DAS Bilah, Nasibmu Kini (Lingkungan Hidup Digerus Modernisasi)

Modernisasi memaksa terjadinya perusakan lingkungan dan eksploitasi kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang berlebihan. Misalnya saja, DAS Bilah di kabupaten Labuhanbatu, propinsi Sumatera Utara menjadi sasaran perusakan lingkungan hidup. Baik dengan aktivitas penambangan material pasir dan bebatuan, juga diduga sebagai pembuangan limbah rumah tangga dan industrial. Dibutuhkan kepedulian bersama untuk melestarikan kawasan dan bantaran sungai Bilah yang semakin memperihatinkan. Serta, penerapan sanksi berlaku terhadap pihak yang melakukan perusakan lingkungan hidup.

Bila dikatakan kota Rantauprapat sebagai jantungnya kabupaten Labuhanbatu. Maka, tak salahkiranya jika daerah aliran sungai (DAS) Bilah disebut sebagai ‘hatinya’ daerah itu. Sebab, selain masih dijadikan sebagai prasarana transportasi air guna mengangkut warga dan berbagai material hasil pertanian dan perkebunan dan berfungsi sebagai sumber kebutuhan air keseharian bagi warga kota Rantauprapat (terlepas baik tidaknya mutu produksi air bersih) oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bina Rantauprapat, sungai Bilah yang memanjang dari hulu hingga ke hilir, membelah wilayah Rantauprapat juga sebagai sumber mata pencaharian masyarakat yang berfungsi vital bagi masyarakat nelayan tradisional dalam usaha penangkapan ikan.

DAS Bilah juga sumber eksploitasi sumber daya alam (SDA) galian C untuk bahan tambang pasir dan bebatuan. Namun, seiring kemajuan daerah dan laju pembangunan juga memiliki konsekwensi logis. Kondisi DAS Bilah, kian memprihatinkan. Apa lacur, modernisasi membawa dampak perubahan terstruktur terhadap DAS Bilah dan lingkungannya.

Selasa 26 Juli 2011 petang, penulis dan seorang rekan jurnalis ikut bersama rombongan staf Badan Pengendalian dampak Lingungan hidup Daerah (Bapedalda) Labuhanbatu. Perjalanan kali ini berniat menengok langsung kondisi kekinian yang terjadi di sepanjang DAS Bilah. Rute yang dilalui menyusuri Hulu sungai itu. Menggunakan perahu kayu bermotor sewaan milik warga setempat, perahu seakan menari diriak gelombang air. Meski mengalami penyusutan debit yang relative besar dampak kemarau yang melanda daerah itu, perahu yang dinakhodai Hasan perlahan menghantar rombongan menuju hulu sungai.

Panorama alam kawasan itu memang memiliki cerita tersendiri oleh warga dibantaran sungai. Berbagai titik memiliki kisah. Seperti halnya, pada lubuk Kura-kura. Disebut demikian karma keterdapatan batu berukuran relative besar dengan bentuk menyerupai hewan amphibi bercangkang tersebut. Namun, memasuki lokasi Batu Kodok (juga bebatuan berbentuk kodok kembar) kondisi air sudah mengalami perubahan. Terkesan berminyak dan keruh kecoklatan.

Tak jauh di hulunya, keterdapatan lokasi penambangan galian C. Kondisi ke hulu terus mengalami hal serupa seiring kian banyaknya ditemui lokasi-lokasi penambangan pasir dan kerikil yang ada. Baik ketika mendapati lokasi Batu Melintang yang konon disebut warga merupakan mitos perahu besar yang menjadi batu.

Takkurang dari enam titik yang menjadi lokasi perusahaan penambangan Galian C di DAS Bilah. Serta, masyarakat yang berprofesi sebagai penambang kerikil di DAS itu sebagai pemasok material bahan bangunan untuk Labuhanbatu, Labura dan Labusel. Bahkan, dikabarkan material endapan dasar di DAS Bilah itu juga dikirim hingga ke Propinsi Riau.

Memang, jika ditilik fungsi aktivitas perusahaan-perusahaan Galian C nya sebagai penyuplai material bahan bangunan, tentu tidak ada salahnya. Tapi, melihat secara dekat kondisi DAS Bilah yang terjadi dampak bisnis ‘penggeseran bumi’ itu, tentu kontras terlihat. Berbagai penilaian akan berseliweran dalam syaraf menyaksikan fenomena yang terjadi. Pengerukan dan Pengecilan badan sungai sangat mengkhawatirkan.

Di tiap-tiap lokasi penambangan galian C terlihat mempergunakan mesin pengeruk tanah becho, masing-masing sedikitnya dua unit. Beratus bahkan ribuan meter kubik material pasar dan kerikil didaratkan perharinya dari DAS Bilah.

Uniknya dan ironis, alat berat itu dipaksa untuk melakukan pengerukan, sembari pembendungan arus sungai. Bahkan, bendungan bukan hanya di bantaran sungai. Tapi, hingga ke tengah DAS. Pengerukan yang dilakukan tentu saja memiliki dampak terhadap ekosistem dan khususnya biota air. Juga, selain mengancam kelestarian lingkungan hidup, aktivitas tersebut juga berkonsekwensi terhadap tidak terkontrolnya lagi arus dan kedalaman air. Tentu saja, dibeberapa titik terjadi pendalaman namun di lokasi lain terjadi pendangkalan. Ini tentu menyulitkan bagi para warga yang masih melakukan perjalanan dengan menggunakan transportasi air. Misalnya saja, penulis dan rombongan. Kondisi kekinian yang terjadi, terkesan menyebabkan hilangnya kendali navigasi yang dimiliki nakhoda perahu.

Hasan, nakhoda perahu itu, kerap memerintahkan dua orang ABK nya untuk terjun ke arus sungai guna membantu mendorong perahu yang terjebak. Baling-baling motor perahu tersebut kandas dibebatuan. Dan tentu saja, mengakibatkan laju perahu menjadi tersendat.

Pemikiran dan kontribusi kepedulian saatnya diharap untuk melakukan analisa dampak lingkungan yang kini terjadi di DAS Bilah. Baik dalam hal mengantisipasi efek negative yang terjadi dampak kegiatan dan aktivitas perusahaan penambang Galian C, serta buangan limbah rumah tangga dan industri.

Limbah Cemari DAS Bilah

Perjalanan menyusuri hulu DAS Bilah memakan waktu takkurang dari 3 jam. Sesampai di kawasan Bukit Tanjung Medan, rombongan memilih merapatkan perahu bermotor ke tepian sungai. Para ABK menambatkan perahu dengan mengikat simpul tali ke akar sebatang pepohonan, agar perahu tidak hanyut terseret air.

Mendapati anak sungai yang mengalirkan air berwarna kecoklatan dan berbeda dengan air yang ada pada anak-anak sungai lainnya, serta beraroma yang tajam, rombongan menyusuri anak sungai dibalik semak belukar tersebut.

Takkurang dari seratus meter rombongan bertemu dengan salahseorang warga sekitar. Sebut saja, Rahmad. Dia menyambut kedatangan rombongan dan mengetahui betul tujuan para staf yang berpakaian resmi PNS dari Bapedalda.

Tentu saja, banyak informasi penting didapat darinya. Bahkan, kata dia, yang kerap dilakukan untuk jadwal pembuangan limbah adalah sekira jam 19.00 wib hingga ke jam 03.00 dini hari. Alasannya, itu waktu yang tidak terpantau. “Selambatnya mesti hingga jam 3. Sebab, pagi hari sekitar jam 07.00 wib mesin penyedot air milik PDAM Tirta Bina di Hilir Sungai Bilah akan dioperasikan. Jadi, pembuangan limbah mesti dihentikan 4 jam sebelum mesin itu dinyalakan,” ucapnya.

Dia menyebutkan, dari anak sungai tersebut kerap mengalir air kecoklatan dan kala waktu tertentu berwarna kehitaman dengan aroma yang menyegat. Diduga, cairan tersebut merupakan limbah cair dari salahsatu industri pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) PT S yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi itu. Dicurigai, alur aliran air anak sungai itu itu merupakan saluran pembuangan limbah cair pabrik.

Kian penasaran, rombongan terus menyusuri hulu anak sungai itu. Mencapai jarak 300 meter ke dalam areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan PT S, rombongan juga menemukan pipa berdiameter 10 centimeter yang mengalami kebocoran dengan mengeluarkan cairan kepekatan. Diduga pipa tersebut, merupakan instalasi pembuangan limbah (IPAL) milik perusahaan itu.

Masuknya rombongan ke wilayah itu, ternyata terdeteksi oleh pihak manajemen perusahaan. Sebuah mobil berpenumpang empat orang membawa staf perusahaan. Seorang diantaranya, Sugianto yang kemudian diketahui sebagai Humas perusahaan PT S.

Bersama mereka, rombongan lalu dibawa melihat kondisi yang ada. Menyusuri lokasi-lokasi IPAL milik perusahaan itu yang berada dibalik bebukitan. Didalam empat kolam/ bak penampungan yang relative berukuran besar, Sugianto menyebut dan menyangkal perusahaan itu tidak pernah melakukan pembuangan limbah ke luar lingkungan dan areal perkebunan. Konon halnya, ke DAS Bilah.

Kabar tak enak yang sering menyebutkan perusahaan itu mengalami kebocoran IPAL dan mencemari lingkungan sekitar, terlebih lagi mencemari perairan DAS Bilah, ternyata mendapat respon dari Pemerintahan setempat. Pemkab Labuhanbatu dikabarkan akan memberikan sanksi tegas kepada perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT S bila terbukti membuang limbah cair ke sungai Bilah. Pasalnya, akibat limbah tersebut bisa berdampak buruk terhadap lingkungan hidup yang ada.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Labuhanbatu Romiduk Sitompul mengatakan, terkait dengan temuan DPRD PKS PT S yang ditengarai membuang limbah cair ke Sungai Bilah Rantauprapat, pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi. “Kalau memang perusahaan itu membuang limbah ke sungai, kita akan melakukan teguran peringatan pertama untuk diperbaiki kebocoran yang terjadi. Lalu teguran kedua II dan ke III dank e IV. Kalau teguran ini tidak diindahkan sampai teguran ke IV maka persoalan ini akan diajukan ke penyidik kepolisian,” kata Romiduk.

Menurutnya, perusahaan yang tidak mengindahkan peringatan pemerintah daerah sampai teguran ke IV, maka teguran I hingga ke III akan menjadi bukti-bukti bagi penyidik kepolisian untuk melanjutkan sanksi pemidanaan. “Dan ini berat ancamannya. Memang ancaman sampai proses ini belum pernah terjadi. Maunya saya sih, sampai ke proses sanksi pemidanaan. Kalau misalnya sanksi peringatan pertama itu sungai tercemar yang mengakibatkan ikan mati, padi masyarakat juga mati maka harus direhabilitasi semua kerusakan yang terjadi,” bebernya.

Selain penerapan sanksi dari pemerintah, juga ada kententuan dari badan yang memantau produk Pabrik Minyak Sawit yakni, RSPO dan ISO14000. Perusahan PKS harus dapat memenuhi Prinsip dan Kriteria yang ditetapkan RSPO untuk produksi minyak sawit termasuk masalah penanganan limbah PKS. “Ketentuan. RSPO ISO 14000 inilah kesepakatan dan syarat dalam pengelolaan PKS yang harus bisa menjamin lingkungan tidak rusak tapi harus berkesinambungan dan lestari. Kalau perusahaan PKS tidak mengindahkan RSPO, minyak sawit yang dihasilkan PKS tidak laku dijual dipasar eropah,” tutur Romiduk.

Dia mengatakan, limbah PKS PT S yang memakai proses land aflication sering terindikasi limbahnya bocor hingga meluber sampai ke arus Sungai Bilah Rantauprapat. Pasalanya, ada kemungkinan limbah yang bocor itu digunakan sebagai pupuk untuk lahan sawit yang ada disekitar pabrik. “Yang menjadi masalah sekarang, limbah yang mungkin dijadikan sebagai pupuk itu sampai ke sungai,” ujarnya.

Sementara ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu Dahlan Bukhori mengatakan, pihaknya telah membuat surat pemanggilan terhadap pimpinan perusahaan PKS PT Siringo-ringo untuk mempertanyakan persoalan limbah yang bocor sampai ke Sungai Bilah. “Surat pemanggilan kepada Pimpinan PT S sudah siap kita buat, tinggal mengirimkannya saja. Mungkin beberapa hari ini akan kita adakan pertemuan, tapi karena sekarang lagi membahas LKPJ belum bisa sekarang,” tandasnya.

Sekedar diketahui, Sejumlah anggota DPRD Labuhanbatu memergoki Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT S mengalirkan limbah cair yang bermuara ke Sungai Bilah Rantauprapat, Jumat (23/7) lalu. Dewan pun mendesak pihak berkompeten segera memberi sanksi tegas.Anggota Komisi D DPRD Labuhanbatu Ahmad Jaiz Rambe mengatakan, dia bersama rekannya menemukan pembuangan limbah cair yang dilakukan pihak perusahaan PKS PT S sampai alurnya ke Sungai Bilah Rantauprapat.

Satu Tanggapan

  1. info nya menarik..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: