Menelisik Goa Tanggabatu

Tak sedikit orang yang tak mengenal dan pernah mengunjungi lokasi objek wisata Aek Buru di Kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu. Namun, tak banyak pula yang mengetahui di lokasi itu terdapat objek yang lebih unik, berupa goa. Bahkan, keterdapatan lobang di dinding bukit itu, berpotensi meninggalkan jejak sejarah yang ada. Tapi, terkesan terabaikan.

Bersama tiga orang rekan jurnalis lainnya, penulis memacu kecepatan kenderaan sepeda motor yang dikemudikan. Berjarak sekira sepuluh kilometer dari inti kota Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumatera Utara menuju arah ke kawasan Labuhanbatu Utara, Sumut akan ditemukan persimpangtigaan di jalan lintas sumater (jalinsum). Dari sini, akan ditemukan kawasan daerah tujuan wisata (DTW) yang sejak dulu dikenal dengan nama Aek Buru.

Dipersimpangan menuju perkebunan kelapa sawit milik keluarga besar pengusaha bermarga Pardede, di dusun II Desa Batu Tunggal, kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu, penulis dan rekan lainnya semula ingin melihat lebih dekat eksistensi aktivitas penambangan batu bukit. Di daerah itu, warga menyebutnya dengan istilah batu padas (batu cadas).

Jalan ke lokasi cukup memprihatinkan. Dengan kondisi tanpa pengerasan, fisik jalan disana hanya bertekstur tanah liat. Sehingga, dengan tingginya curah hujan di daerah itu beberapa waktu belakangan menyebabkan jalanan dipenuhi dengan kubangan. Serta, perlu ekstra hati-hati mengenderai sepedamotor menuruni jalanan menuju lokasi penambangan.

Dua sosok pria bertubuh kekar menyambut hangat kedatangan para jurnalis ke lokasi itu. Keramahtamahan karakter masyarakat setempat tersirat dari pola yang mereka lakukan terhadap para jurnalis selaku pendatang ke lokasi itu.

Thamrin (36) salahseorangnya. Si pemilik kawasan tambang batu bukit itu cukup memberikan informasi penting kepada para jurnalis dalam niat mengenal lebih jauh kegiatan yang telah dilakoninya sejak lima tahun terakhir.

Bahkan, melihat kehausan informasi yang ada di dalam diri para jurnalis, Thamrin mengajak penulis dan rekan lainnya untuk melihat lebih dekat keberadaan goa yang tak jauh dari lokasi penambangan batu miliknya. Sepintas tak ada yang unik dari sebuah lobang dinding bukit dengan diameter ketinggian sekira 2 meter dan lebar dua meter itu. Dari lobang itu, tak hentinya mengalir air dari celah batu bukit. Namun, ketika sudah memasuki di kedalaman sepuluh meter akan ditemui lorong panjang yang gelap.

Namun, terlepas dari suasana mistis yang ada. Penulis seakan terdorong keluar dari lorong tersebut dan seakan ada larangan untuk memasuki lebih dalam lorong itu. Bahkan, seorang rekan jurnalis lainnya yang lebih memiliki ketajaman mata batin sejak awal tidak memiliki niat memasuki lorong goa itu. Dampaknya, penulis dan beberapa rekan lainnya yang sempat masuk ke dalam goa, sontak mengalami rasa sakit dan pening di kepala.

Mendapatkan perasaan dan suasana hati seperti itu, rencana menelusuri lorong goa akhirnya dibatalkan. Dan, Thamrin mengusulkan kepada penulis dan rekan lainnya untuk menemui warga lainnya jika ingin mengetahui lebih jauh tentang keberadaan goa tersebut.

Rosul (45) warga Desa Batu Tunggal yang disarankan Thamrin untuk menjelaskan lebih jauh tentang goa itu, memang pria yang pernah memasuki goa tersebut. Ketika disambangi dikediamannya bersama beberapa warga desa lainnya menjelaskan tentang sosok goa itu. Rosul mengakui kalau bersama lima orang warga desa setempat pernah memasuki goa itu. Itu, ketika mencari seorang warga yang hilang dan tak pulang ke rumah selama lima hari. Mereka, aku Rosul menyusuri daerah-daerah yang diduga tempat potensial sosok warga yang hilang. Bahkan, sampai kedalam lorong goa. “Itu sekira 25 tahun silam,” paparnya.

Tapi, ketika menyusuri lorong-lorong goa itu justru tak menemukan warga yang hilang. Bahkan, sosok yang dicari setelah sedarkan diri kembali secara sendirinya kekediamannya tanpa kurang suatu apapun. “Dia hanya kesasar. Dan, setelah siuman dari pingsannya kembali ke rumah. Bahkan, keberadaannya saat itu di luar goa,” ungkapnya.

Rosul membeberkan, warga sekitar sudah lama mengetahui keberadaan goa itu. Tapi, tak banyak diantara mereka yang pernah memasukinya. “Lagian, untuk apa masuk ke dalam. Ga ada yang bisa diambil,” ujarnya.

Dia menambahkan, seseorang yang awalnya pernah memasuki goa itu adalah almarhum Haji Lobe. Ketika itu, Haji Lobe, kata Rosul keperogok sama komplotan pemberontak pemerintah di tahun 50-an. Karena merasa ketakutan Haji Lobe lari menyelamatkan diri. Sehingga, dalam pelariannya menemukan Lobang di dinding Goa. “Ya, cerita almarhum orangtua saya yang pertama menemukan Goa itu adalah Haji Lobe. Tapi sudah lama. Sekira tahun 50-an,” ungkapnya.

Dia menambahkan, menurut ceritanya, Haji Lobe masuk ke Goa itu dari pintu Goa sebelah sisi bukit Barisan lainnya. “Goa itu tembus ke dinding bukit lainnya. Jadi, goa itu bisa dijadikan jalan ke sebelah dinding lainnya,” ujarnya tanpa menjelaskan pintu goa tersebut.

Katanya, mereka ketika memasuki lobang goa itu sudah sampai di kedalam sekira 60-an meter. Di Dalam tambah dia, akan terdapat lorong sempit dan rendah. “Didalam ada dinding sempit. Sehingga untuk memasukinya posisi tubuh mesti miring. Selain itu, disisi lainnya juga tubuh mesti bungkuk karena rendahnya lobang goa,” paparnya.

Tapi, setelah melalui sisi dinding dimaksud, lanjut Rosul maka akan ditemui sebuah ruangan luas dengan diameter kelebaran 15 meter dan panjang 10 meter. “Didalam ada ruangan yang cukup luas,” ungkapnya.

Katanya lagi, dalam ruangan itu akan terdapat susunan batu alam sebanyak tujuh tingkat. Dan, mirip seperti tangga. Namun disisi atasnya, kata dia, terdapat batu yang datar dengan kelebaran sekira 4 meter. “Jadi, mirip altar,” tegasnya.

Selanjutnya, disisi lain terdapat tiga lorong yang diduga merupakan pintu menuju lorong lainnya. “Mungkin dari salahsatu pintu itulah dapat tembus ke dinding bukit lainnya,” imbuhnya.

Sayangnya, kata dia, mereka yang memasuki ruang goa itu tidak melihat secara rinci keterdapatan hal-hal lainnya. Sebab, ketika itu, penerangan yang mereka pergunakan kurang memadai untuk dapat melihat kesegala penjuru dinding Goa.

Namun, sepintas goa itu, katanya merupakan lobang dinding bukit yang sengaja dibuat oleh tangan manusia. Sebab, akunya, didalam goa tidak ada keterdapatan batu-batu goa yang berbentuk stalaktit dan stalakmit yang menggantung di atas goa. “Ga ada bebatuan seperti itu,” lanjutnya.

Dihuni Jin Berkepala Ular

Namun, warga setempat selain kurang berminat memasuki goa tanggabatu, juga disebabkan masih dipercayai dihuni oleh makhluk halus. Sebab, beberapa diantara warga memiliki pengalaman unik dengan goa itu. Sebab, sebelumnya, warga kerap sakit jika mendekati sisi lobang goa. Selain itu, beberapa diantaranya pernah menemukan penampakan makhluk aneh. Serta, beberapa warga juga pernah memimpikan sosok makhluk serupa. “Iya, aku pernah mimpi ketemu makhluk aneh dalam goa itu,” ujar Thamrin. Katanya, sosok tersebut bertubuh manusia dengan postur tubuh tinggi besar. Tapi, lanjutnya, sosok tersebut berkepala aneh. Seperti mirip kepala ular. Dalam mimpi tersebut, lanjutnya, sosok itu meminta sesuatu kepadanya. Tapi, dia menolak memberikannya. “Saya tidak bersedia memenuhi apa kemauannya,” katanya lagi.

Senada dengan Thamrin, Rosul juga mengatakan hal serupa. Beberapa warga pernah bertemu dengan sosok Jin penunggu Goa itu. Dan, tubuhnya mirip berkepala ular. “Saya dengar juga seperti itu,” katanya.

Butuhkan Perhatian Pemerintah

Terlepas dari cerita mistis yang ada. Dan, dibarengi pengalaman warga tentang goa itu, sebenarnya pihak pemerintah setempat laik untuk melestarikannya. Terlebih posisi Goa yang kini berdekatan dengan usaha penambangan batu bukit milik warga setempat. Hal itu berpotensi penyebab terjadinya kerusakan disertai potensi longsornya dinding bukit.

Bahkan, eksistensi Goa yang diduga merupakan buatan manusia itu, juga memiliki kemungkinan peninggalan-peninggalan sejarah yang terkandung didalamnya. Sehingga, dibutuhkan adanya penelitian terkait keberadaan goa tersebut untuk menambah khazanah dan ilmu sejarah tentang daerah setempat dalam mendukung kearifan budaya lokal. (fdh)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: