Budidaya Nenas Pane tak Semanis Rasanya

Bicara Labuhanbatu, tentu belum lengkap jika tak membahas Labuhan Bilik. Soalnya, sejarah daerah tersebut bermula dari muara pertemuan arus sungai Barumun dan DAS Bilah. Jika dikatakan kota Rantauprapat sebagai jantungnya Labuhanbatu, justru Labuhan Bilik adalah alat vital kelahiran Labuhanbatu. Dan, bicara Labuhan Bilik, maka tak lepas dari bahasan kian punahnya ikan spesifik yang ada disana. Ikan Terubuk. Serta, buah nenas yang tak lekang dengan nama daerah itu. Nenas Pane.

Diantara keduanya, memiliki persamaan yang erat. Selain berasal dari

satu wilayah, juga upaya untuk melestarikannya sama-sama terkesan

kurang menjadi perhatian khusus. Padahal, symbol dari kawasan tersebut

adalah keduanya.

Dan, tak lengkap rasanya pertanda pernah menginjakkan kaki dan bukti

usai berkunjung ke kota Labuhan Bilik sebagai ibukota kecamatan Panai

Tengah, Labuhanbatu bila belum mencicipi rasa buah nenas pane. Jika

ingin menuju ke kawasan itu, pendatang dapat menempuh dua jalur.

Yakni, via perairan dan via daratan. Semenjak dahulu, untuk dapat

mencapai kawasan tersebut, warga mesti menuju kawasan Tanjung Sarang

Elang, yang memiliki jarak tempuh sekira 80-an kilometer dari

Rantauprapat. Itu dapat dilakukan dengan menumpangi berbagai sarana

transportasi darat. Selanjutnya, mesti menyeberangi muara dengan

kenderaan air. Dengan sarana transportasi air, maka membutuhkan waktu

sekira 10 menit.

Tapi, setelah ditembusnya akses prasarana transportasi darat dari Kota

A Jamu, kecamatan Panai hulu, Labuhanbatu dengan pembangunan jembatan

Sei Rakyat, maka transposrtasi darat lebih mudah. Walau, infrastruktur

jalan daratnya masih terkesan jauh dari optimal. Sebab, puluhan

kilometer belum memperoleh pengerasan dan pengaspalan dengan hotmix.

Sehingga, ketika dimusim penghujan akan mengakibatkan badan jalan yang

labil dan lembek berlumpur. Sementara, ketika dimusim kemarau akan

dihiasi dengan debu-debu yang berterbangan.

Labuhan Bilik adalah wilayah yang ketika masa kolonial Belanda dahulu

sudah cukup terkenal. Itu terbukti dengan masih banyaknya keterdapatan

dan bertahannya berbagai bangunan tua zaman colonial Belanda. Meski,

terkesan tidak mendapatkan perawatan yang memadai.

Dan, karakteristik warga sekitar terkesan ramah tamah. Serta, tentu

saja dengan logat bahassa special daerah setempat yang dikenal dengan

bahasa Bilah/Pane.

Sabtu kemarin, penulis dan beberapa insan pers yang turut

dalam rombongan anggota Legislatif Labuhanbatu, melakukan kunjungan ke

daerah itu. Tujuan utama tentu saja ingin melihat dari dekat kondisi

warga setempat. Terlebih kondisi ekonomi para petani Nenas Pane

disana.

Ironis memang, pemberdayaan para petani nenas sangat minim. Padahal,

potensialitas buah tersebut sangat bagus untuk menembus pasar. Karena,

selain memiliki rasa yang gurih, nenas tersebut juga memiliki aoma

spesifik dan khas. Jangankan untuk mendapatkan kucuran bantuan

perrmodalan dalam pengelolaan areal perkebunan, bahkan peningkatan

sumber daya manusia (SDM) petaninya terkesan sangat minim dilakukan

pihak pemerintah setempat.

Filosofi Nenas

Tampilan buah tersebut sangat menarik. Memiliki mahkota yang tertata

rapi. Ya, Nanas adalah buah yang sangat filosofis. Sebab, memiliki

warna kekunjingan laksana emas. Dan, tentu saja itu melambangkan

keceriaan dan ekspresif. Sementara, daun mahkotanya yang hijau itu,

diyakini melambangkan hayat. Ya, warga setempat ada yang memiliki

pemahaman tentang itu. Filosofi itulah terkadang membuat buah tersebut

tak jarang menjadi lambang gelar demokrasi desa dalam pemilihan kepala

desa. Acapkali calon Kades memilih symbol nenas sebagai citra dirinya.

“Nenas adalah buah raja,” ujar seorang warga setempat ketika

disambangi Penulis. Sebab, kata dia, Nenas memiliki mahkota, layaknya

raja dan seorang Ratu. Selanjutnya, kata dia, keunikan buah nenas

dilihat dari tatanan dan teksturnya yang berduri, sebahagian kalangan

menilai melambangkan perlindungan dan sikap tidak bersahabat. “Daging

buah nanas juga melambangkan kekayaan jiwa,” ujarnya. Pastinya, kata

dia, rasa nanas melambangkan kekayaan jiwa itu punya sifat yang

beragam.

Juga, di berbagai tempat di belahan bumi negeri ini, bahkan ada yang

melambangkan buah tersebut memiliki pandagan yang khusus dalam menilai

buah itu. Bahkan, ada banyak tempat bisa ditemukan ornament bangunan

yang di design dengan mengambil sifat corak nenas. Seperti halnya,

rumah-rumah tradisioni Banjar. Warga disana memiliki kesan dan makna

yang dalam bagi arsitektur banjar. Diyakini, merupakan perlambangan

dan dianalogikan sebagai pembersihan dari kekotoran sifat-sifat buruk

seperti sombong, dengki, takabur, berprasangka buruk, dan semua sifat

jelek lainnya. Ornamen nanas yang ada di Rumah Banjar, atau bangunan

dengan arsitektur Banjar memiliki makna simbolik untuk mengundang

setiap orang datang bersilaturrahmi ke rumah tersebut. Dan, sebagai

lambing kebudayaan setempat.

Sementara, Nanas juga diakui merupakan buah yang terasa nikmat, dapat

diolah menjadi beragam makanan yang menyegarkan. Dapat tumbuh dimana

saja, tanpa memikirkan air yang cukup. Tak heran buah ini mudah

dijumpai diberbagai tempat. Selain itu, diakui buah nenas (pineapple)

memiliki khasiat dan mengandung vitamin B dan C. Nanas diakui dapat

mencegah terkena serangan jantung dan stroke / struk. Dapat mengobati

beragam penyakit dan gangguan kesehatan seperti, penyembuhan luka dan

menyembuhkan infeksi pada saluran pencernaan.

Petani Nenas Tersandung Pemasaran

Nenas Pane memiliki sejarah panjang tersendiri. Diakui warga, awal

kehadiran nenas jenis itu sudah berlangsung sejak tahun 1902 lalu.

Itu, ketika Alm Husein seorang perantauan dari kota Bogor datang ke

wilayah itu dengan membawa bibit buah nenas.

Syahdan, Alm Husein lah sebagai awal petani yang membudidayakan nenas

di daerah itu. Didukung tekstur tanah yang memiliki unsure hara jenis

gambut, pengembangan buah nenas kian berhasil. Dan, Desa Pasar III,

dengan memiliki 4 Dusun menjadi sentra budidaya buah nenas di Labuhan

bilik. Dahulu seluruh Desa tersebut menjadi lokasi penanaman nenas.

Tapi seiring perkembangan jaman. Ditimpali lagi kurang optimalnya pola

budidaya dan masuknya berbagai jenis komoditas pertanian dan

perkebunan, luasan lahan perkebunan nenas kian berkurang. Bahkan,

memasuki tahap mengkhawatirkan. Kini, wilayah budidaya buah tersebut

hanya terdapat di dua dusun. Yakni, dusun III dan IV, Desa Pasar Tiga

Labuhan Bilik.

Kurangnya perhatian pihak pemerintah kabupaten Labuhanbatu dituding

sebagai ‘bencana’ bagi petani. Apa lacur, pembinaan yang pernah

dilakukan terkesan hanya perrnah dilakukan sekira 25-an tahun silam.

Selebihnya, warga hanya melakukan eksperimen dan tata kelola tanah

sendiri dalam mempertahankan budidaya perkebunan nenas pane.

Selain terbentur ketersediaan bantuan-bantuan olah tanah dan

peningkatan wawasan SDM. Petani juga mengakui memiliki soalan mendasar

dalam menembus Pasar. “Kesulitan memasarkan kendala utama,” aku Jumono

(51) dan Mahfud (46) petani nenas setempat. Kata mereka, soal bantuan

pemerrintah hanya pernah diterima ketika dua decade lalu. “Pernah

menerima bantuan. Sekitar 25 tahun silam,” ujar mereka polos. Bantuan

tersebut, tambah Jumono berupa bantuan pupuk urea. Selebihnya, hingga

kini tidak ada lagi bentuk perhatian yang diberikan pemerintah. “Tak

pernah mendapatkan penambahan wawasan dan ilmu,” tegasnya. Padahal,,

aku mereka, petani juga merindukan pembinaan dari pihak penyuluh

pertanian lapangan (PPL) terrkait cara budidaya nenas yang baik.

Termasuk, dalam olah tanah yang bertekstur gambut. “Daerah sini

kawasan gambut. Tentu butuh cara tersendiri untuk melakukan budidaya

tanaman,” paparnya.

Dikatakannya, dalam mengatur tatacara dan jadwal penanaman dan

pemanenan, para petani hanya melakukan eksperimen-eksperimen

tersendiri. Dan, kisah yang tak dapat mereka lupakan ketika para

anak-anak setempat beberapa tahun lalu, ketika tanpa sengaja menyiram

sisa larutan bahan kimia karbet ke tanaman nenas. Tak lama, pohon

tersebut mengeluarkan buah. “Aneh. Pohon nenas lebih cepat berbuah,”

aku Jumono diamini Mahfud. Sejak itu, para petani jadi dapat lebih

mudah mengatur jadwal penanaman dan jadwal panen. “Biasanya pohon

nenas berbuah setahun sekali. Tapi dengan bantuan karbet dapat lebih

cepat, setidaknya 4 bulan sudah bias panen,” ulas mereka. Sehingga,

untuk luasan tanah dengan ukuran 20×20 meter dapat ditanami sebanyak

400 pohon. Dan, menghasilkan sekira 350 buah nenas. “Ukuran satu rante

tanah hasilnya sekitar 350 buah,” ujar Jumono. Sementara, katanya,

harga jual untuk buah yang benar-benar matang/masak ditolak dengan

harga jual Rp2000 perbuah. Dan, untuk harga yang masih setengah

matang/mentah dijual dengan harga Rp1000/buah.

Tumpang Sari Tanaman

Kondisi itu memang cukup memprihatinkan bagi kalangan petani nenas.

Khususnya, untuk perekonomian keluarga petani. Tapi, untuk

mempertahankan kawasan itu sebagai sentra penghasil nenas pane, petani

juga terpaksa mencari cara untuk terus membantu penghasilan keluarga.

Salahsatunya dengan pola tumpang sari tanaman. Berbagai jenis tanaman

pernah dicoba untuk penumpangsarian tanaman dengan nenas. Tapi, belum

diperoleh tanaman yang pasti. Sebab, salah-salah bahkan merusak untuk

tanaman nenas. Khususnya kehadiran komoditi tanaman Kelapa Sawit,

sangat mempengaruhi psikologi para petani. Secara ekonomi, komoditi

tanaman keras itu jelas merusak bagi tanaman nenas. Selain, penyebab

dampak negatif keringnya persediaan air yang dibutuhkan tanaman nenas

pane yang butuh kelembaban tanah, juga penghambat proses fotosintesis

kebutuhan penyerapan cahaya matahari. “Daunan pohon sawit menghambat

masuknya cahaya matahari,” imbuh Jumono. Dan, anehnya, tambah Mahfud

petani juga pernah uji coba tumpang sari penanaman buah kakao, juga

mengalami kegagalan. Karena, tanaman tersebut mengalami kematian.

“Pohon kakao jadi mati semua. Kami tak mengetahui penyebabnya. Mungkin

karena pengetahuan kami kurang untuk hal-hal seperti itu,” kata

mereka.

Mendapat Simpatik

Kalangan DPRD Labuhanbatu terkesan prihatin dengan penuturan para

petani nenas pane di kawasan itu. Bahkan, anggota Legislatif yang

dipimpin langsung Ketua DPRD setempat Hj Elya Rosa Siregar mengaku

prihatin. Dan, berjanji akan menampung aspirasi warga.

Pertemuan Sabtu (20/3), lalu, usai mengunjungi langsung kebun nenas

pane milik warga, pertemuan antara rombongan Legislatif digelar di

balai desa setempat. Hadir ketika itu, Sekcam Panai Tengah Agus Tiar,

Kades Pasar Tiga Salikin dan puluhan warga lainnya. Terungkap, sejak

puluhan tahun yang lalu perkebunan nenas milik warga tidak berkembang

dengan baik. Sebabnya, mereka tidak dapat memasarkan dengan

sendirinya. Sehingga untuk pemasaran terpaksa kepada penampung yang

harganya jauh lebih murah.

Untuk itu mereka berharap agar rombongan DPRD Kabupaten Labuhanbatu

dapat menerima aspirasi warga setempat. Disana juga mereka meminta

perhatian dari Pemkab Labuhanbatu dan DPRD untuk dapat merealisasikan

mesin pembuat sirup nenas. “Kami berharap agar DPRD dapat membantu

kami memberikan mesin pembuat sirup nenas, agar nenasnya dapat

dikelola langsung dan dijual dengan harga yang lebih tinggi, atau

tolong diberikan solusi bagaimana cara kami memasarkan nenas ini agar

budi daya nenas ini tidak punah sama sekali,” terang Kades Pasar Tiga

kala itu.

Lebih jauh diterangkan Salikin dan warga lainnya, dahulunya, nenas

yang berasal dari Labuhanbilik rasanya masih unggul bahkan pernah

merambah negara Tailand dan sampai ke Istana Kepresidenan saat

kepemimpinan Presiden RI Megawati Sukarno Putri. Namun lama-kelamaan,

akibat susahnya sistem pengangkutan untuk memasarkannya, petani disana

semakin sulit menjualnya dengan harga yang layak. Jika dikelola dengan

mesin pembuat keripik yang dibantu pemerintah tahun 2006 lalu, harga

jualnya tidak terjangkau pembeli kelas menengah kebawah. “Rasa nenas

daerah ini tidak kalah dengan daerah lain. Namun kami terbentur sistem

pemasaran,” ujarnya.

Di kawasan itu, kata dia, dari sekitar 483 kepala keluarga, sedikitnya

223 kepala keluarga merupakan petani nenas pane. Dengan luas lahan

nenas tinggal hanya sekira 200-an hektar. “Mereka (Petani nenas)

terpaksa membuat lahan tumpang sari,” ujarnya.

Katanya, untuk meningkatkan taraf ekonomi warga, pihak aparat desa dan

warga telah berulang kali melakukan rembug desa untuk mencari solusi.

Terlebih mempertahankan kebun sawit agar tidak dialihfungsikan menjadi

perkebunan komoditi lainnya. Dan, hasil didapat agar dicipta industry

kecil penghasil sirup berbahan dasar dan beresense buah nenas. Tapi,

aspirasi itu tak belum dapat terealisasi. Karena minimnya, pendanaan

pengadaan pelbagai peralatan produksi.

Bahkan, dalam beberapa kali Musrenbang antar Desa dan Kecamatan, hal

penyediaan mesin pembuat sirup telah diusulkan, tetapi tidak kunjung

berhasil. “Kami khawatir budidaya nenas ini akan hilang kemudian

hari,” paparnya.

PAdahal, warga desa memiliki wadah perkumpulan. Tapi, terkesan tidak

mendapat perhatian. “Apalagi kami disini punya koperasi tapi tidak

berfungsi. Kalaulah bisa kami berharap melalui koperasi dilakukan

pemasaran nenas ini, sekali lagi kami minta perhatian DPRD,” harap

Salikin dan diamini puluhan warga lainnya.

Ketua DPRD Labuhanbatu Hj Elya Rosa Siregar dan wakil rakyat lainnya

Ir David Siregar dari Fraksi Golkar, Lahmuddin Hasibuan Fraksi

Demokrat, Ponimin Fraksi PPP, Rudi Hartono Fraksi PBR dan Maya Sofa

Fraksi Golkar mengatakan akan memperjuangkan aspirasi warga terutama

kepada petani nenas yang saat ini kondisinya kurang beruntung.

Untuk itu mereka berharap agar warga setempat membuat surat atau

proposal tentang permohonan pengadaan mesin pembuat sirup.

Selanjutnya, kalangan legislative berjanji akan merealisasikan

perjuangan petani di tingkat birokrasi Pemkab Labuhanbatu.

Wakil rakyat tersebut yang mengaku turun kelokasi akibat mendengar

keluhan warga dari berbagai sumber juga menyarankan agar petani

mempertahankan luas areal tanaman nenas dan tidak lagi mengalihkan

dengan tanaman apapun. Terlebih, lokasi desa itu dinilai sangat

strategis untuk tempat pengembangan usaha demi meningkatkan

perekonomian ditengah masyarakat. Jika melihat kondisi Pemkab

Labuhanbatu, pengelolaan kebun nenas sudah tidak layak memakai cara

lama. “Kondisi ini pastinya menjadi beban bagi kami untuk melakukan

perubahan, terlebih kita mendengar besarnya biaya untuk pengembangan

berbagai potensi daerah,” jelas Lahmuddin kala itu. (fdh)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: