Nikahi dan Setubuhi Bocah, Pengusaha Dihukum 7 Tahun

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat, Rabu (2/9) siang, menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 7 tahun terhadap H Askah Hasibuan (39) gara-gara menikahi dan menghamili bocah yang masih berusia 13 tahun, Rh, anak pembantunya.
Ketua majelis hakim Ellyta Ras Ginting SH LLM bersama hakim anggota yang bersidang dibantu panitera pengganti Syamsudin SH di PN itu, dalam amar putusan pidananya, mengatakan, terdakwa H Askah Hasibuan terbukti secara sah dan meyakinkan menyetubuhi korban Rh yang masih anak-anak berusia 13 tahun hingga korban melahirkan seorang anak perempuan, setelah dinikahinya dengan “kawin gantung” tanggal 12 Januari 2008.
Majelis hakim sependapat dengan Jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut agar terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan JPU, melanggar pasal 81 ayat (2) UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dalam dakwaan kesatu subsider.

Majelis hakim dengan pertimbangan hukumnya, akhirnya memvonis terdakwa terbukti bersalah, menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa H Askah Hasibuan selama 7 tahun penjara, denda Rp60 juta subsider 4 bulan kurungan.
“Sudah berat itu. Kan hukuman dendanya maksimal,” kata Ketua majelis hakim Ellyta Ras Ginting SH LLM.
Putusan pidana majelis hakim tersebut dinilai jauh lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa yang menuntut majelis hakim mempidana terdakwa pengusaha panglong dan pemilik kebun sawit itu selama 10 tahun penjara, denda Rp60 juta subsider 4 bulan kurungan.

Atas putusan tersebut, JPU yang hadir di persidangan, Emmy F Manurung SH menyatakan pikir-pikir, demikian dengan terdakwa yang didampingi penasihat hukumnya Ani SH.
Dalam persidangan itu, saksi korban Rh menggendong puterinya hadir didampingi tim Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Medan. Korban hanya bisa menangis terisak-isak mendengar putusan majelis hakim.
“Saya kurang puas dengan hukuman dari hakim. Karena saya dan keluarga saya telah merasakan sakitnya selama ini,” ujar korban Rh menitikkan air matanya.
Rasa kecewa atas putusan majelis hakim juga diungkapkan pihak PKPA, Suryani Guntari SH, yang setiap persidangan hadir mendampingi korban Rh sejak kasus ini disidik Polres Labuhanbatu.

Dia menilai hukuman pidana yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terdakwa terlalu ringan, karena korban adalah anak yang harus dilindungi terdakwa dan yang lainnya.
Dalam tuntutan JPU Sri Lastuti, pada sidang sebelumnya, fakta-fakta terungkap di persidangan pemeriksaan saksi-saksi, keterangan terdakwa yang diperkuat barang bukti.

Saksi Misiah, ibu kandung korban Rh, yang bekerja pembantu rumah tangga di rumah terdakwa dan suaminya bekerja sebagai penjaga malam di gudang usaha panglong milik terdakwa sejak tahun 2004, didatangi isteri pertama terdakwa, Hj Asmidar Hasibuan pada 7 Januari 2008, meminta anaknya Rh dinikahkan dengan terdakwa suaminya.
Saksi semula tidak menyetujui permintaan isteri terdakwa karena puterinya masih kelas 1 MTs (SLTP). Akan tetapi, Hj Asmidar terus mendesak, akhirnya saksi menyetujui permintaan isteri terdakwa.
Acara “kawin gantung” terdakwa dan korban Rh dilaksanakan di Mesjid Al-Ikhlas 12 Januari 2008.

Setelah itu korban diberi uang Rp1 juta, dan disepakati tidak boleh melakukan hubungan suami isteri sampai korban tamat sekolah. Kesepakatan itu disetujui semua pihak yang hadir di Mesjid dan karena disepakati “kawin gantung” serta tidak disetubuhi sampai selesai sekolah, korban Rh menyetujui dinikahkan dengan terdakwa.
Saksi ibu korban juga menyebutkan, sebelum “kawin gantung”, terdakwa berjanji kepada korban memberi 1 buah rumah, 1 bidang lahan, dibelikan baju dan uang Rp7 juta serta akan dikuliahkan.

Namun, semua janji tersebut diingkari terdakwa, 2 hari setelah “kawin gantung”, korban Rh disetubuhi terdakwa di hadapan isteri pertamanya dan berlanjut hingga berkali-kali mengakibatkan korban Rh hamil dan melahirkan.
Korban mengakui bersama kedua orangtuanya tinggal di rumah buruh panglong milik terdakwa di Kampung Seberang Langga Payung, Kecamatan Sei Kanan, Kabupaten Labuhanbatu (sekarang Labuhanbatu Selatan), mau dinikahi “kawin gantung” oleh terdakwa karena kesepakatan tidak disetubuhi sebelum tamat sekolah dan akan dikuliahkan.
Semula korban menolak keras bujukan terdakwa dan isteri terdakwa, Hj Asmidar walau dengan iming-iming akan diberikan rumah, diberi lahan dan akan disekolahkan hingga kuliah, karena saat itu korban masih kelas 1 di Madrasah Tsanawiyah, namun karena Hj Asnidar mengatakan jika terdakwa menikah dengan orang lain, maka Hj Asmidar menganggap korban musuh.
JPU juga menghadirkan saksi Ismawati dan Sukimin (saksi kawin gantung), serta isteri terdakwa, Hj Asmidar Hasibuan, saksi ad charge Syaiful Bahri dan Mansyur Nasution serta 2 saksi ahli.
Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Dr Seto Mulyadi PSi MSi, dalam keetrangannya yang dikutip JPU, mengatakan anak adalah setiap orang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang dalam kandungan. Anak di bawah umur tidak dapat menikah secara sah, sesuai pasal 1 UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pernikahan anak di bawah umur belum boleh karena anak belum dapat menentukan sikap mengambil keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kak Seto berpendapat, perkawinan terdakwa dengan korban Rh agar terdakwa dapat melakukan hubungan intim bukan untuk membina rumah tangga yang baik.

Secara psikologi, anak berusia 13 tahun belum siap menjadi ibu untuk anaknya, bila terjadi kehamilan belum siap secara mental, dan secara medis dapat mengalami kanker.
Saksi ahli dr H Iman Helmi Effendi SpOG selaku dokter ahli kebidanan dan kandungan, di persidangan mengatakan anak berusia 13 tahun disetubuhi dan hamil akan mengakibatkan banyak masalah, anemia, bisa stres, depresi dan naluri ibu belum muncul walau sudah menggendong dan menyusui anak. (S25/m)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: