Per 100 Hari Suhu Politik Labuhanbatu Bakal Berubah

Survey awal Komite Pemilih (TePI) Indonesia bukan hasil final. Namun, deteksi awal situasi lapangan. Dan, tiap perkembangan situasi lapangan akan diaudit tiap 100 hari sekali.

Demikian dikatakan Yos Batubara kemarin menanggapi banyaknya minat warga atas hasil lembaganya yang dilansir media beberapa waktu lalu. “Bisa saja hari ini nama salah satu tokoh cukup popular ditelinga masyarakat. Namun, 100 hari kedepan akan muncul nama tokoh lain. Demikian juga dengan keyakinan pemilih, bisa saja hari ini warga telah yakin dengan pilihannya namun dalam 100 hari kedepan pilihan itu berubah,” beber Yos.

Dan diyakininya, dalam 100 hari kedepan kemungkinan bakal muncul tokoh baru yang oleh masyarakat disebut sebagai figur yang layak memimpin Labuhanbatu kedepan. “Ini yang disebut dengan teori probabilitas. Dan, semua tergantung pada situasi lapangan,” ujar Yos. Terlebih dalam metodologi yang digunakannya, dalam survey, katanya itu menggunakan para swing voter sebagai sampel responden. Yakni, masyarakat pemilih yang tidak memiliki ikatan.

Untuk menguji hasil suatu survey, ungkapnya, salahsatu upaya pembuktian keakuratannya adalah dengan cara mengajukan pertanyaan yang serupa atau sama dengan pertanyaan saat survey dilakukan. Pertanyaan itu dapat diajukan pada keluarga atau pada jiran tetangga. TePI merasa sangat senang jika ada kelompok atau perorangan lainnya yang memiliki hasil riset yang berbeda untuk sama-sama diuji.

Mengenai hasil survey yang baru dilakukan TePI, katanya, dengan mengambil topik Popularitas Dan Peluang Tokoh Di Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Labuhanbatu Utara menunjukkan beberapa temuan. Diantaranya, nama-nama tokoh yang telah didengar oleh warga yang berdomisili di Labuhanbatu untuk menjadi balon bupati pada Pilkada 2010 nanti. “Nama-nama itu, seperti Hj Adelina T Milwan, dan DR Amarullah Nasution. Mereka, dikenal cukup santer. Selain itu nama H. Adil, dr Tigor, dan Irfan yang disebutkan warga,” tukasnya.

Sedangkan, kata Yos, skala lokal di Labura warga lebih sering menyebutkan nama H Buyung dan Daudsyah dibanding nama tokoh lain. Mengenai kondisi perekonomian rumah tangga warga di Labura maupun Induk, katanya, sama-sama mengaku tidak ada perubahan dibanding tahun lalu.

Uniknya, tambah Yos, warga di Labura merasa telah yakin untuk memilih nama tokoh yang telah didengar ataupun disebut sebagai balon bupati pada hari “H” nanti. “Berbeda dengan warga yang ada di Labuhanbatu induk. Banyak mengaku belum tentu memilih nama tokoh yang teah didengar ataupun disebutnya,” imbuhnya.

Menilik pengakuan warga tentang tingkat keyakinan pilihannya dapat dimaklumi, hal ini didasari watak dari swing voter yang memang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan dengan salah satu partai. Dengan demikian pilihannya bisa berubah setiap saat karena pertimbangan sesaat atau karena mencermati perkembangan yang terjadi. Berbeda dengan pemilih tradisional yang bisa dikatakan sangat fanatik terhadap partai politik tertentu karena ikatan primordial dan sebagainya. Untuk itu, dalam 100 hari kedepan TePI akan melakukan audit guna mendeteksi perkembangan yang terjadi.

Nama DR Amarullah dan nama Haji Buyung tidak bisa dianggap remeh. Kendatipun semua balon memiliki peluang yang sama. Karena kedua tokoh ini sebelumnya telah membuktikan keberhasilannya dalam mendulang perolehan suara pada Pileg 2009 lalu. “Suara DR Amarullah pada Pileg 2099 cukup besar. Dan, rata-rata muncul tiap kecamatan yang ada di Labuhanbatu sama halnya dengan Haji Buyung yang perolehan suaranya juga merata ditiap kecamatan yang ada di Labura,” ulasnya.

Demikian juga halnya dengan nama tokoh lain seperti Hj Ellya Rosa dan Aminuddin Manurung yang pada Pileg 2009 lalu berhasil memperoleh suara terbanyak di Dapil masing-masing. Semua ini, katanya, tergantung kepiawaian para balon bersama tim pemenangannya dalam mencari dukungan dan simpati masyarakat sebagai warga pemilih nantinya khususnya dari kalangan swing voter.

Berdasarkan catatan TePI di Labuhanbatu jumlah duda/janda yang tercatat sebagai pemilih pada Pilpres 2009 lalu berjumlah sebanyak orang. Populasi duda/janda dan pemilih pemula yang terbesar terdapat di kecamatan Rantau Utara dan yang terkecil ada di kecamatan Panai Tengah. Sedangkan pemilih perempuan terbesar Kemudian jumlah pemilih perempuan terbesar terdapat di Rantau Utara sedangkan Bilah Barat adalah dengan jumlah terkecil. Untuk Labuhanbatu Utara Pemilih pemula di dominasi oleh Kualuh Hulu. Sedangkan pemilih yang berstatus duda/janda terbesar terdapat di Kualuh Selatan dan yang terkecil di Kualuh Ledong.

Jika dilihat situasi dukungan masing-masing tokoh terhadap sampel populasi yang dilakukan TePI sewaktu survey dilakukan, dilihat bahwa nama Hj. Adelina akrab ditelinga kaum ibu khususnya yang terlibat dalam organisasi, janda, kaum perempuan agamawan, perempuan pelajar, petani, dan juga sebahagian warga kalangan ekonomi kelas bawah. Sedangkan nama DR.Amarullah Nasution akrab dikalangan intelektual desa, buruh harian lepas, miskin desa, sebahagian miskin kota, komunitas lapo tuak, dan lelaki pelajar. Nama H.Adil, dr. Tigor, dan H Adil juga akrab dikalangan sebahagian miskin kota, ibu rumah tangga, dan intelektual desa.

Sedangkan di Labura, nama H Buyung cukup akrap dikenal bahkan telah mengakar hampir disemua kalangan masyarakat khususnya kelas bawah yang ada di Labura. Hal ini disebabkan oleh keaktifan H Buyung dalam melakukan kegiatan-kegiatan dan fasilitas sosial yang memang merupakan kebutuhan warga. “Bahkan ada sebahagian warga yang siap mendukung H Buyung kapan dan dimana saja jika mencalonkan diri sebagai Bupati,” ujarnya. Daudsyah, kata Yos, umumnya akrab dikenal oleh kaum buruh kerah putih, sebahagian miskin desa dan juga kaum agamais.

Untuk sekedar diketahui publik, ujarnya, TePI menolak riset pesanan atau dan sampel pesan. Kecuali hanya sebatas pertanyaan titipan melalui kuesioner untuk disampaikan pada responden. Tidak lebih dari itu. Dan hasilnya TePI sendiri yang akan melakukan validasi bersama para konsultan sebelum di lakukan expose.

Dari itu, untuk mengidentifikasi perkembangan di masyarakat khususnya mengenai riak-riak Pilkada, maka akan dilakukan audit tiap 100 hari sekali.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: