Potret Buram Kemiskinan di Labuhanbatu, Berlatar Mobil Mewah Pejabat

Kepemimpinan seorang Kepala Daerah dari profesi dokter, bukan berarti kemiskinan jauh dari sendi kehidupan masyarakatnya. Longoklah ke beberapa sudut pemukiman masyarakat miskin kota di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Kemirisan akan kemiskinan tentu akan terlihat kentara. Kemiskinan disana, kerap sebagai penyebab menurunnya kualitas kehidupan masyarakatnya. Lantas Visi yang dikultuskan tentang Labuhanbatu sejahtera masih pantas untuk diperdebatkan?


Gerimis sore itu, membasahi halaman rumah di jalan Pendidikan Kelurahan Perdamaian Rantau Selatan, Labuhanbatu. Rumah kediaman Oba Hariani (36) ini baru saja disambangi sejumlah staf PTPN3 kebun Rantauprapat.

Ketika itu, diketahui para staf perkebunan Negara tersebut membawa sejumlah bingkisan dalam bungkusan. Mungkin, itu sebagai bentuk kepedulian social sesame manusia. Sebab, dari beberapa material yang dibawa merupakan beberapa bahan pangan.

Tentu saja, diberikan kepada keluarga Oba Hariani untuk dapat menyambung kehidupannya bersama keluarganya. Oba Hariani, wanita setengah baya beranak 4 tersebut, terlihat terharu menerima ‘belai kepedulian’ itu. Tangannya kokoh memeluk kontak mie instan yang diserahkan. Tak jauh beda dengan erat rangkulannya ketika menggendong putri sulungnya, Ayu Lestari (1,4).

Nanar matanya seredup tatapannya akan masa depan, sesaat sirna. Sebab, para staf perkebunan yang hadir dengan bingkisan memberi kejelasan ketersediaan pangan untuk mereka. Meski hanya untuk beberapa hari kedepan.

Kedatangan para staf tersebut di latar belakangi oleh rasa kemanusiaan ketika mendengar kabar kalau Ibu empat anak ini terpaksa mengumpulkan bantuan dari para tetangganya ketika harus berjuang memperoleh kesehatan bagi Putri bungsunya yang menderita giji buruk.

Sebelumnya selama Sepuluh hari Ayu Lestari terpaksa menjalani perawatan medis di RSUD Rantauprapat. Parahnya perjuangan untuk menyambung nyawa Ayu tak dapat lagi mengandalkan kwalitas obat generik andalan pemerintah.

Karena paramedis merekomendasikan penggunaan obat bermerek yang lebih paten dibanding obat gratis yang disediakan pemerintah daerah setempat. Tentu saja obat non generic tersebut harus ditebus dengan biaya yang bagi Oba merupakan nilai yang tinggi untuk taraf ekonominya.

Tapi meski tak melulu bergantung pada belas kasih kegratisan pemerintah, Oba masih bisa mengandalkan tetangga dan kerabat disekitarnya yang masih mau membantu biaya perobatan Putri bungsunya tersebut. “Ya, untuk menebus obat-obatan itu harus meminjam uang sanak family dan tetangga. Saya tak punya uang untuk membelinya, syukurnya masih ada yang peduli dengan kemiskinan kami,” ucapnya ketika berbincang dengan beberapa jurnalis local setempat.

Sementara, selama setahun belakangan, dia harus banting tulang dalam membiayai perekonomian keluarganya. Sebab, selama itu pula Ibrahim (39) sang suami yang diharapkan sebagai tulangpunggung keluarga tak dapat diharapkan lagi. Itu, setelah sang suami mengalami penyakit yang dilematis.

Sang suami kini terbaring lunglai dan mengalami kelumpuhan. Mengurangi beban hidup Oba, pihak mertuanya, membawa sang suami untuk menjadi tanggung jawab keluarga besar sang suami. “Suami saya sakit. Lumpuh, jadi pihak keluarga membawanya,” ucapnya. Menafkahi keluarganya, Oba harus mampu merangkap dan berperan ganda sebagai kepala keluarga dan sang ibu untuk Aldiansyah putra (11), Sony Armando (9), Nurhidayah (4) dan Ayu Lestari (1,4). Oba, harus mampu membagi waktu untuk mencurahkan kasih sayang kepada ke empat anak buah hatinya tersebut.

Demi itu, dia pun menjadi binatu untuk memperoleh uang. Dia bersedia menjadi pencuci pakaian tetangganya. Tentu saja, upah yang diterima belum sepenuhnya dapat menafkahi keluarga. Sebab, pengganti tenaga yang dikeluarkannya hanya mendapat imbal sebesar Rp150 ribu sebulan. “Ya, mencuci pakaian satu keluarga tetangga hanya mendapat upah Rp150 ribu,” ungkapnya.

Minimnya penghasilan tersebut, dia juga mesti menyambi sebagai pemulung. Barang-barang bekas yang tidak dipergunakan oranglainpun menjadi rupiah baginya. Sebagai pemulung, mengumpul plastic, besi dan benda bekas lainnya, perminggu dia hanya bisa memperoleh uang sebesar Rp35ribu. “Paling dapat Rp35ribu perminggu,” katanya.

Miris memang, ketimpangan social menjadi potret buram di daerah itu. Bagaimana tidak, penanggulangan penderita gizi buruk kerap didegungkan. Namun, realitasnya tetap masih ada warga yang menjadi penderita.

Parahnya, dikondisi demikian para pejabatnya bahkan pemimpin di daerah itu justru mampu dan berbesar hati mempergunakan keuangan daerah yang diperoleh dari kutipan dan pajak daerah untuk membeli kenderaan dinas.

Lihatlah, di kondisi Labuhanbatu yang masih memiliki angka masyarakat miskin yang tinggi dan masih menyimpan penderita gizi buruk, Bupatinya justru berseliweran dengan mobil dinas yang bernilai Rp1,69 miliar. (fdh)

Satu Tanggapan

  1. ya Allah mudahkanlah segala urusan umatmu, Engkau tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambamu. berikanlah mereka ketabahan, amin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: