan itu sepertinya tak mampu menampung aliran air dari kubangan itu, sebab maklumlah, selokan itu sudah penuh terisi. Bukan karena penuh terisi air, tapi tumpukan sampah yang berhari-hari di dalam selokan itu.

Bila datang musim hujan, selokan tak mampu menampung tadah air hujan. Bila sinar matahari menyembul panas, aroma tak sedap keluar dari selokan itu. Karto hanya bisa menatap atas seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi berulang-ulang di depan teras rumahnya.

Persis 15 meter di samping kanan rumahnya, ada pula gundukan sampah limbah rumah tangga yang diangkut 1 2 minggu sekali. Malaah terkadang, onggokan sampah itu sempat tak terurus hingga mendekati hitungan bulanan. Bila diterpa angin, aroma busuk melintas di antara dua lobang hidup warga sekitar. Karto kerap pula menghirup bau busuk sampah itu walau sudah biasa baginya. Daerah itu begitu kumuh dan sangat prihatinnya kualitas lingkungan sekitarnya. Aroma busuk itu sering datang dari selokan parit dan onggokan sampah tadi.

Bagi Karto, semua itu tak membebani hidupnya. Pola fikirnya yang masih belia tak punya pilihan hanya bisa menjalani proses hari waktu bergulir. Karto pun tak banyak menuntut harus ini dan itu, karena bapaknya pengemudi becak dayung dan ibunya membantu nafkah keluarga dengan mencuci pakaian tetangga. Karto menyadari keadaan orang tuanya itu. Karto juga tak pernah protes tentang situasi lingkungan sekitarnya yang di ambang parah. Bila hujan mengucur deras 30 menit saja, air sudah tergenang setinggi mata kaki.

Karto tak pernah mengkritisi dampak tertentu dari akibat situasi lingkungan rumahnya. Lingkungan yang kumuh dapat mengancam kesehatan tubuh, gangguan pernafasan, gangguan kulit dan kenyamanan tinggal. Bagi Karto bocah SD ini hanya bisa tersenyum, bermain dan berlari tanpa beban yang belum menumpuk di benaknya.

Malam itu hujan turun begitu deras diselingi angin kencang. Petir melintas dengan gemuruh suara keras menghiasi derasnya hujan. Orang tua Karto mulai resah dengan derasnya hujan karena mereka harus bergadang malam menampungi air hujan yang masuk dari sela-sela atap seng rumah mereka. Ternyata atap seng yang berkarat dan lapuk itu sudah banyak yang bocor.

Berbagai alat tampungan tersusun tak beraturan di lantai rumah mereka. Di mulai dari ember, panci hingga mangkok berukuran tertentu. Sudah 1 jam hujan turun, masih belum ada tanda-tanda reda. Sementara itu air sudah tergenang sejengkal di atas mata kaki yang masuk ke dalam rumah mereka. Tidak saja rembesan air hujan, air di dalam selokan itu mulai pula merambah rumah Karto. Bayangkan saja, betapa kacaunya situasi saat itu.

Hujan terus turun, atap seng bocor kian banyak dan genangan air tak terbendung. Orang tua Karto hanya bisa pasrah. Tapi malam itu, Karta sangat lelap tertidur. Ia tak sadari rumahnya sudah digenangi air dan kerumunan sampah. Ibu dan Bapaknya hanya bisa menatap dan meratap. Sementara Karto tidur pulas dengan lelap.

Orang tuanya sengaja tak mau mengganggu tidurnya Karto, sebab besok pagi Karto harus berangkat ke sekolah. Bapaknya mengangkat Karto untuk dipindahkan tempat tidurnya lebih tinggi agar aman dari serangan air. Dengan penuh cinta dan kasih sayang, udara yang mulai dingin menusuk tulang, si Ibu menutupi Karto dengan selimut yang sedikit tebal. Karto kian lelap tanpa menyadari air terus menyerang rumahnya.

Syukurlah, 2 jam berikutnya hujan mulai tanda reda. Tapi air yang masuk ke rumah mereka belum ada tanda berkurang. Wajar saja, air yang tergenang itu tak jelas mau ke mana karena selokan parit sudah tak mampu menampung derasnya debit air. Pepohonan yang berguna untuk menyerap air nyaris tak dijumpai sekitarnya, karena sudah ditebang untuk pembangunan ruko bertingkat. Air tergenang di rumah penduduk sudah setinggi pinggang.

Seperti biasa, Karto bangun pukul 06.15 WIB, sebab ia harus masuk sekolah pukul 7.30 WIB. Karto sedikit kaget, karena rumahnya sudah digenangi air. Sambil menggosok dua mata dengan jari kecilnya, Karto berkata dengan Ibunya; Mak, Karto mau sekolah ? Mana Baju Karto ? Si Ibu pun sigap mengurusi Karto.

Ia tak ingin anaknya ketinggalan pelajaran walau rumahnya dilanda banjir.
Dengan persiapan ala kadarnya, si Ibu membuka lemari pakaian buat Karto. Memang sial, baju karto tidak kena air, tapi celana, kaos kaki dan sepatu sekolah Karto hanyut di bawa air. Si Ibu sedih menatap anaknya. Lalu ia berkata; To, celana, kaos kaki dan sepatu mu amblas? Kenapa Mak ? Tanya Karto dengan lugunya. Hanyut To ? jawab Ibu sambil mengusap air mata kirinya. Gak apa Mak, pakai celana lain saja ? yakin Karto pada Ibunya.

Ternyata seluruh pakaian Karto juga basah, kecuali baju kaos putih warnanya mulai pudar dan 1 buah celana panjang yang selangkangannya koyak. Itu saja Mak, biar Karto bisa sekolah ? tunjuknya pada pakaian tadi. Sudahlah, Karto gak usah sekolah dulu? desak ibu. Tidak Mak, Karto sekolah aja? yakin Karto lagi.

Karena Karto keras hati ingin sekolah, ibu dan bapaknya tak bisa menahan. Dengan pakaian tadi Karto sekolah. Para guru memakluminya, tapi teman sebaya Karto menganggap Karto agak aneh saja. Maklum saja, mereka juga masih terlalu belia, cuma kelas 1 SD.
Ternyata hujan Rahmat Tuhan setiap hari turun. Walau tak sederas kemarin, tapi cuaca tetap hujan dan mendung. Tentu saja, pakaian Karto yang ada tak kering-kering. Satu minggu situasi alam terus begini. Belum ada tanda-tanda sang Surya Matahari bersinar lama siang itu. Selama 1 minggu pula Karto sekolah dengan pakaian tanpa ganti. Berbagai aroma tercium dan menempel pada pakaian Karto, tapi Karto tetap sekolah.

Karena pakaian Karto sudah kumal dan bau tanpa bermaksud jelek, guru Karto bertanya; Karto kenapa gak ganti bajunya ? Gak ada bu, baju sekolah Karto hanyut ! Baju lain basah belum kering, jawab anak itu. Jadi baju Karto memang gak ada lagi, Tanya guru dengan prihatin. Ia bu, Karto begini karena alam? sambut bocah itu. Kalau begitu Karto boleh libur dulu, janji si guru. Nggak lah bu, biarlah Karto begini ? Karto senang koq bu ? Biarlah Karto bau di sekolah sekarang ini! Sebab kalau nggak sekolah,  Karto bau selamanya? timpal bocah ingusan itu.

Dengan sedih si guru bergumam dalam bathinnya; kasihan Karto, dia korban amarah alam. Padahal Karto tak berdosa untuk menerima itu. Betapa teganya manusia menyiksa alam, hingga Karto ikut tersiksa merasakan. Yaahh!! Semoga manusia tak terus menyiksa alam dan Karto-Karto yang lain juga tidak terus tersiksa, harap si guru dalam benaknya.

*Penulis, Alumnus SMA Negeri 1 Medan, Alumnus dan Dosen UMA, Alumnus Pasca Sarjana USU Medan. Website; http;//Selalukuingat. blogspot.com. Email; // <![CDATA[
var prefix = 'ma' + 'il' + 'to';
var path = 'hr' + 'ef' + '=';
var addy2605 = 'safwankhayat' + '@';
addy2605 = addy2605 + 'yahoo' + '.' + 'com';
document.write( '‘ );
document.write( addy2605 );
document.write( ” );
//\n
// –>
// ]]>
safwankhayat@yahoo.com// <![CDATA[
document.write( '‘ );
// ]]>This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it // <![CDATA[
document.write( '’ );
// ]]>

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: