Pesisir Labuhanbatu Butuh Pengembangan

Terisolir. Minimnya kwalitas infrastruktur jalan darat menjadi dosa bersama terhadap penyebab lambannya geliat pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir Labuhanbatu, propinsi Sumatera Utara. Dan, seakan terpuruk laksana jalan di tempat. Masyarakat selalu mimpi tentang tersedianya jalan darat yang menjadi urat nadi penghubung mereka ke dunia luar. Dinantikan, perhatian pemerintah memberi secercah kepedulian pada kondisi masyarakat yang mendambakan pemerataan ‘kue pembangunan’ yang adil bagi pesisir pantai Labuhanbatu.

Jumat (22/7) pagi. Cuaca masih berkabut. Di komplek perkantoran perusahaan swasta dan pemerintahan serta halaman sekolah-sekolah, tampak para karyawan, PNS dan peserta didik tengah senam pagi. Gerakannya tak jauh beda dengan tarian kupu-kupu putih yang terbang menghinggapi kembang di taman dalam menyongsong pagi.

Di beberapa areal perkebunan karet dan kelapa sawit, para karyawan pemanen tandan buah segar (TBS) Kelapa sawit dan penderes getah, beraktivitas mengalahkan malasnya burung-burung balam dan merbuk yang masih menggelayut di temali kabel listrik.

Rute perjalanan pagi itu, adalah mengunjungi Desa Sei Siarti di kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu. Bersama seorang rekan jurnalis, dengan mengenderai sepedamotor, rencana awal ingin menyusuri dusun-dusun di wilayah itu. Khususnya, dusun Milano yang konon merupakan daerah terisolir di wilayah pesisir Labuhanbatu. Terlebih lagi, di daerah itu keterdapatan tonggak dan bangunan yang dahulunya berbentuk dermaga. Serta, alkisah asalmuasal adanya nama Pelabuhan Batu yang akhirnya dijadikan nama Kabupaten beribukotakan Rantauprapat.

Tak gampang menuju daerah itu. Badan jalan yang hanya mendapatkan pengerasan sekadarnya itu, membuktikan infrastruktur prasarana jalan darat disana dengan kondisi masih memprihatinkan. Terindikasi luput dari perhatian pemerintah setempat. Jalan darat penghubung antar wilayah di kecamatan itu sebagai urat nadi transportasi banyak belum tersentuh pembangunan.

Pun seberkah bukti menetesnya arus modernisasi adalah masuknya fasilitas penerangan listrik milik PLN. Namun, dikondisi tanah berstektur gambut, tiang-tiang listrik yang terpancang kebanyakan berdiri dengan kemiringan-kemiringan yang nyaris tumbang.

Di penghujung jalan itu setelah memasuki gerbang dan melalui pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan swasta PT Cisadane Sawit Raya (CSR), jalanan mentok di sebuah dermaga bernama Buluh Tolang. Perjalanan selanjutnya, mesti memanfaatkan fasilitas perahu bermotor milik warga setempat untuk menyeberani daerah aliran sungai (DAS) Barumun.

Namun, sesaat menunggu penumpang lain yang juga akan dihantar ke seberang, penulis bertemu dengan sesosok pria paruh baya. Perawakannya cukup berpendidikan dengan mengenakan pola pakaian tidak menyerupai warga setempat. Sembari menyeruput segelas the hangat yang dipesannya kepada pemilik warung, pria tersebut menyapa penulis dan rekan lainnya. Kontak komunikasi dilakukan. Setelah itu, pria yang kemudian diketahui bernama Sahat Simangunsong (48) merupakan seorang kepala sekolah di SD Swasta di wilayah itu.

Dia cukup faham kelelahan penulis dan rekan setelah melalui jalanan milik perkebunan tersebut. Sejauh takkurang dari 25 kilometer dengan kondisi jalanan yang hanya mendapat pengerasan ala kadarnya. Bahkan, dibeberapa titik kondisi memprihatinkan, memaksa shockbreaker sepedamotor mesti lebih berkontraksi. “Lumayan parah jalanannya, ya,” ucapnya memulai pembicaraan dengan penulis.

Katanya, kondisi itu, katanya jika musim kemarau akan dipenuhi debu yang berterbangan dan dimusim penghujan badan jalan dipenuhi lumpur. Memang, aku dia, dominant jalanan yang dilalui itu adalah milik perkebunan swasta. Dan, kondisi yang ada relative lama ditanggungkan warga.

Titik terparah lainnya, aku dia, adalah jalan yang menembus Desa Sei Siarti, Panai Tengah menuju Tanjung Medan, Kecamatan Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan. Meskipun diharap sebagai jalan pintas penghubung kecamatan Panai tengah dan sekitarnya ke Labusel, namun warga mesti ekstra hati-hati ketika melaluinya. Sebab, jalanan hanya ‘beraspalkan’ tanah liat putih. “Masih jalan perkampungan dan melalui areal perkebunan warga,” ucap Simangunsong .

Pembukaan dan peningkatan kualitas perkerasan badan jalan yang mampu menghubungkan antar wilayah di kawasan itu, sangat didambakan warga. Alasannya, akan mempermudah akses transportasi warga ketika mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. Sehingga, biaya yang dikeluarkan warga dapat ditekan seminimalnya.

Selama ini, kata dia, warga hanya dapat mengandalkan transportasi air. Dan tentu saja, dengan ongkos yang lumayan tinggi.

Menurutnya, ada beberapa lokasi yang ideal untuk dilakukan peningkatan kwalitas jalan darat di daerah itu. Dan, menjadi penghubung antar kabupaten. Sebab, menjadi jalan penghubung antara kabupaten Labuhanbatu ke Labuhanbatu Selatan. Dan, dari Labuhanbatu Utara menuju Kecamatan Bilah Hilir, di Labuhanbatu. “Ya, jalan-jalan tersebut mampu menghubungkan antar kabupaten. Sangat keharusan saatnya untuk meningkatkan mutu dan kwalitas badan jalannya,” ucap dia.

Di daerah Desa Sijawi-jawi, Bilah hilir menuju Kampung Mesjid, Labura, kawasan itu dahulunya merupakan sentra penghasil padi dan gabah varietas kuku Balam dan Ramos. Namun, berpuluh tahun masyarakat petani sawah disana kesulitan dalam membawa hasil pertaniannya. Sehingga, rentan menjadi ‘korban’ para tengkulak. Tentu saja, minimnya ketersediaan infrastruktur jalan darat, menyebabkan penjualan hasil petanian disana tidak tertata secara baik.

—————————–

Pembangunan Terpadu Kawasan Pantai

Potensialitas dan strategisnya daerah Labuhanbatu yang dijuluki daerah ‘pedro dollar’ ini, memiliki prospek pengembangan skala nasional di propinsi Sumut. Sebagai koridor jalan lintas timur (Jalintim).

Untuk mengakomodasi rencana pengembangan itu, dibutuhkan adanya persiapan wilayah dengan intensitas memadai dan ketersediaan fasilitas pendukung. Khususnya, sarana dan prasarana transportasi yang baik.

Sebenarnya, ketika Sumatera Utara dipimpin oleh alm Raja Inal Siregar dan Labuhanbatu ketika itu masih daulat dalam satu wilayah kabupaten (Pra pemekaran menjadi Labuhanbatu, Labusel dan Labura), dan Labuhanbatu masih dipimpin bupati HT Milwan, rencana investor luar negeri sempat dikabarkan ingin menanamkan modalnya ke Labuhanbatu, khususnya pesisir pantai setempat. Yakni, pembangunan kawasan Tanjung sarang Elang (TSE) di kecamatan Panai Tengah menjadi pelabuhan perdagangan (trade port).

Itu, disusul adanya penandatanganan memory of understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara Gubsu dan Bupati Labuhanbatu dengan para investor dari Malaysia. Masing-masing Executive Director SSC Comodities SD BHD Raja Abdul Razak bin Baharuddin dan Chairman Integrax Berhard, Harun Rosip. Itu, pada tahun 2004 lalu.

Digadang-gadang, para investor tersebut diberi kewenangan dengan memberi keizinan melakukan study kelayakan membuat rencana pembangunan pelabuhan yang kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dalam pengelolaannya.

Terlepas dari tidak terdengarnya kembali lanjutan pembangunan pelabuhan itu, namun kawasan pesisir pantai Labuhanbatu yang sebelumnya samasekali tidak menerima pemerataan pembangunan, kondisinya sedkit berubah. Tercatat, ditahun itu, terjadi upaya peningkatan pembangunan infrastruktur prasarana jalan darat, walau belum maksimal.

Sebagai sarana dan fasilitas pendukung rencana pembangunan kawasan pesisir Labuhanbatu secara terpadu, direncanakan pembangunan infrastruktur jalan darat yang memadai dengan upaya pengaspalan jalan hotmix di lima kecamatan. Masing-masing dari Desa Sei Siarti kecamatan Panai tengah, tembus ke kecamatan Tanjung Medan, Labuhanbatu Selatan. Jalan Sei Pinang kecamatan Panai Tengah menuju Desa Asam Jawa, kecamatan Torgamba, Labusel dan Desa Perkebunan HSJ di kecamatan Bilah Hilir menuju Desa Kampung Mesjid, kecamatan Kualuh Hilir, Labuhanbatu Utara.

Sepantasnyalah, wacana rencana peningkatan mutu jalan itu kembali dibahas dan digagas untuk direalisasikan. Tujuan utamanya, untuk membuka daerah-daerah yang selama ini terisolasi. Sinergi dan kebersamaan ketiga pimpinan daerah disana (Labuhanbatu, Labura dan Labusel) sudah saatnya dinanti.

Komitmen bersama untuk mensejahterakan masyarakat, tidak hanya mimpi bagi warga yang terbelakang di daerah tersebut. Dan, sebagai jawaban sisi positif pemekaran Labuhanbatu yang dahulunya diharapkan mampu memeratakan pelayanan public dan pemerataan pembangunan.

—————–
Bilah Hilir, Butuhkan Pembukaan Kota Satelit

Pengembangan kecamatan Bilah Hilir, Labuhanbatu membutuhkan pembukaan akses kawasan baru. Bahkan idealnya, dengan membangun jalan-jalan yang mampu menembus dan mengatasi daerah terisolir di daerah itu.

“Ya, salahsatu solusi dengan membuka akses kawasan baru,” ujar Jumirin, warga Bilah Hilir Jumat kemarin.

Ditambahkannya, hal itu dapat dilakukan dengan membuka akses jalan baru di kawasan itu. Yakni, mulai dari Simpang PT Bilah menuju PT Daya Labuhan Indah (DLI) Wonosari. Selanjutnya tembus ke kawasan PT Cisadane Sawit Raya (CSR) menuju kawasan PTPN4 A Jamu. Dan, akses jalan menuju Sei Rakyat yang mampu menghubungkan ke Kecamatan Panai Tengah, Labuhan Bilik hingga ke Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Jika itu dapat terealisasi, kata Jumirin, maka akan tercipta minimal 3 kota Satelit. Tentu saja, akunya selain kian mengembangkan wilayah pedalaman di kecamatan itu, juga semakin mempermudah akses transportasi dari dan ke Negeri Lama sebagai ibukota kecamatan Bilah Hilir. “Bahkan, dapat menjadi akses jalan menuju Kabupaten Labusel,” paparnya.

Konseptual untuk itu, tambahnya dapat dilakukan dengan perencanaan yang matang. Diantaranya, dengan pola jangka menengah, yakni dalam 10 tahun ke depan guna pelepasan dan upaya ganti rugi lahan-lahan masyarakat dan perkebunan yang terkena proyek tersebut. Selanjutnya, jangka panjangnya membangun dan meningkatkan mutu infrastruktur jalan darat di kawasan itu. “Ya, jangka menengahnya 10 tahun kedepan mesti upaya pembebasan lahan,” imbuhnya.

Ditambahkannya, dinamika ditengah masyarakat setempat kian berwarna pasca beredarnya rencana pemekaran wilayah Kabupaten Labuhanbatu menjadi 2 wilayah. Diantaranya, meningkatkan status Labuhanbatu menjadi Kotamadya. Sementara, untuk pesisir yakni, di 3 kecamatan Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah dan Panai Hilir menjadi kabupaten Labuhanbatu. “Opini itu menjadi wacana ditengah masyarakat,” paparnya.

Sesuai wacana yang berkembang, rencana pemekaran wilayah, khususnya menjadikan wilayah pesisir sebagai Kabupaten Labuhanbatu dengan rencana menjadikan Negeri Lama sebagai Ibukota Labuhanbatu. Memang, menurut sejarah berdirinya kabupaten Labuhanbatu, asal kata daerah itu sendiri berawal dari adanya Pelabuhan Batu di kawasan Panai Tengah. Dokumentasi daerah yang ada menyatakan itu berasal dari adanya tempat penyandaran kapal-kapal yang berlabuh ketika itu. Dan, sejak itu Pelabuhan Batu lebih akrab disebut sebagai Labuhanbatu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: