Bantaran Sungai Aek Buru Dikeruk, Warga Terancam

Bantaran Sungai Aek Buru, Desa Batu Tunggal, Kecamatan NA IX-X, Labuhanbatu Utara (Labura) makin memprihatinkan. Dinding tebing pemandian yang telah ditetapkan pemerintah sebagai objek wisata, masih dikeruk pengusaha dengan menggunakan alat berat.
Kegiatan pengikisan tersebut sudah berlangsung lama. Namun, bekas galian masih terlihat di beberapa titik, khususnya di hulu sungai.
Warga yang memiliki lahan di sekitar pengerukan mengaku tidak mengetahui apakah usaha galian C itu memiliki izin, untuk mengambil pasir maupun tanah dari areal lahan yang seyogyanya sebagai pelindung aliran sungai.
“Manalah kami tahu, tapi kami dengar-dengar, tidak ada. Kalau memang ada, berarti pemerintah mengijinkan orang merusak lingkungan,” terang warga. Pantauan MedanBisnis, Senin (31/8) di beberapa lokasi di antaranya di Dusun Satu Suka Rakyat, Desa Batu Tunggal, tepatnya bersebelahan dengan titi Satu Aek Buru, dinding sungai telah dikeruk setinggi sekira 4 meter.
Di bawah kerukan itu terlihat tumpukan batu cadas yang masih muda. Lokasi itu tepat di atas alur sungai yang sering dijadikan warga sebagai tempat mandi dan mencuci dan keperluan lainnya.
Sementara, pepohonan di atas lahan yang dikeruk, masih tegak. Namun dikarenakan adanya pengerukan, beberapa batang pohon nyaris tumbang. Dikhawatirkan, jika musim hujan, lokasi pengerukan itu akan ambruk karena tidak mampu menahan beban di atasnya. Pengerukan itu juga menyebabkan air sungai keruh dan jarang dapat dipergunakan kembali.
Beberapa warga sekitar menyebutkan, aksi pengerukan itu dikelola salah seorang pengusaha berinisial F, warga Desa Kampung Baru kecamatan yang sama. Disinggung tentang izin operasional, warga kebanyakan mengaku tidak tahu.
Telan Korban
Pengerukan yang dilakukan di sepanjang aliran sungai tersebut, telah menelan korban jiwa dua pekerja di lokasi. Kasus tewasnya salah satu pekerja sempat ditangani pihak Polsek Aek Kotabatu, Kecamatan NA IX-X. Namun, informasi yang diperoleh warga, setelah dua hari ditahan, pengusaha dimaksud dilepas polisi.
Menurut warga, kedua pekerja tewas di lokasi karena tertimbun pecahan batu cadas yang ambruk saat pengerukan. Walau begitu, aksi pengerukan terus berlanjut hingga kini. “Pernah dua pekerja tewas, maunya kalau sudah begitu, dilarang pengerukannya,” tambah warga yang ditemui di lokasi. Warga kedua dusun berharap agar Bupati Pemkab Labura, H Daudsyah melalui instansi terkait, segera menertibkan pengerukan sebelum menelan korban lebih banyak.
Bupati Pemkab Labura Daudsyah, berulangkali dikonfirmasi terkait adanya pengerukan dinding Sungai Aekburu, Senin (31/8) via handpnone, tidak ada jawaban. Dicoba melalui pesan singkat, lagi-lagi Daudsyah belum memberi tanggapannya.
Camat NA IX-X, Ismail Yahya Pasaribu, yang dikonfirmasi, mengaku aparat desa setempat tidak pernah melaporkan adanya pengerukan dinding Sungai Aekburu. “Apa memang ada dikeruk ya, aparat desa tidak pernah cerita itu sama saya. Besoklah, langsung saya turunkan bagian Trantib ke sana, pasti itu,” jawab Yahya melalui ponsel.(MB)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: